Sabtu, 27 April 2013

LINTASAN SEJARAH ISLAM(3):ISLAM DAN KEBUDAYAAN



ISLAM DAN KEBUDAYAAN

Oleh:Muamar Anis


Islambudaya. Jpg.


Sebelum membahas lebih jauh keadaan bangsa Arab menjelang dan sesudah lahirnya agama Islam, ada baiknya kami jelaskan lebih dahulu pokok-pokok dan dasar-dasar ajaran Islam yang memberikan daya hidup bagi perkembangan kebudayaan bangsa-bangsa dan etnk-etnik yang menerima ajaran agama ini sebagai pelita hidupnya.
Orang Islam percaya bahwa agama yang diridhai Allah s.w.t. ialah Islam (Q 3:19).
 
Dalam al-Qur’an, yang merupakan kitab suci orang Islam, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan Islam sebagai agama ialah semua risalah keyakinan yang diwahyukan oleh Allah s.w.t. kepada rasul-rasul-Nya seperti Nabi Adam a.s., Nuh a.s., Ibrahim a.s., Musa a.s., Daud a.s., Isa Almasih dan Nabi Muhammad s.a.w. Tiang utama ajaran Islam ialah iman dan amal saleh. Iman menunjuk kepada kepersayaan dan kesaksian bahwa Tuhan itu Esa, yaitu Allah dan Dia itu Maha Besar, Maha Kuasa, Maha Pengasih dan Penyayang (al-rahman dan al-rahim), tempat berlindung terakhir seluruh umat manusia, yang meliputi segala sesuatu dengan ilmu dan kasih sayang-Nya.
 
Syekh Mahmoud Syaltout memberi takrif kepada Islam sebagai sistem aqidah dan syariah, yang pada hakikatnya sama dengan iman dan amal saleh. Iman atau aqidah ibarat jiwa dan amal saleh atau syariah ibarat badan jasmani. Sedangkan Tauhid, kesaksian bahwa Tuhan itu Esa, ibarat ruhnya yang bersemayam dalam pusat jiwa. Iman atau aqidah tidak berubah, sedangkan amal saleh dan syariatnya berubah dari rasul yang satu kepada rasul yang lain. Namun dengan datangnya rasul terakhir, Nabi Muhammad s.a.w. asas-asas dan bangunan syariah Islam tidak berubah lagi oleh karena, dalam keyakinan orang Islam, tidak ada lagi rasul yang menerima wahyu dari Allah. Yang ada adalah para wali dan ulama yang merupakan juru tafsir ajaran Rasulullah. Di bawah juru tafsir inilah terjadi pengembangan, perluasan dan perpanjangan lebih jauh asas-asas syariah dan keimanan Islam, serta penerapannya dalam berbagai lapangan kehidupan dalam periode-periode sejarah dan tempat yang berbeda-beda.
 
Dalam kebudayaannya orang Islam mengembangkan pandangan hidup, sistem nilai, gambaran dunia (weltanschauung), sistem ilmu, pemikiran falsafah, cita rasa seni, pola pikir, gaya hidup dan lain sebagainya melalui sarana-sarana tertentu yang dapat dijadikan saluran untuk mengekspresikan dirinya dan mewujudkan pandangan dan cita-cita hidupnya. Ali Hasymi mentakrif kebudayaan Islam sebagai penjelmaan ilam dan samal saleh dari seorang Muslim. Kebudayaan Islam juga dapat dinyatakan sebagai manifestasi keimanan dan kebaktian penganut Islam kepada Tuhannya.
 
H.R. Gibb mengakui bahwa Islam lebih dari sekadar sistem kepercayaan agama, tetapi juga sebuah peradaban dan kebudayaan. Kebudayaan Islam memiliki penjelmaan yang aneka ragam, tetapi dipertalikan oleh iman atau aqidah yang sama. Ismail Faruqi `berpendapat bahwa kebudayaan Islam ialah segala sesuatu yang merupakan hasil budi nurani orang Islam yang mendasarkan amal ibadah dan segala perbuatannya pada ajaran tauhid. Dengan kata lain, kebudayaan Islam merupakan ungkapan tauhid dan tauhid adalah asas utama ajaran Islam.
 
