RUMI DAN KARYA PROFETIKNYA "MASNAWI"
Oleh:Muamar Anis
Dalam Masnawi, kita menjumpai Rumi bukan lagi seorang Sufi yang romantik, tapi seorang
Sufi yang telah matang dan arif. Kitab ini merupakan karya mengenai perjalanan
kerohaniannya dalam men-cari Yang Kekal. Apabila dia mengungkapkan pengalaman
religiusnya lewat puisi, oleh karena dia sadar bahwa prosa yang dingin dan
kaku, sejauh pengalamannya sendiri, hanya mampu menarik sedikit pen-dengar.
Prosa ternyata kurang menggerakkan hati para pengikutnya, dan hal mi kelak juga
disadari oleh Iqbal, murid spiritualnya tujuh abad kemudian.
Sebagai karya yang berisikan
butir-butir filsafat dan gagasan ke-agamaan, Masnawi memang
bukan merupakan buku filsafat yang ditulis secara sistematik dan runtut. Rumi
memencarkan pikiran-pikirannya dalam untaian-untaian puisi, sebagaimana
Nietzsche dalam bukunya yang masyhur Also Spracht Zarathustra. Namun, apabila diteliti secara mendalam, untaian puisi yang tak
habis-habisnya itu mampu membentuk jalinan pemikiran yang saling berkakan satu
sama lain. Whinfield misalnya
mengatakan bahwa Masnawi. rae-rupakan eksposisi mistisisme eksperimental, bukan uraian mengenai
ajaran tasawuf.
Rumi menggunakan perbandingan-perbandingan dan perumpamaan-perumpamaan
menarik, termasuk perumpamaan berupa kisah-kisah dari al-Qur'an, cerita rakyat,
dan kisah-kisah yang masyhur dalam kesusastraan Arab dan Persia. Biasanya
penggunaan perumpamaan semacam itu dalam karya sastra mana pun kerap disa-dari
sebagai tujuan untuk menyusun suatu kisah didaktik. Tetapi Rumi lebih dari
sekadar menyusun kisah didaktik, berbeda jauh misalnya dari Sa'di. Dalam karya
agungnya itu Rumi terutama sekali ingin memberikan pesan-pesan religius dan
mistik mendalam yang memiliki kualitas puitik, sehingga yang sesuai bagi
ekspresinya tentulah puisi, bukan prosa. Dan melaiui puisi, bukan dalam prosa
yang deskriptif, yang hadir kepada pembaca bukan lagi pikir-an-pikiran atau
gagasan-gagasan, melainkan pribadi si penggubah yang jiwanya melimpah dengan
kearifan-kearifan dan gagasan-gagasan.
Sebelum membicarakan Masnawi, saya
akan membicarakan dahuiu perihal pengalaman religius, hubungannya dengan cinta
dan kedudukannya dalam karya Rumi, sebab memang cintalah yang merupakan inti
ajaran Rumi, dan cinta pulalah tema sentral Masnawi.
Seluruh karya Rumi dilatari oleh pengalaman religius, dan pengalaman
religius inilah yang ingin diungkapkan oleh Rumi, dengan segala seginya yang
anekaragam dan luas rangkumannya. Pengalaman religius tidak berarti suatu
pengalaman yang dipompa oleh observasi terhadap larangan-larangan agama dan
hukum, melainkan suatu pengalaman yang memiliki tenaga hidup oleh karena
dibakar api cinta. Bagi Rumi, cinta berarti "suatu perasaan semesta
(kosmik), suatu spirit kesatuan dengan Alam Semesta."
Kata Rumi, cinta adalah suatu pemulihan terhadap kesombongan diri
kita yang berlebihan. la adalah tabib semua kelemahan. Hanya dia yang memakai
jubah yang dibeli dengan cinta akan benar-benar menjadi murni jiwanya. Cinta
adalah kekuatan yang menggerakkan alam semesta. Oleh karena cintalah segala
sesuatu berjalan tanpa henti menuju asal-usulnya, Tuhan, yang merupakan
tujuannya sekaligus. Dan adalah cinta yang bisa memberikan makna yang luas dan
dalam terhadap kehidupan ini.
Dalam cinta kekuatan-kekuatan alam mencapai suatu kesatuan yang
unik. Makin seseorang itu mencintai, makin dalam dia me-nembus ke dalam
tujuan-tujuan ilahi kehidupan. Cinta adalah "astrolobe rahasia
langit."
