Rabu, 11 September 2013

Dialektika Cahaya: Mengapa Suhrawardi dan Al-Ghazali Lebih Memilih Plotinus ketimbang Aristoteles?


Dialektika Cahaya: Mengapa Suhrawardi dan Al-Ghazali Lebih Memilih Plotinus ketimbang Aristoteles?

Oleh : Muamar Anis




​I. Gugatan terhadap Dinginnya Logika Aristoteles

Selama berabad-abad, dunia intelektual Islam seolah dipaksa tunduk pada dominasi Aristoteles—Sang Guru Pertama yang membedah segalanya dengan pisau logika yang dingin. Namun, bagi para pencari Tuhan seperti Suhrawardi dan Al-Ghazali, Aristoteles hanyalah seorang teknisi. Ia bisa menjelaskan tentang air, tapi ia tak pernah bisa memuaskan dahaga.

​Logika Aristoteles terlalu "materi", terlalu kaku dalam kategori-kategori yang justru seringkali membatasi ke-Maha-Tidakterbatasan Tuhan. Di sinilah letak kegelisahan itu bermula: Masakan Tuhan yang Maha Cahaya hendak dikurung dalam kurungan logika yang sempit?

​II. Plotinus: Sang Jembatan Alexandria

Ketika pintu Aristoteles terasa buntu, para mistikus ini menemukan "pintu rahasia" dalam pemikiran Plotinus. Meskipun sering disalahpahami sebagai bagian dari Aristoteles, Plotinus menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal: Emanasi.

​Bagi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan yang terpisah dari Tuhan, melainkan pancaran (Emanasi) dari The One (Yang Esa). Konsep inilah yang kemudian menjadi "bahan bakar" bagi Suhrawardi untuk membangun menara Hikmat al-Isyraq (Filsafat Cahaya). Plotinus tidak hanya berpikir, ia mengajak pembacanya untuk "kembali" ke sumber cahaya itu.

Kalau mau bedah data dan sanad-nya secara akademik, mampir ke sini..."



​III. Dari Isyraqiyyah hingga Misykat al-Anwar

Suhrawardi memungut benih cahaya Plotinus dan menanamnya di tanah Persia, melahirkan konsep Nur al-Anwar. Begitu pula Al-Ghazali, yang meski pernah menyerang para filsuf, Dalam kitab al-Tahafut al-Falasifah, Imam Ghazali merinci dua puluh permasalahan filsafat yang bertolak dengan hukum agama. Sebelum mengarang Tahafut, Beliau menyusun karya mengenai tujuan dan kaidah-kaidah dalam dunia filsafat, tertuang dalam kitab Maqashid al-Falasifah yang merupakan pijakan pertama.

bisa dibilang dua puluh tema dalam filsafat sasaran kritik Imam Ghazali. ini hanya menyangkut konsep penciptaan alam, mengenai wujud Tuhan, serta masalah akhirat. Imam Ghazali memandang filsafat terbagi menjadi enam: ilmu matematika, logika, ilmu alam (fisika), teologi (metafisika), politik (termasuk ekonomi), dan etika.

Serangan Imam Ghazali terhadap filsafat bukan pada filsafat secara umum, tetapi pada dua cabang, yakni teologi dan pada sebagian ilmu alam, terutama yang menyatakan "keabadian alam".

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Imam Ghazali tidak menyerang filsafat secara keseluruhan adalah dengan adanya pengambil alihan struktur manusia menurut para filsuf seperti Aris Toteles, Galen, termasuk Ibn Sina yang dipakai oleh Imam Ghazali sebagaimana ada dalam kitab Ma'arij al-Quds.

Dalam menggambarkan struktur manusia, Imam Ghazali membagi jiwa ke dalam tiga kategori, yakni jiwa vegetasi (al-nafs al-nabatiyyah), jiwa sensitif (al-nafs al-hayawaniyyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyyah).

bahkan cara pandang dari filsafat Hermes dan Neo-Platonisme imam al-Ghazali memiliki hal yang unik terhadap ajaran Islam, terutama ajaran yang berkenaan dengan aspek esoterik, maupun sisi batin agama. menggunakan kerangka pandang Hermes dalam menjelaskan hierarki wujud ataupun kosmos. Seperti dalam karyanya Ma’arij al-Quds fi Madarij an-Nafs. nyatanya tetap "berpesta" dengan konsep cahaya Plotinus dalam kitabnya Misykat al-Anwar.

​Bagi mereka, Plotinus memberikan bahasa yang pas untuk menjelaskan pengalaman spiritual yang tak terkatakan. Jika Aristoteles berbicara tentang 'apa itu benda', maka Plotinus berbicara tentang 'bagaimana menyatu dengan Cahaya'.

​IV. Penutup: Sang Wali dari Alexandria


Pada akhirnya, sejarah mungkin mencatat mereka sebagai filsuf. Namun bagi kita yang membaca dengan mata batin, ada getaran yang berbeda.

​Jika ada yang mengatakan bahwa Socrates adalah seorang Nabi yang membawa risalah akal, maka ada kemungkinan besar bahwa Plotinus adalah seorang Wali yang membawa kunci menuju Cahaya. Ia bukan sekadar pemikir; ia adalah pejalan sunyi yang mabuk dalam hadirat Yang Satu. Dan dalam jejak langkahnya, Suhrawardi dan Al-Ghazali menemukan jalan pulang.( Muamar Anis) )



​Referensi Pendukung


​Ma’arij al-Quds fi Madarij Ma’rifat al-Nafs atribut ke Al-Ghazali (meskipun ada perdebatan akademik,

​Misykat al-Anwar (The Niche of Lights) karya Al-Ghazali.
​Penelitian Seyyed Hossein Nasr dalam Three Muslim Sages.

​Konsep "The Golden Chain" dalam filsafat perenial
.
 






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

ISLAM DAN DAMPAK KEHADIRANNYA DI NUSANTARA

DARIMANA ISLAM DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMANYA?  Oleh:Muamar Anis Agama Islam telah hadir di Nusantara selambat-lambatnya pada abad ke-8 ...