Sebagai asas utama ajaran Islam, tauhid pertama-tama adalah ‘cara melihat hakikat dan tatanan kenyataan’; kedua, metode atau kaidah untuk mencapai kebenaran. Sebagai cara melihat hakikat dan tatanan kenyataan dalam kehidupan, tauhid mengandung prinsip-prinsip seperti: (1) Pandangan serba dua tentang kenyataan atau dualisme. Di dunia ini hanya ada dua kenyataan, yaitu Tuhan dan selain Tuhan; (2) Kecitaan atau idealitas, yang dibangun berdasarkan kemampuan rasional, makrifat, imaginasi kreatif dan intuisi (kasyf); (3) Teleologi. Segala sesuatu dicipta untuk tujuan ilahiah dan moral tertentu oleh Sang Pencipta; (4) Taklif atau kewajiban moral. Karena segala sesuatu dicipta

 berdasarkan tujuan tertentu maka mesti ada kewajiban moral untuk melaksanakannya dalam ibadah dan amal saleh atau perbuatan. Manusia mesti melakukan sesuatu dalam sejarah, mesti membentuk diri dan masyarakat berdasarkan cita-cita dan sistem nilai yang diyakininya; (5) Tanggungjawab. Segala perbuatan manusia mesti didasarkan atas tanggungjawab manusia selaku khalifah-Nya di atas bumi dan hamba-Nya.
 
Sebagai kaidah untuk mencapai kebenaran, tauhid mengandung hal-hal seperti: (1) Pemersatu semua bentuk kebudayaan dan aktivitas manusia; (2) Toleransi untuk mencegah kejumudan, kemandegan dan kemandulan dalam pemikiran; (3) Petunjuk tentang pentingnya akal budi dan budi nurani dalam memperoleh kebenaran. Adapun kandungan tauhid sebagai kaidah mencapai kebenaran mencakup aspek-aspek seperti berikut: (1) Metafisika, pandangan tentang tatanan wujud; (2) Epistemologi, pedoman memperoleh pengetahuan, yaitu melalui jalan akal, melalui sarana makrifat dan intuisi, dibantu imaginasi kreatif dan persepsi indera. Pengalaman sejarah juga memberikan pengetahuan yang tidak terkira banyaknya bagi manusia; (3) Etika, semua perbuatan manusia harus dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan, hati nurani dan masyarakat.

Etika Islam juga menentapkan bahwa hukum positif mesti dibangun berdasarkan asas-asas moral, bukan sebaliknya; (4) Sosiologi, tauhid merupakan perekat kesatuan pandangan umat dan anggota masyarakat; (5) Estetika. Tuhan adalah maha Indah dan mencintai keindahan.
 
Dari asas-asas tauhid inilah kebudayaan Islam tumbuh. Falsafah, ilmu-ilmu agama, pengatahuan alam, sosial dan kebudayaan, seni dan sastra, etika dan sistem peribadatan, semua bersumber dari tauhid dalam hal asas-asasnya. Pengaruh faktor-faktor politik dan ekonomi, serta interaksi dengan kebudayaan-kebudayaan pernah berkembang sebelum agama Islam datang, juga tidak kecil peranannya dalam ikut membentuk dan memberi corak kebudayaan orang-orang Islam. Dalam al-Qur’an sendiri terdapat banyak ayat yang menjelaskan betapa perlunya orang Islam mengembangkan kebudayaan sendiri. Misalnya Surat al-Tin (Q 95:4-6); Surat al-Duriyat (Q 51:56); Surat al-Ikhlas; Surat al-Nur (Q 24:55); Surat Ibrahim (Q 14:32-34); Surat Luqman (Q 31:20); Surat al-`Alaq (Q 96:1-4); Syrat al-Baqarah (Q 2:2-3) dan lain-lain.
 
