Tampilkan postingan dengan label Jalaluddin Rumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jalaluddin Rumi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Januari 2015

CITRA NABI MUHAMMAD DALAM PUISI NA'TIYA



CITRA NABI MUHAMMAD S.A.W.
DALAM PUISI NA`TIYA

Oleh:Muamar Anis


Dalam tradisi sastra Islam terdapat jenis sastra yang memaparkan kehidupan, perjuangan dan kemuliaan pribadi Nabi Muhammad s.a.w.Jenis sastra yang dimaksud ditulis dalam bentuk prosa maupun puisi,dan dapat dijumpai dalam kesusastraan Arab,Persia,Turki,Urdu,Sindi,Bengali,Melayu,Pasthun, Swahili dan lain sebagainya. Yang sangat digemari ialah yang ditulis dalam bentuk puisi,disebut al-mada`ih al-nabawiyadalam sastra Arab dan puisi na`tiya dalam bahasa Persia.Perkataan na`tiya berasal darina`t yang artinya pujian, khususnya pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w.

Tasbih.Muamaranis. Jpg

 
Puisi na`tiya sebenarnya telah muncul pada zaman Rasulullah, namun baru benar-benar berkembang pesat pada abad ke-12 dan 13 bersamaan dengan berkembangnya kesusastraan sufi dan tariqat-tariqat sufi, yang lazim menyebarkan agama Islam di kalangan penduduk Afrika, Asia Tengah, India dan Nusantara melalui pembacaan riwayat hidup Nabi Muhammad dan sajak-sajak pujian kepada beliau. Salah faktor keberhasilan dakwah Islam pada abad ke-14 dan 15 M di India dan Nusantara, yang penduduknya ketika itu sebagian besar beragama Hindu dan Buddha, atau penganut syamanisme, paganisme, totemisme dan animisme ketika itu, ialah karena digunakaannya pembacaan riwayat hidup Nabi dan puisi-puisi na`tiya sebagai media penyebaran agama. Ini dikemukakan antara lain oleh seorang sejarawan Muslim abad ke-15, Zainuddin al-Ma`bari dalam kitabnya Tuhfat al-Mujahidin.
 
Di antara puisi na`tiya yang sangat popular di kalangan masyarakat Muslim Asia pada abad ke-14 dan 15 M ialah Qasidah al-Burdah karangan Syekh al-Busiri (abad ke-13) dan Syaraful Anam. Keduanya ditulis dalam bahasa Arab. Puisi na`tiya dalam bahasa Persia yang popular pada abad-abad awal berkembangnya agama Islam di Nusantara itu antara lain ialah sajak-sajak karangan Fariduddin al-`Attar, Nizami al-Ganjawi dan Jalaluddin al-Rumi. Puisi-puisi tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu pada akhir abad ke-15.
 
Pada abad ke-16 tradisi penulisan puisi na`tiya dalam sastra Melayu mengalami perkembangan pesat dengan muncul seorang penyair sufi terkemuka dari Barus, Hamzah Fansuri. Pada zaman ini pulalah hampir seluruh hikayat berkenaan kehidupan Nabi Muhammad telah ditulis dalam bahasa Melayu, seperti misalnya Hikayat Kejadian Nur Muhammad, Hikayat Nabi Lahir, Hikayat Khatim al-NabiHikayat Bulan Berbelah, Hikayat Nabi Bercukur, Hikayat Nabi Mi`raj, Hikayat Iblis dan Nabi, Hikayat Nabi Muhammad, Hikayat Raja Khandak, Hikayat Raja Lahad (Perang Uhud), Hikayat Nabi Wafat, Hikayat Nabi Mengajar Anaknya Fatimah,Hikayat Nabi Mengajar `Aisyah, Hikayat Fartana Islamdan lain sebagainya. Hikayat-hikayat ini ditulis berdasarkan sumber-sumber sastra Arab dan Persia seperti kitab Umdat al-Ansab (Arab) dan Rawdah al-Ahbah, Hazar Mazar, Wafat Namah dan Tarjumah Mawlid al-Mustafa (Persia).

Sumber lain yang digunakan untuk penulisannya ialah Sirah Nabi Muhammad karangan Ibn `Ishaq, hadis-hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, Tirmidhi, Muslim dan al-Nasa`i. Penulis-penulis Arab lain yang karangan-karangan mereka dijadikan sumber ialah Bayazid al-Bistami, Urwah bin al-Zubair, Aban bin Utsman (Ismail Hamid 1983).