Ada tiga ciri cinta dikemukakan
oleh Rumi dalam Masnawi.
Per-tama, bentuk apa saja yang
diekspresikan oleh cinta adalah baik, bukan oleh karena ia merupakan ekspresi
khusus, akan tetapi oleh karena ia merupakan ekspresi cinta. Kedua, cinta
berbeda dari perasa-an suka dan duka. Ia tidak menuntut pahala, tak
memperdulikan hukuman dan neraka, seperti tampak dalam doa-doa Rabi'ah
al-Adawiyah yang begitu indah. Ketiga, cinta
meninggikan/ mentransendensikan intelek. Sebab kita tidak hidup untuk berpikir,
tetapi kita berpikir untuk hidup.
Rumi (1207-1273 M) menyebut Masnawi sebagai
"Cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris
jalan kerohanian." Buku ini dimulai dengan kisah seruling yang suaranya
sendu menyayat oleh karena terpisah dari induknya, batang bambu. Rasa terpisah
dari asalnya yang membuat dia menyanyi penuh kerin-duan, dan jalan untuk sampai
kepada tujuan kerinduannya hanya mungkin bila melalui cinta. "Setiap
orang yang tinggai jauh dari sumbernya ingin kembali ke saat ketika dia bersatu
dengannya," kata Rumi. Jadi Idas lagu seruling dia pakai untuk mengisahkan
kerinduan mistis. Sumber segala eksis-tensi adalah Tuhan, dan kepada-Nya kita
akan kembali. Dengan begitu dasar dari semua keberadaan adalah bersifat
kerohanian. Manusia adalah makhluk teomorfis, yang menyimpan di dalam di-rinya seberkas
cahaya ilahi, dan karena itu tujuan terdalam kehidupan insan itu bersifat
ilahiyah. Bila ia mampu menyerap sifat-sifat Tuhan, maka ia akan menjadi
pribadi yang teguh, dan layak menjadi khalifah Allah di muka bumi yang tugasnya
menyampaikan risalah ilahi. Hubungan tubuh dan jiwa, atau roh, itu dekat.
Dan pribadi yang utuh, diri yang sampai ke jatidirinya, adalah diri yang tumbuh
dari diri semesta. Pribadi semacam inilah yang mampu mcngenali
hubungan dan kesatuan tubuh,
jiwa dan roh. Memang roh tidak terdinding dari tubuh, tetapi mata manusia tidak
diizinkan melihat roh. Untuk merasakan kehadiran roh, manusia harus melakukan
per-jalanan diri yang jauh, melalui penembusan cinta. Cinta memperluas
kesadaran jiwa, dan kcsadaran jiwa sama sekali tidak akan pernah bisa
digerakkan oleh iogika.
Rumi berpendapat bahwa manusia adalah mikrokosmos {'alam saghir, jagat cilik) yang mampu menyerap makrokosmos ('alam kabir, jagat besar) di dalam bingkainya yang kccil. Ada ratusan dunia tak
terlihat di dalam diri manusia, sehingga seorang penyair tidak patut mencari
keindahan di luar jatidirinya. Kata Rumi dengan indah, "Kau sendiri adalah
(seluruh) masyarakat, kau satu dan ratusan ribu jumlahnya." Intelek
manusia mampu menerangkan rahasia ini sampai sedalam-dalamnya bila digosok oleh
cinta. Para ahli makrifat, para wali, yang merupakan "intelek dari
intelek" akan mampu menerangkan rahasia ini pada seorang pencari.
Apabila orang berkata bahwa Nabi hanyalah seorang manusia, tak lebih,
maka ia berbicara demikian oleh karena kebodohannya. Mereka gagal melihat bahwa
di dalam diri Nabi ada kilatan cahaya yang menerangi kalbunya, oleh karena Nabi
adalah insan yang telah memperoleh pencerahan yang agung. Rumi tak
jemu-jemunya dalam karyanya itu mengemukakan ba-tas-batas penalaran akal
manusia. Misalnya melalui kisah seorang ahli tata bahasa yang pandai. Suatu
ketika ahli tata bahasa naik perahu tambang menyeberangi sungai yang lebar dan
dalam. Ia bertanya kepada tukang perahu, apakah ia tahu tentang tata bahasa.