Dalam bukunya al-Muqadimah Ibn Khaldun (abad ke-15 M) mengatakan bahwa kebudayaan (al-tsaqafah) adalah kondisi-kondisi kehidupan yang melebihi dari apa yang diperlukan. Kelebihan-kelebihan tersebut berbeda-beda sesuai tingkat kesejahteraan yang didapatkan masyarakat. Menurut sejarawan dan sosiolog Muslim terkemuka ini, kehidupan yang maju dengan tingkat kesejahteraan yang tinggi, tidak mungkin berkembang di pedesaan. Kebudayaan hanya bisa berkembang di kota. Agar kebudayaan maju, maka harus ada negara atau kerajaan yang aktif mengembangkan kondisi kehidupan yang memungkinkan kebudayaan berkembang.
 
Karena sejak awal sejarahnya orang-orang Islam berhasil mendirikan negara atau kekhalifatan, maka kebudayaan Islam dengan sendirinya berkembang.
Madzab Jerman mengartikan kebudayaan sebagai bentuk-bentuk atau ekspresi dari kehidupan batin masyarakat/bangsa. Peradaban adalah perwujudan jasmaninya. Bangunan yang indah sebagai karya arsitektur mengandung dua dimensi: dimensi kebudayaan yaitu seni dan falsafah yang melandasi pembangunannya; dimensi peradaban, yaitu penggunaan material dan penggarapannya dengan tehnologi tertentu.


Keudayaan ialah apa yang kita dambakan dan peradaban ialah apa yang kita pergunakan. Kebudayaan tercermin dalam seni, bahasa, sastra, aliran pemikiran falsafah dan agama, bentuk-bentuk spiritualitas dan moral, falsafah hidup, pemikiran ilmiah dan teori-teori ilmu pengetahuan. Peradaban tercermin dalam politik praktis, ekonomi, teknologi, ilmu terapan, sopan santun pergaula, undang-undang dan hukum.
 
Bertolak dari pengertian-pengertian yang telah dikemukakan, `Effat al-Syarqawi mengartikan kebudayaan sebagai “Khazanah sejarah suatu bangsa yang tercermin dalam pengakuan terhadap tujuan ideal dan makna ruhaniah kehidupan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan semua itu. Peradadan ialah khazanah pengetahuan terapan yang dimaksudkan untuk mengagkat dan meninggikan manusia agar tidak menyerah terhadap kondisi-kondisi fisik dan material di sekitarnya.” “Kebudayaan ialah struktur intuitif yang mengandung nilai-nilai ruhaniah tertinggi, yang menggerakkan jiwa suatu bangsa melalui falsafah hidup, wawasan moral, citarasa estetis, cara berpikir, gambaran dunia (weltanschauung) dn sistem nilai-nilainya”
 
A. Fizee dalam bukunya Kebudayaan Islam (1982) memberi batasan pengertian dan cakupan kebudayaan sebagai berikut: (1) Kebudayaan dapat berarti tingkat kecerdasan akal yang setinggi-tingginya yang dihasilkan dalam periode-periode sejarah tertentu suatu bangsa, terutama dalam puncak-puncak perkembangannya; (2) Kebudayaan dapat juga berarti hasil yang diapai suatu bangsa/kaum dalam lapangan sastra, falsafah, ilmu pengetahuan dan seni; (3) Dalam pembicaraan politik, kebudayaan diberi arti sebagai ‘Way of Life’ suatu bangsa, terutama dalam hubungannya dengan adat istiadat, ibadah keagamaan, penggunaan bahasa dan kebiasaan hidup masyarakat.







PESAN PROFETIK "MATSNAWI" RUMI


RUMI DAN KARYA PROFETIKNYA "MASNAWI"
Oleh:Muamar Anis


        Dalam Masnawi, kita menjumpai Rumi bukan lagi seorang Sufi yang romantik, tapi seorang Sufi yang telah matang dan arif. Kitab ini merupakan karya mengenai perjalanan kerohaniannya dalam men-cari Yang Kekal. Apabila dia mengungkapkan pengalaman religiusnya lewat puisi, oleh karena dia sadar bahwa prosa yang dingin dan kaku, sejauh pengalamannya sendiri, hanya mampu menarik sedikit pen-dengar. Prosa ternyata kurang menggerakkan hati para pengikutnya, dan hal mi kelak juga disadari oleh Iqbal, murid spiritualnya tujuh abad kemudian.