Asal-Usul dan Perkembangan

Puisi na`tiya sebenarnya telah muncul pada zaman Rasulullah, dipelopori oleh penyair-penyair yang hidup dalam dua zaman (Jahiliya dan Islam) seperti Hasan ibn Tsabit, Ka`ab ibn Malik, Abdullah ibn Rawahah, Labid dan Ka`ab ibn Zubair. Menurut riwayat pada mulanya yang mulai menulis puisi na`tiya ialah Hasan ibn Tsabit. Suatu ketika Nabi mencela sikap Ka`b in Malik yang mengejek beliau secara berlebihan, kemudian dia meminta maaf atas sikapnya yang tidak senonoh itu. Dia kemudian menulis sebuah syair:


Apa pun yang ditakdirkan Yang Maha Pengasih
Pasti semua akan terjadi
Setiap orang yang lahir dari rahim seorang ibu
Walau usianya panjang
Pasti akan diusung dalam keranda suatu hari kelak
Aku diberi tahu, Nabi Allah mengancamku
Kini yang kurindkan oleh keampunannya


Walaupun demikian gambaran yang terperinci tentang kehidupan Nabi dan sifat-sifat beliau yang terpuji, pada masa awal tarikh Islam tidak ditemui dalam puisi, melainkan dalam karangan-karangan prosa seperti Sirah al-Nabi karangan Ibn `Ishaq pada abad ke-8 M. Tetapi pada abad ke-11 M riwayat hidup dan pribadi Nabi mulai ditulis dalam bentuk prosa-puisi atau prosa berirama (matsnawi dalam sastra Persia, taromba dalam sastra Melayu) seperti terlihat pada karangan seorang sastrawan dan kritikus Arab terkemuka Tsa`labi.

Karangan Tsa’labi inilah yang memberi ilham penulis-penulis Arab dan Persia untuk mengembangkan puisi na`tiya pada abad ke-12 dan 13. Perkembangan itu didorong lagi oleh tulisan-tulisan para sufi seperti Sahl al-Tustari, Mansur al-Hallaj, Ibn `Arabi, dan lain-lain tentang berbagai aspek dari kehidupan spiritual dan sosial keagamaan Nabi Muhammad s.a.w.
 
Kian maraknya perayaan Maulid Nabi Muhammad s.a.w. yang diselenggarakan oleh tariqat-tariqat sufi dengan pembacaan syair, menambah pesat perkembangan puisi na`tiya. Puisi pujian kepada Nabi mulai mencapai puncaknya dalam syair-syair sufi Arab dan Persia seperti Sana’i, `Attar, Nizami dan al-Busiri, dan terutama sekali dalam puisi-puisi agung Jalaluddin Rumi. Demikianlah peranan penulisan puisi na`tiya beralih ke tangan para penyair sufi pada abad menjelang runtuhnya kekhalifataan Abbasiyah.
Dalam kitabnya Tsa’labi antara lain menggambarkan bahwa Nabi berhasil membawa umatnya terbebas dari kegelapan menuju penceraham.

Nabi adalah pembimbing umat menuju kebenaran ilahi. Kelahiran dan kedatangan beliau diberkati dan membawa keberuntungan. Pernyataan-pernyataan Tsa`labi ini memberi ilham bagi penulis-penulis Muslim sesudahnya, khususnya berkenaan dengan citraan simbolik Nabi. Nabi Muhammad misalnya diumpamakan sebagai bulan purnama dan matahari yang sinarnya menerangi seluruh dunia (Schimmel 1991:244-5). Simbol matahari misalnya pada abad ke-20 dipakai oleh dua pergerakan Islam Indonesia, Muhammadiyah dan Persis.
Di antara penyair sufi yang mendapat ilham dari penggambaran Tsa`labi ialah Syekh al-Busiri. Dalam Qasidah al-Burdah, penulis Mesir abad ke-13 ini melukiskan kehadiran Nabi dalam pentas sejarah kemanusiaan sebagai berikut:


Terbit purnama di tengah kita
Maka silamlah semua purnama
Bagai cantikmu tak pernah kupandang
Aduhai wajah kegembiraan


Engkau mentari engkau purnama
Engkaulah cahaya di atas cahaya
Engkaulah iksir tidak terperi
Engkaulah pelita di tiap dada


Duhai kekasih, duhai Muhammad
Duhai mempelai pendebar kesumat
Duhai Muayyad., duhai Mumajjad
Duhai sang imam kedua kiblat!