Tukang perahu menjawab tidak tahu. Lalu ahli tata bahasa yang sombong berkata
bahwa kalau begitu sia-sia hidupnya. Kemudian tukang perahu bertanya kepadanya,
apakah dia bisa berenang. Ahli tata bahasa menjawab tidak bisa. Lalu tukang
perahu berkata, kalau begitu hidup ahli tata bahasa akan sia-sia, sebab
sebentar lagi arus akan kencang dan banjir segera tiba.
Secara sederhana, namun tepat, Rumi melukiskan betapa orang yang paling
terpelajar di suatu bidang, bisa menjadi bodoh dalam bidang yang tidak ia
pelajari. Ahli tata bahasa ia misalkan sebagai ahli-ahli ilmu formal,
sedangkan tukang perahu adalah para Sufi. Rumi ingin mengatakan dalam kisah ini
bahwa pengalaman langsung dalam kehidupan lebih penting daripada sekadar ilmu
pengetahuan. Orang yang berpengalaman akan lebih mudah menghadapi kehidupan
dan malapetaka dibanding orang tak berpengalaman langsung, sekalipun ilmu
pengetahuan yang dia miliki banyak.
Puncak cinta adalah kefanaan
diri, dan dengan begitu memasuki tahap baqa'. Di sini
seseorang tidak lagi dibebani oleh kepentingan nafsu rendah atau diri sendiri
dalam melaksanakan tugas kewajib-annya. Bila keadaan ini telah dicapai, maka
seseorang akan menemu-kan hukum dari hukum, tata bahasa dari tata bahasa, yaitu
intisari dari ilmu-ilmu tersebut.
Pencerapan indera atau pengalaman empiris adalah kunci bagi ilmu-ilmu
lahir. la tidak akan mampu membawa seseorang ke tingkat kerohanian yang tinggi.
Hanya pengalaman rohani, pengalaman reli-gius atau mistis yang mampu membawa
seseorang ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Karena itu, Rumi
berpendapat bahwa tak perlu ada pertentangan antara ilmu lahir dan ilmu
kerohanian, antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Keduanya sama
ber-manfaat dan diperlukan, dan harus berjalan secara berimbang.
Kehidupan lahir dan rohani, sosial dan kerohanian, politik dan agama,
merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan sebagaimana agama mengajarkan.
Seorang pemeluk agama yang baik akan tim-pang jika hanya menuntut ilmu
keduniawian, tanpa mempelajari ilmu kerohanian, dan sebaliknya hanya menuntut
ilmu kerohanian namun tak menuntut ilmu keduniawian. Menurut Rumi, hidup
harus diterima dengan penuh tanggung jawab, sebab ia adalah anugerah Tuhan.
Bahaya dan kesulitan-kesu-litannya harus dihadapi dengan tabah, dengan kerja
keras dengan cinta dan dengan keberanian mencapai cita-cita. Baik dan
buruk, sedih dan senang, tak perlu terlalu dipikirkan. Keterbatasan intelek harus
diterobos dengan kekuatan cinta dan iman. Bagi seorang yang beriman, bahkan
bahaya pun akan merupakan bagian dari pertimbangan hidup. Tegar dalam
menghadapi bahaya dan kejahatan, dengan menerobos keterbatasan intelek, akan
membuat pikiran kita terbuka. Dan itu adalah jalan bagi seseorang untuk
memperoleh visi tentang hakikat kehidupan.
Seseorang yang telah mengalami pencerahan, menurut Rumi, akan mampu
melihat dunia dalam perspektif yang berbeda. Sejarah umat manusia menunjukkan
bahwa hanya nabi-nabi yang mampu me-nunjukkan jalan kepada manusia apabila
mengalami jalan buntu. Ini oleh karena nabi-nabi telah mengalami pencerahan
batin, dan mampu dengan kekuatan jiwa dan rohaninya melihat dunia dalam
perspektif yang lain. Kekuatan melihat dari perspektif lain, dari su-dut yang
hakiki dan vital, membuat nabi-nabi mampu mengge-rakkan dan mengubah jalannya
sejarah. Terutama junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah.
Para ahli makrifat, wali dan santri, adalah orang-orangyang
mene-ladani Nabi dalam upayanya memperoleh jalan pencerahan ini. Me-reka tidak
terpaku pada pengetahuan formal dan ilmu-ilmu resmi, oleh karena itu mereka
mampu mengangkat tinggi dirinya. Menurut Rumi, setiap kedai menyediakan
barang dagangan ter-tentu. Masnawi adalah
kedai kesatuan (tauhid). Katanya: "Masnawi kami
adalah kedai kesatuan. Apa pun yang kausaksikan di sisi Yang Satu adalah sebuah
berhala." Jadi selain Allah itu berhala, bukan Tu-han. la juga mengatakan,
"Kubayangkan rima puisi, dan kekasihku berkata, 'Jangan pikirkan segala
sesuatu kecuali penglihatan atas-Ku.'"