Sebagai karya yang berisikan butir-butir filsafat dan gagasan ke-agamaan, Masnawi memang bukan merupakan buku filsafat yang ditulis secara sistematik dan runtut. Rumi memencarkan pikiran-pikirannya dalam untaian-untaian puisi, sebagaimana Nietzsche dalam bukunya yang masyhur Also Spracht Zarathustra. Namun, apabila diteliti secara mendalam, untaian puisi yang tak habis-habisnya itu mampu membentuk jalinan pemikiran yang saling berkakan satu
sama lain. Whinfield misalnya mengatakan bahwa Masnawi. rae-rupakan eksposisi mistisisme eksperimental, bukan uraian mengenai ajaran tasawuf.

         Rumi  menggunakan perbandingan-perbandingan dan  perumpamaan-perumpamaan menarik, termasuk perumpamaan berupa kisah-kisah dari al-Qur'an, cerita rakyat, dan kisah-kisah yang masyhur dalam kesusastraan Arab dan Persia. Biasanya penggunaan perumpamaan semacam itu dalam karya sastra mana pun kerap disa-dari sebagai tujuan untuk menyusun suatu kisah didaktik. Tetapi Rumi lebih dari sekadar menyusun kisah didaktik, berbeda jauh misalnya dari Sa'di. Dalam karya agungnya itu Rumi terutama sekali ingin memberikan pesan-pesan religius dan mistik mendalam yang memiliki kualitas puitik, sehingga yang sesuai bagi ekspresinya tentulah puisi, bukan prosa. Dan melaiui puisi, bukan dalam prosa yang deskriptif, yang hadir kepada pembaca bukan lagi pikir-an-pikiran atau gagasan-gagasan, melainkan pribadi si penggubah yang jiwanya melimpah dengan kearifan-kearifan dan gagas­an-gagasan.
Sebelum membicarakan Masnawi, saya akan membicarakan dahuiu perihal pengalaman religius, hubungannya dengan cinta dan kedudukannya dalam karya Rumi, sebab memang cintalah yang merupakan inti ajaran Rumi, dan cinta pulalah tema sentral Masnawi.

          Seluruh karya Rumi dilatari oleh pengalaman religius, dan penga­laman religius inilah yang ingin diungkapkan oleh Rumi, dengan segala seginya yang anekaragam dan luas rangkumannya. Pengalaman religius tidak berarti suatu pengalaman yang dipompa oleh observasi terhadap larangan-larangan agama dan hukum, melainkan suatu pengalaman yang memiliki tenaga hidup oleh karena dibakar api cinta. Bagi Rumi, cinta berarti "suatu perasaan semesta (kosmik), suatu spirit kesatuan dengan Alam Semesta."

          Kata Rumi, cinta adalah suatu pemulihan terhadap kesombongan diri kita yang berlebihan. la adalah tabib semua kelemahan. Hanya dia yang memakai jubah yang dibeli dengan cinta akan benar-benar menjadi murni jiwanya. Cinta adalah kekuatan yang menggerakkan alam semesta. Oleh karena cintalah segala sesuatu berjalan tanpa henti menuju asal-usulnya, Tuhan, yang merupakan tujuannya sekaligus. Dan adalah cinta yang bisa memberikan makna yang luas dan dalam terhadap kehidupan ini.
          Dalam cinta kekuatan-kekuatan alam mencapai suatu kesatuan yang unik. Makin seseorang itu mencintai, makin dalam dia me-nembus ke dalam tujuan-tujuan ilahi kehidupan. Cinta adalah "astrolobe rahasia langit."

Ada tiga ciri cinta dikemukakan oleh Rumi dalam Masnawi. Per-tama, bentuk apa saja yang diekspresikan oleh cinta adalah baik, bukan oleh karena ia merupakan ekspresi khusus, akan tetapi oleh karena ia merupakan ekspresi cinta. Kedua, cinta berbeda dari perasa-an suka dan duka. Ia tidak menuntut pahala, tak memperdulikan hukuman dan neraka, seperti tampak dalam doa-doa Rabi'ah al-Adawiyah yang begitu indah. Ketiga, cinta meninggikan/ mentransendensikan intelek. Sebab kita tidak hidup untuk berpikir, tetapi kita berpikir untuk hidup.