(terjemahan Syu`bah Asa)


Dalam kasidahnya itu Busiri menggambarkan dengan indah dan ekspresif tanda-tanda menakjubkan dari pribadi Nabi yang merujuk kepada sifat-sifat istimewa beliau sebagai nabi terkahir (syama`il wa dala`il al-nubuwwah). Citraan-citraan simbolik yang digunakan Busiri dalam menggambarkan ilmu, akhlaq dan kepribadian Nabi tidak sedikit yang diambil dari al-Qur’an. Hal serupa dapat dijumpai dalam puisi-puisi `Attar dalam Ilahi-namah dan karya Rumi Matsnawi-i Ma`nawi.
Menurut Busiri, Nabi diutus ke dunia oleh Allah s.w.t. untuk menjadi cahaya penerang di tengah kegelapan zaman jahiliyah. Beliau juga diumpamakan hujan lebat yang mencurahkan air kehidupan bagi jiwa yang kerontang; permata yang tidak ternilai harganya, yang kilauannya membayangkan ketinggian pencapaian rohani beliau. Inilah baris-baris sajak Busiri yang melukiskan kebesaran Nabi di tengah manusia lain:


Muhammad, pangeran dua dunia, manusia dan jin
Dialah raja dua kaum, Arab dan `Ajam (bukan Arab)
Dialah nabi kita yang menganjurkan dan melarang –
Dalam berkata iya dan tidak, tidak ada yang lebih terpercaya
Dialah kekasih bagi mereka yang merindukan harapan
Di hadapan kekejaman dan kezaliman
Nabi menyeru kita agar kembali kepada-Nya
Dan mereka yang berpegang teguh pada ajarannya
Akan memperoleh buhul tali yang kuat sebagai pegangan


Menurut Busiri, “Selamanya dia hidup dan berada bersama kita/Mukjizatnya mengungguli nabi-nabi lain/Nabi-nabi sebelumnya (ajarannya) tidak kekal seperti dia.” Tentang risalah agama yang disampaikan Rasulullah, Busiri menulis:


Agama-agama lain umpama tamu yang sedang berkumpul
Bersama Sahabat yang tangkas dalam pertempuran
Ketika agama Islam datang bersama Sahabat Nabi
Kemurahan yang tercerai-berai dipadukan kembali


Bilamana agama ini telah menerangi dunia
Semua upacara palsu surut perlahan
Tuhan maha tahu, bagaimana nasib bintang-bintang
Jika matahari telah muncul di hadapan mereka


Sulaiman Celebi, penyair Turki abad ke-14 menulis dengan ungkapan lain, seperti berikut:


Dialah (Muhammad) raja pengetahuan yang mulia
Dialah makrifat dan tauhid keduanya
Karena mencintainya langit (jiwa) berputar
Manusia dan jin sangat merindukan wajahnya
Malam kelahirannya adalah malam-malamnya sendiri
Ia menerangi semesta dengan cahaya berkilauan
Malam ini bumi menjadi sorga
Malam ini mereka yang punya hati akan bersuka ria
Malam ini para pencinta dianugerahi kehidupan baru
Mustafa adalah rahmat bagi sekalian alam!


Karena kedudukan Nabi begitu sentral dalam sejarah Islam, Sana’i – pelopor sastra sufi Persia – menulis lebih kurang, “Menyebut nama indah yang lain (di antara ciptaan) selain namamu, ya Nabi, adalah salah. Menyanyikan puji-pujian dalam sajak kecuali memuji namamu, sungguh kami akan merasa malu!” Seorang penyair Urdu merasa bahwa kepenyairannya tidaklah berarti sebelum menulis sajak pujian untuk Nabi Muhammad. Tetapi begitu dia menulis puisi na`tiya, jalan luas lantas terbentang di hadapannya dan keberadaannya menjadi berarti (Schimmel ibid).
Puncak perkembangan puisi na`tiyah pada abad ke-13 terlihat dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi, penyair sufi terbesar sepanjang abad dari Persia. Dalam Divan-i Samsi Tabriz dan Matsnawi, citra Nabi ditampilkan sebagai pengubah tatanan sosial dan politik, di samping ketinggian akhlaq dan taqwanya. Sebagai penerima wahyu terakhir, Nabi adalah ‘tokoh yang mengatasi pemikiran rasional oleh karena dilimpahi cahaya ketuhanan. “Memang,” kata Rumi, “Nabi makan dan minum seperti manusia lain, namun yang membuat martabatnya mengatasi manusia lain ialah nubuwah yang diterimanya, cahaya ketuhanan yang menyertai penglihatan dan pengetahuannya”.
Dengan ungkapan lain Hamzah Fansuri menulis dalam syairnya seperti berikut:


Rasulullah itulah yang tiada berlawan
Meninggalkan tamak (tha`am) sungguh pun makan
`Uzlat dan tunggal di dalam kawan
Olehnya duduk waktu berjalan


Jadi walaupun Nabi adalah seorang faqir sejati yang gemar `uzlat dan zuhud, tetapi tidak meninggalkan kewajibannya dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Walau hatinya teguh dan hanya terpaut pada Tuhan (duduk), beliau tetap aktif mengerjakan urusan dunia dengan penuh pengabdian, kesungguhan dan pengurbanan. Untuk menjadi faqir seperti Nabi, kita harus menyingkirkan ego rendah kita dan berani memerangi diri kita sendiri (melakukan jihad besar):