Penalaran dan pemahaman membedakan manusia dari binatang, dan
untuk tetap menjadi manusia, penalaran dan pemahaman harus selalu digunakan.
Akan tetapi, penalaran saja takkan dapat mengantar manusia menuju pemahaman
akan hakikat. Pemahaman akan hakikat akan tercapai apabila seseorang mampu
menyatukan kehendak dirinya dengan kehendak Pribadi Semesta (Tuhan). Apabila
sampai pada tahapan ini, tidak ada lagi persoalan antara takdir dan kehendak
bebas. Dengan kehendak bebasnya manusia berada di jantung takdir, dan ia tidak
akan goncang karenanya. Inilah puncak buah ketakwaan kepada Tuhan.
Dalam puncak ketakwaan inilah orang memperoleh makrifat, pencerahan.
Dan jika takdir dan kehendak bebas sudah tidak menjadi persoalan lam, maka
"Duka cita akan menjadi suka cita dan belenggu (Tuhan) akan menjadi
kebebasan." Inilah tahap pencerahan, tahap penemuan potensi diri atau
jatidiri yang paling tinggi. Menurut Rumi, percaya kepada Tuhan adalah
kualitas dasar orang yang beriman. Akan tetapi, ia tidak bisa menolak keperluan
berusaha dan mencari kehidupan. Tuhan tak pernah berhenti bekerja, dan manusia
yang ingin menyerap sifat-sifat Tuhan j uga harus tak pernah berhenti bekerja.
"Jika kau mempercayai Tuhan, percayalah kepada-Nya ketika Dia memandang
kerjamu: tanamlah benih dulu (sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya), baru
bertopang kepada Allah."
Atau kata Rumi dalam larik
sajaknya yang lain: "Lebih baik ber-tarung dengan penuh kepedihan daripada
bersantai. Di jalan ini biarlah kau terperosok dan mendapat tantangan terus
sehingga na-fasmu yang penghabisan."
Dalam sajak yang lain dia
menulis pula:
"Ketika
kaumulai menaruh muatan di kapal, yakinlah bahaya pasti sedang melintang.
Sebab
kau tak tahu apakah kapal akan tenggelam atau selamat tiba di daratan.
Jika
kau berkata, "Tak mau aku berangkat sebelum pasti
tentang nasibku."
Maka
kau takkan berniaga; rahasia untungdan rugi takkan pernah terungkap
bagimu.
Pedagang
yang berhenti lemah takkan merasakan untung atau merasakan hikmah dari
rugi.
Malah
dia sangat rugi: seseorang harus menyalakan api agar memperoleh cahaya.
Karena
semua kejadian berjalan di atas harapan, tentulah tujuan terbaik dari
harapan adalah Iman.
Hanya
dengan Iman kau akan memperoleh keselamatan.
(Lihat, Rumi: Sufi dan Penyair, Pustaka, 1985)
Rumi adalah seorang evolusioner kreatif. Evolusi yang dimaksud
Rumi adalah evolusi kerohanian, bukan perubahan bentuk jasmani. Prinsip
evolusioner dari rohani adalah cinta, dan cinta pulalah prinsip dari segala
keberadaan. la mencontohkan Adam. Adam diberi penge-tahuan tentang nama-nama
(pengetahuan'aqliah), namun jatuh dari surga. Dia mencoba menafsirkan perintah kejatuhannya.
Dalam menafsirkan kejatuhannya itu ia merasakan keterbatasan intelek dalam
upaya memahami misteri kehidupan. Karena itu, ia memerlukan petunjukTuhan,
wahyu. Ini membuktikan bahwa akal semesta lebih tinggi daripada intelek.
Demikian ikhtisar ajaran Rumi seperti termaktub dalam kitabnya
yang profetik Masnawi. Kitab ini terdiri dari 26.000 baris sajak. Pelaku kisah, perlambangan
dan pelukisan yang dipakai bersifat serba guna dan serba pakai. Ia bisa
ditafsirkan secara mistis, keagamaan maupun secara sosial.***




Tidak ada komentar:
Posting Komentar