        Rumi (1207-1273 M) menyebut Masnawi sebagai "Cahaya bagi kawan-kawan seperjalanan dan harta terpendam bagi pewaris jalan kerohanian." Buku ini dimulai dengan kisah seruling yang suaranya sendu menyayat oleh karena terpisah dari induknya, batang bambu. Rasa terpisah dari asalnya yang membuat dia menyanyi penuh kerin-duan, dan jalan untuk sampai kepada tujuan kerinduannya hanya mungkin bila melalui cinta. "Setiap orang yang tinggai jauh dari sumbernya ingin kembali ke saat ketika dia bersatu dengannya," kata Rumi. Jadi Idas lagu seruling dia pakai untuk mengisahkan kerinduan mistis. Sumber segala eksis-tensi adalah Tuhan, dan kepada-Nya kita akan kembali. Dengan begitu dasar dari semua keberadaan adalah bersifat kerohanian. Manusia adalah makhluk teomorfis, yang menyimpan di dalam di-rinya seberkas cahaya ilahi, dan karena itu tujuan terdalam kehidup­an insan itu bersifat ilahiyah. Bila ia mampu menyerap sifat-sifat Tuhan, maka ia akan menjadi pribadi yang teguh, dan layak menjadi khalifah Allah di muka bumi yang tugasnya menyampaikan risalah ilahi. Hubungan tubuh dan jiwa, atau roh, itu dekat. Dan pribadi yang utuh, diri yang sampai ke jatidirinya, adalah diri yang tumbuh dari diri semesta. Pribadi semacam inilah yang mampu mcngenali

hubungan dan kesatuan tubuh, jiwa dan roh. Memang roh tidak terdinding dari tubuh, tetapi mata manusia tidak diizinkan melihat roh. Untuk merasakan kehadiran roh, manusia harus melakukan per-jalanan diri yang jauh, melalui penembusan cinta. Cinta memperluas kesadaran jiwa, dan kcsadaran jiwa sama sekali tidak akan pernah bisa digerakkan oleh iogika.

         Rumi berpendapat bahwa manusia adalah mikrokosmos {'alam saghir, jagat cilik) yang mampu menyerap makrokosmos ('alam kabir, jagat besar) di dalam bingkainya yang kccil. Ada ratusan dunia tak terlihat di dalam diri manusia, sehingga seorang penyair tidak patut mencari keindahan di luar jatidirinya. Kata Rumi dengan indah, "Kau sendiri adalah (seluruh) masyarakat, kau satu dan ratusan ribu jumlahnya." Intelek manusia mampu menerangkan rahasia ini sampai sedalam-dalamnya bila digosok oleh cinta. Para ahli makrifat, para wali, yang merupakan "intelek dari intelek" akan mampu mene­rangkan rahasia ini pada seorang pencari.

         Apabila orang berkata bahwa Nabi hanyalah seorang manusia, tak lebih, maka ia berbicara demikian oleh karena kebodohannya. Mereka gagal melihat bahwa di dalam diri Nabi ada kilatan cahaya yang menerangi kalbunya, oleh karena Nabi adalah insan yang telah memperoleh pencerahan yang agung. Rumi tak jemu-jemunya dalam karyanya itu mengemukakan ba-tas-batas penalaran akal manusia. Misalnya melalui kisah seorang ahli tata bahasa yang pandai. Suatu ketika ahli tata bahasa naik perahu tambang menyeberangi sungai yang lebar dan dalam. Ia bertanya kepada tukang perahu, apakah ia tahu tentang tata bahasa. Tukang perahu menjawab tidak tahu. Lalu ahli tata bahasa yang sombong berkata bahwa kalau begitu sia-sia hidupnya. Kemudian tukang perahu bertanya kepadanya, apakah dia bisa berenang. Ahli tata ba­hasa menjawab tidak bisa. Lalu tukang perahu berkata, kalau begitu hidup ahli tata bahasa akan sia-sia, sebab sebentar lagi arus akan kencang dan banjir segera tiba.
         Secara sederhana, namun tepat, Rumi melukiskan betapa orang yang paling terpelajar di suatu bidang, bisa menjadi bodoh dalam bidang yang tidak ia pelajari. Ahli tata bahasa ia misalkan sebagai ahli-ahli ilmu formal, sedangkan tukang perahu adalah para Sufi. Rumi ingin mengatakan dalam kisah ini bahwa pengalaman langsung dalam kehidupan lebih penting daripada sekadar ilmu pengetahuan. Orang yang berpengalaman akan lebih mudah menghadapi kehi­dupan dan malapetaka dibanding orang tak berpengalaman lang­sung, sekalipun ilmu pengetahuan yang dia miliki banyak.
Puncak cinta adalah kefanaan diri, dan dengan begitu memasuki tahap baqa'. Di sini seseorang tidak lagi dibebani oleh kepentingan nafsu rendah atau diri sendiri dalam melaksanakan tugas kewajib-annya. Bila keadaan ini telah dicapai, maka seseorang akan menemu-kan hukum dari hukum, tata bahasa dari tata bahasa, yaitu intisari dari ilmu-ilmu tersebut.