Adamu itu yogya kau serang
Supaya dapat negeri yang henang
Seperti Ali tatkala perang
Melepaskan Duldul tiada berkekang

Selanjutnya Syekh Hamzah Fansuri menulis pula seperti berikut:

Syariat Muhammad terlalu `amiq (dalam maknanya)
Cahayanya terang di negeri Bayt al-`athiq
Tandanya ghalib sempurna thariq (jalan)
Banyaklah kafir menjadi rafiq (kawan)

Faizi, seorang penyair Urdu abad ke-17, jadi sezaman dengan Hamzah Fansuri, mengatakan pula:

Dengan syariat dan al-Qur’an, cahaya terang datang
Dengan lidah dan pedang, bukti terpecahkan
Dari tanah lempung dia, namun dari Arasy turunnya
Buta huruf (ummi), namun perpustakaan besar ada dalam kalbunya

Mengenai ke-‘ummi’annya, Rumi berkata, lebih kurang seperti berikut: “Nabi Muhammad s.a.w. harus seorang ummi, agar wahyu Ilahi bisa diturunkan ke dalam kitab tanpa aktivitas intelektual, sehingga apa yang disampaikan beliau benar-benar merupakan tindakan yang lahir dari kesucian, keagungan dan keluruhan jiwa. “Seorang yatim piatu tidak pernah belajar (di sekolah formal) tetapi seluruh perpustakaan dunia habis dibaca olehnya!” ujar Sa’ di al-Syirazi, penyair Persia lain abad ke-13 juga.
Karena perkembangan puisi na`tiya terkait dengan perkembangan tasawuf,

maka sangatlah wajar jika sebagian besar puisi na`tiya bercorak sufistik. Seperti dikatakan Zaki Mubarak, “Puisi na`tiya ialah sejenis puisi sufistik yang disebar luaskan para sufi, sebagai cara menyampaikan perasaan religius, dan kemudian ia menjelma sebagai bentuk pengucapan yang mantap disebabkan lahir dari hati yang tulus dan mengakui kebenaran.” Sedangkan Ghu;a, D. Rasheed dalam bukunya The Development of Na`tiya Poetry in Persian Literature (1965) mengatakan bahwa, “Sifat-sifat Nabi yang terpuuji, sebagaimana digambarkan dalam puisi na`tiya, menyajikan kepada dunia suatu contoh ketaatan kepada Tuhan atau keselarasan dengan kehendak Tuhan. Sebagian besar puisi na`tiya bertalian dengan nilai-nilai moral...”
Itulah sebabnya Rumi menulis, lebih kurang seperti berikut: “Letakkan tanganmu pada Yang Satu dan Muhammad/Bebaskan dirimu dari Abu Jahal duniawi dan badaniah”


Na`tiya dan Puisi Modern

Perkembangan puisi na`tiya tidak kalah menarik di anak benua India semenjak abad ke-17 hingga abad ke-20. Penyair-penyair di wilayah ini menggunakan pendekatan sendiri dalam kepribadian nabi. Ini terlihat dalam karya penyair-penyair sufi terkemuka seperti Amir Khusraw, Shah Latif, Khawaja Mir Dard, Ghalib, dan pada puncaknya tampak dalam puisi Muhammad Iqbal. Puisi na`tiya memasuki fase baru pada abad ke-19 sebagai pengaruh dari munculnya gerakan pembaruan (tajdid) yang dipelopori oleh Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha di Mesir. Gambaran Nabi Muhammad menjadi lebih beragaman dan kompleks, tidak terbatas pada akhlkaq dan mukjizat beliau. Pada abad inilah puisi na`tiya benar-benar mengalami perkembangan yang pesat dan menarik.
 
Dua situasi yang mendorong berkembangnya puisi na`tiya di anak benua India itu ialah runtuhnya kekuasaan Dinasti Mughal yang sekaligus menandai kemunduran Islam di India, dan semakin besarnya kekuasaan kolonial Inggris yang berarti bermulanya secara definitif proses westernisasi dalam kehidupan intelektual dan kultural masyarakat India, Hindu maupun Muslim. Pada masa ini Inggers mulai menjalankan sistem kekuasaan yang sangat menyudutkan dan merugikan umat Islam. Secara sistematis, Islam dan kebudayaannya dipinggirkan, kekuatan politik dan ekonominya dipangkas sampai gundul, dan bersamaan dengan itu Inggris meniupkan sentimen keagamaan yang memecah belah dua penganut agama besar itu (Hindu dan Islam).
 
Pada waktu bersamaan muncul tiga pemikir besar sufi memimpin geakan pembaruan. Mereka ialah Shah Waliullah, Mashar Janjangan dan Khwaja Mir Dard. Gerakan mereka bertujuan memberikan dorongan baru bagi kaum Muslimin untuk menghayati zaman kegemilangan Islam pada zaman Nabi dan khalifah al-rasyidin. Gerakan ini juga melahirkan puisi na`tiya tersendiri. Aspek penting kehidupan Nabi sebagai tokoh pengintegrasi umat dan pembangan tatanan dunia baru ditonjolkan.

Ini sejalan dengan gambaran Nabi sebagai teladan umat Islam, yang seperti dikatakan Nabibaksh Balokh, “Peranan Nabi yang tersendiri dalam sejarah revolusi kerohanian tidak dapat disangkal.Dengan teori tauhid yang revolusiner beliau telah meletakkan batu fundasi bagi kesatuan umat manusia dan tingkat kemajuan intelektualnya.
Beliau memperkenalkan bahwa yang spiritual lebih utama dari yang material, walaupun yang terakhir ini juga penting....beliau menerangi jalan bagi tindakan dan pengalaman manusia; dan beliaulah yang menyebabkan pendengaran dan penglihatan, pengetahuan dan intelek, tampil ke depan” (Schimmel 1985:1777).






Referensi & Sumber Otentik:

  1. Hadi WM, Abdul. Kembali ke Akar, Kembali ke Sumber: Esai-Esai Sastra Profetik. (Penerbit Pustaka Firdaus).
  2. Schimmel, Annemarie. And Muhammad Is His Messenger: The Veneration of the Prophet in Islamic Piety. (UNC Press).
  3. Hamid, Ismail. The Malay Islamic Hikayat. (UKM Press).
  4. Al-Ma`bari, Zainuddin. Tuhfat al-Mujahidin. (Referensi Sejarah Dakwah Abad ke-15).





Sabtu, 27 April 2013

PESAN PROFETIK "MATSNAWI" RUMI


RUMI DAN KARYA PROFETIKNYA "MASNAWI"
Oleh:Muamar Anis


        Dalam Masnawi, kita menjumpai Rumi bukan lagi seorang Sufi yang romantik, tapi seorang Sufi yang telah matang dan arif. Kitab ini merupakan karya mengenai perjalanan kerohaniannya dalam men-cari Yang Kekal. Apabila dia mengungkapkan pengalaman religiusnya lewat puisi, oleh karena dia sadar bahwa prosa yang dingin dan kaku, sejauh pengalamannya sendiri, hanya mampu menarik sedikit pen-dengar. Prosa ternyata kurang menggerakkan hati para pengikutnya, dan hal mi kelak juga disadari oleh Iqbal, murid spiritualnya tujuh abad kemudian.

Sebagai karya yang berisikan butir-butir filsafat dan gagasan ke-agamaan, Masnawi memang bukan merupakan buku filsafat yang ditulis secara sistematik dan runtut. Rumi memencarkan pikiran-pikirannya dalam untaian-untaian puisi, sebagaimana Nietzsche dalam bukunya yang masyhur Also Spracht Zarathustra. Namun, apabila diteliti secara mendalam, untaian puisi yang tak habis-habisnya itu mampu membentuk jalinan pemikiran yang saling berkakan satu
sama lain. Whinfield misalnya mengatakan bahwa Masnawi. rae-rupakan eksposisi mistisisme eksperimental, bukan uraian mengenai ajaran tasawuf.

         Rumi  menggunakan perbandingan-perbandingan dan  perumpamaan-perumpamaan menarik, termasuk perumpamaan berupa kisah-kisah dari al-Qur'an, cerita rakyat, dan kisah-kisah yang masyhur dalam kesusastraan Arab dan Persia. Biasanya penggunaan perumpamaan semacam itu dalam karya sastra mana pun kerap disa-dari sebagai tujuan untuk menyusun suatu kisah didaktik. Tetapi Rumi lebih dari sekadar menyusun kisah didaktik, berbeda jauh misalnya dari Sa'di. Dalam karya agungnya itu Rumi terutama sekali ingin memberikan pesan-pesan religius dan mistik mendalam yang memiliki kualitas puitik, sehingga yang sesuai bagi ekspresinya tentulah puisi, bukan prosa. Dan melaiui puisi, bukan dalam prosa yang deskriptif, yang hadir kepada pembaca bukan lagi pikir-an-pikiran atau gagasan-gagasan, melainkan pribadi si penggubah yang jiwanya melimpah dengan kearifan-kearifan dan gagas­an-gagasan.
Sebelum membicarakan Masnawi, saya akan membicarakan dahuiu perihal pengalaman religius, hubungannya dengan cinta dan kedudukannya dalam karya Rumi, sebab memang cintalah yang merupakan inti ajaran Rumi, dan cinta pulalah tema sentral Masnawi.

          Seluruh karya Rumi dilatari oleh pengalaman religius, dan penga­laman religius inilah yang ingin diungkapkan oleh Rumi, dengan segala seginya yang anekaragam dan luas rangkumannya. Pengalaman religius tidak berarti suatu pengalaman yang dipompa oleh observasi terhadap larangan-larangan agama dan hukum, melainkan suatu pengalaman yang memiliki tenaga hidup oleh karena dibakar api cinta. Bagi Rumi, cinta berarti "suatu perasaan semesta (kosmik), suatu spirit kesatuan dengan Alam Semesta."

          Kata Rumi, cinta adalah suatu pemulihan terhadap kesombongan diri kita yang berlebihan. la adalah tabib semua kelemahan. Hanya dia yang memakai jubah yang dibeli dengan cinta akan benar-benar menjadi murni jiwanya. Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan alam semesta. Oleh karena cintalah segala sesuatu berjalan tanpa henti menuju asal-usulnya, Tuhan, yang merupakan tujuannya sekaligus. Dan adalah cinta yang bisa memberikan makna yang luas dan dalam terhadap kehidupan ini.
          Dalam cinta kekuatan-kekuatan alam mencapai suatu kesatuan yang unik. Makin seseorang itu mencintai, makin dalam dia me-nembus ke dalam tujuan-tujuan ilahi kehidupan. Cinta adalah "astrolobe rahasia langit."

Ada tiga ciri cinta dikemukakan oleh Rumi dalam Masnawi. Per-tama, bentuk apa saja yang diekspresikan oleh cinta adalah baik, bukan oleh karena ia merupakan ekspresi khusus, akan tetapi oleh karena ia merupakan ekspresi cinta. Kedua, cinta berbeda dari perasa-an suka dan duka. Ia tidak menuntut pahala, tak memperdulikan hukuman dan neraka, seperti tampak dalam doa-doa Rabi'ah al-Adawiyah yang begitu indah. Ketiga, cinta meninggikan/ mentransendensikan intelek. Sebab kita tidak hidup untuk berpikir, tetapi kita berpikir untuk hidup.

        Rumi (1207-1273 M) menyebut Masnawi sebagai "Cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris jalan kerohanian." Buku ini dimulai dengan kisah seruling yang suaranya sendu menyayat oleh karena terpisah dari induknya, batang bambu. Rasa terpisah dari asalnya yang membuat dia menyanyi penuh kerin-duan, dan jalan untuk sampai kepada tujuan kerinduannya hanya mungkin bila melalui cinta. "Setiap orang yang tinggai jauh dari sumbernya ingin kembali ke saat ketika dia bersatu dengannya," kata Rumi. Jadi Idas lagu seruling dia pakai untuk mengisahkan kerinduan mistis. Sumber segala eksis-tensi adalah Tuhan, dan kepada-Nya kita akan kembali. Dengan begitu dasar dari semua keberadaan adalah bersifat kerohanian. Manusia adalah makhluk teomorfis, yang menyimpan di dalam di-rinya seberkas cahaya ilahi, dan karena itu tujuan terdalam kehidup­an insan itu bersifat ilahiyah. Bila ia mampu menyerap sifat-sifat Tuhan, maka ia akan menjadi pribadi yang teguh, dan layak menjadi khalifah Allah di muka bumi yang tugasnya menyampaikan risalah ilahi. Hubungan tubuh dan jiwa, atau roh, itu dekat. Dan pribadi yang utuh, diri yang sampai ke jatidirinya, adalah diri yang tumbuh dari diri semesta. Pribadi semacam inilah yang mampu mcngenali

hubungan dan kesatuan tubuh, jiwa dan roh. Memang roh tidak terdinding dari tubuh, tetapi mata manusia tidak diizinkan melihat roh. Untuk merasakan kehadiran roh, manusia harus melakukan per-jalanan diri yang jauh, melalui penembusan cinta. Cinta memperluas kesadaran jiwa, dan kcsadaran jiwa sama sekali tidak akan pernah bisa digerakkan oleh iogika.

         Rumi berpendapat bahwa manusia adalah mikrokosmos {'alam saghir, jagat cilik) yang mampu menyerap makrokosmos ('alam kabir, jagat besar) di dalam bingkainya yang kccil. Ada ratusan dunia tak terlihat di dalam diri manusia, sehingga seorang penyair tidak patut mencari keindahan di luar jatidirinya. Kata Rumi dengan indah, "Kau sendiri adalah (seluruh) masyarakat, kau satu dan ratusan ribu jumlahnya." Intelek manusia mampu menerangkan rahasia ini sampai sedalam-dalamnya bila digosok oleh cinta. Para ahli makrifat, para wali, yang merupakan "intelek dari intelek" akan mampu mene­rangkan rahasia ini pada seorang pencari.

         Apabila orang berkata bahwa Nabi hanyalah seorang manusia, tak lebih, maka ia berbicara demikian oleh karena kebodohannya. Mereka gagal melihat bahwa di dalam diri Nabi ada kilatan cahaya yang menerangi kalbunya, oleh karena Nabi adalah insan yang telah memperoleh pencerahan yang agung. Rumi tak jemu-jemunya dalam karyanya itu mengemukakan ba-tas-batas penalaran akal manusia. Misalnya melalui kisah seorang ahli tata bahasa yang pandai. Suatu ketika ahli tata bahasa naik perahu tambang menyeberangi sungai yang lebar dan dalam. Ia bertanya kepada tukang perahu, apakah ia tahu tentang tata bahasa. Tukang perahu menjawab tidak tahu. Lalu ahli tata bahasa yang sombong berkata bahwa kalau begitu sia-sia hidupnya. Kemudian tukang perahu bertanya kepadanya, apakah dia bisa berenang. Ahli tata ba­hasa menjawab tidak bisa. Lalu tukang perahu berkata, kalau begitu hidup ahli tata bahasa akan sia-sia, sebab sebentar lagi arus akan kencang dan banjir segera tiba.
         Secara sederhana, namun tepat, Rumi melukiskan betapa orang yang paling terpelajar di suatu bidang, bisa menjadi bodoh dalam bidang yang tidak ia pelajari. Ahli tata bahasa ia misalkan sebagai ahli-ahli ilmu formal, sedangkan tukang perahu adalah para Sufi. Rumi ingin mengatakan dalam kisah ini bahwa pengalaman langsung dalam kehidupan lebih penting daripada sekadar ilmu pengetahuan. Orang yang berpengalaman akan lebih mudah menghadapi kehi­dupan dan malapetaka dibanding orang tak berpengalaman lang­sung, sekalipun ilmu pengetahuan yang dia miliki banyak.
Puncak cinta adalah kefanaan diri, dan dengan begitu memasuki tahap baqa'. Di sini seseorang tidak lagi dibebani oleh kepentingan nafsu rendah atau diri sendiri dalam melaksanakan tugas kewajib-annya. Bila keadaan ini telah dicapai, maka seseorang akan menemu-kan hukum dari hukum, tata bahasa dari tata bahasa, yaitu intisari dari ilmu-ilmu tersebut.

         Pencerapan indera atau pengalaman empiris adalah kunci bagi ilmu-ilmu lahir. la tidak akan mampu membawa seseorang ke tingkat kerohanian yang tinggi. Hanya pengalaman rohani, pengalaman reli-gius atau mistis yang mampu membawa seseorang ke tingkat pengeta­huan yang lebih tinggi. Karena itu, Rumi berpendapat bahwa tak perlu ada pertentangan antara ilmu lahir dan ilmu kerohanian, antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Keduanya sama ber-manfaat dan diperlukan, dan harus berjalan secara berimbang.

        Kehidupan lahir dan rohani, sosial dan kerohanian, politik dan agama, merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan sebagaimana agama mengajarkan. Seorang pemeluk agama yang baik akan tim-pang jika hanya menuntut ilmu keduniawian, tanpa mempelajari ilmu kerohanian, dan sebaliknya hanya menuntut ilmu kerohanian namun tak menuntut ilmu keduniawian. Menurut Rumi, hidup harus diterima dengan penuh tanggung jawab, sebab ia adalah anugerah Tuhan. Bahaya dan kesulitan-kesu-litannya harus dihadapi dengan tabah, dengan kerja keras dengan cinta dan dengan keberanian mencapai cita-cita. Baik dan buruk, sedih dan senang, tak perlu terlalu dipikirkan. Keterbatasan intelek harus diterobos dengan kekuatan cinta dan iman. Bagi seorang yang beriman, bahkan bahaya pun akan merupakan bagian dari pertimbangan hidup. Tegar dalam menghadapi bahaya dan kejahatan, dengan menerobos keterbatasan intelek, akan membuat pikiran kita terbuka. Dan itu adalah jalan bagi seseorang untuk memperoleh visi tentang hakikat kehidupan.

         Seseorang yang telah mengalami pencerahan, menurut Rumi, akan mampu melihat dunia dalam perspektif yang berbeda. Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa hanya nabi-nabi yang mampu me-nunjukkan jalan kepada manusia apabila mengalami jalan buntu. Ini oleh karena nabi-nabi telah mengalami pencerahan batin, dan mampu dengan kekuatan jiwa dan rohaninya melihat dunia dalam perspektif yang lain. Kekuatan melihat dari perspektif lain, dari su-dut yang hakiki dan vital, membuat nabi-nabi mampu mengge-rakkan dan mengubah jalannya sejarah. Terutama junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah.

           Para ahli makrifat, wali dan santri, adalah orang-orangyang mene-ladani Nabi dalam upayanya memperoleh jalan pencerahan ini. Me-reka tidak terpaku pada pengetahuan formal dan ilmu-ilmu resmi, oleh karena itu mereka mampu mengangkat tinggi dirinya. Menurut Rumi, setiap kedai menyediakan barang dagangan ter-tentu. Masnawi adalah kedai kesatuan (tauhid). Katanya: "Masnawi kami adalah kedai kesatuan. Apa pun yang kausaksikan di sisi Yang Satu adalah sebuah berhala." Jadi selain Allah itu berhala, bukan Tu-han. la juga mengatakan, "Kubayangkan rima puisi, dan kekasihku berkata, 'Jangan pikirkan segala sesuatu kecuali penglihatan atas-Ku.'"

           Penalaran dan pemahaman membedakan manusia dari binatang, dan untuk tetap menjadi manusia, penalaran dan pemahaman harus selalu digunakan. Akan tetapi, penalaran saja takkan dapat mengantar manusia menuju pemahaman akan hakikat. Pemahaman akan haki­kat akan tercapai apabila seseorang mampu menyatukan kehendak dirinya dengan kehendak Pribadi Semesta (Tuhan). Apabila sampai pada tahapan ini, tidak ada lagi persoalan antara takdir dan kehendak bebas. Dengan kehendak bebasnya manusia berada di jantung takdir, dan ia tidak akan goncang karenanya. Inilah puncak buah ketakwaan kepada Tuhan.

          Dalam puncak ketakwaan inilah orang memperoleh makrifat, pen­cerahan. Dan jika takdir dan kehendak bebas sudah tidak menjadi persoalan lam, maka "Duka cita akan menjadi suka cita dan belenggu (Tuhan) akan menjadi kebebasan." Inilah tahap pencerahan, tahap penemuan potensi diri atau jatidiri yang paling tinggi. Menurut Rumi, percaya kepada Tuhan adalah kualitas dasar orang yang beriman. Akan tetapi, ia tidak bisa menolak keperluan berusaha dan mencari kehidupan. Tuhan tak pernah berhenti bekerja, dan manusia yang ingin menyerap sifat-sifat Tuhan j uga harus tak pernah berhenti bekerja. "Jika kau mempercayai Tuhan, percayalah kepada-Nya ketika Dia memandang kerjamu: tanamlah benih dulu (sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya), baru bertopang kepada Allah."

Atau kata Rumi dalam larik sajaknya yang lain: "Lebih baik ber-tarung dengan penuh kepedihan daripada bersantai. Di jalan ini biarlah kau terperosok dan mendapat tantangan terus sehingga na-fasmu yang penghabisan."
Dalam sajak yang lain dia menulis pula:

"Ketika kaumulai menaruh muatan di kapal, yakinlah bahaya pasti sedang melintang.
Sebab kau tak tahu apakah kapal akan tenggelam atau selamat tiba di daratan.
Jika kau berkata, "Tak mau aku berangkat sebelum pasti tentang nasibku."
Maka kau takkan berniaga; rahasia untungdan rugi takkan pernah terungkap bagimu.
Pedagang yang berhenti lemah takkan merasakan untung atau merasakan hikmah dari rugi.

Malah dia sangat rugi: seseorang harus menyalakan api agar memperoleh cahaya.
Karena semua kejadian berjalan di atas harapan, tentulah tujuan terbaik dari harapan adalah Iman.
Hanya dengan Iman kau akan memperoleh keselamatan.

(Lihat, Rumi: Sufi dan Penyair, Pustaka, 1985)

             Rumi adalah seorang evolusioner kreatif. Evolusi yang dimaksud Rumi adalah evolusi kerohanian, bukan perubahan bentuk jasmani. Prinsip evolusioner dari rohani adalah cinta, dan cinta pulalah prinsip dari segala keberadaan. la mencontohkan Adam. Adam diberi penge-tahuan tentang nama-nama (pengetahuan'aqliah), namun jatuh dari surga. Dia mencoba menafsirkan perintah kejatuhannya. Dalam menafsirkan kejatuhannya itu ia merasakan keterbatasan intelek da­lam upaya memahami misteri kehidupan. Karena itu, ia memerlukan petunjukTuhan, wahyu. Ini membuktikan bahwa akal semesta lebih tinggi daripada intelek.
           Demikian ikhtisar ajaran Rumi seperti termaktub dalam kitabnya yang profetik Masnawi. Kitab ini terdiri dari 26.000 baris sajak. Pelaku kisah, perlambangan dan pelukisan yang dipakai bersifat serba guna dan serba pakai. Ia bisa ditafsirkan secara mistis, keagamaan maupun secara sosial.***



ISLAM DAN DAMPAK KEHADIRANNYA DI NUSANTARA

DARIMANA ISLAM DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMANYA?  Oleh:Muamar Anis Agama Islam telah hadir di Nusantara selambat-lambatnya pada abad ke-8 ...