         Pencerapan indera atau pengalaman empiris adalah kunci bagi ilmu-ilmu lahir. la tidak akan mampu membawa seseorang ke tingkat kerohanian yang tinggi. Hanya pengalaman rohani, pengalaman reli-gius atau mistis yang mampu membawa seseorang ke tingkat pengeta­huan yang lebih tinggi. Karena itu, Rumi berpendapat bahwa tak perlu ada pertentangan antara ilmu lahir dan ilmu kerohanian, antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi. Keduanya sama ber-manfaat dan diperlukan, dan harus berjalan secara berimbang.

        Kehidupan lahir dan rohani, sosial dan kerohanian, politik dan agama, merupakan suatu kesatuan yang tak terpisahkan sebagaimana agama mengajarkan. Seorang pemeluk agama yang baik akan tim-pang jika hanya menuntut ilmu keduniawian, tanpa mempelajari ilmu kerohanian, dan sebaliknya hanya menuntut ilmu kerohanian namun tak menuntut ilmu keduniawian. Menurut Rumi, hidup harus diterima dengan penuh tanggung jawab, sebab ia adalah anugerah Tuhan. Bahaya dan kesulitan-kesu-litannya harus dihadapi dengan tabah, dengan kerja keras dengan cinta dan dengan keberanian mencapai cita-cita. Baik dan buruk, sedih dan senang, tak perlu terlalu dipikirkan. Keterbatasan intelek harus diterobos dengan kekuatan cinta dan iman. Bagi seorang yang beriman, bahkan bahaya pun akan merupakan bagian dari pertimbangan hidup. Tegar dalam menghadapi bahaya dan kejahatan, dengan menerobos keterbatasan intelek, akan membuat pikiran kita terbuka. Dan itu adalah jalan bagi seseorang untuk memperoleh visi tentang hakikat kehidupan.

         Seseorang yang telah mengalami pencerahan, menurut Rumi, akan mampu melihat dunia dalam perspektif yang berbeda. Sejarah umat manusia menunjukkan bahwa hanya nabi-nabi yang mampu me-nunjukkan jalan kepada manusia apabila mengalami jalan buntu. Ini oleh karena nabi-nabi telah mengalami pencerahan batin, dan mampu dengan kekuatan jiwa dan rohaninya melihat dunia dalam perspektif yang lain. Kekuatan melihat dari perspektif lain, dari su-dut yang hakiki dan vital, membuat nabi-nabi mampu mengge-rakkan dan mengubah jalannya sejarah. Terutama junjungan kita Nabi Besar Muhammad Rasulullah.

           Para ahli makrifat, wali dan santri, adalah orang-orangyang mene-ladani Nabi dalam upayanya memperoleh jalan pencerahan ini. Me-reka tidak terpaku pada pengetahuan formal dan ilmu-ilmu resmi, oleh karena itu mereka mampu mengangkat tinggi dirinya. Menurut Rumi, setiap kedai menyediakan barang dagangan ter-tentu. Masnawi adalah kedai kesatuan (tauhid). Katanya: "Masnawi kami adalah kedai kesatuan. Apa pun yang kausaksikan di sisi Yang Satu adalah sebuah berhala." Jadi selain Allah itu berhala, bukan Tu-han. la juga mengatakan, "Kubayangkan rima puisi, dan kekasihku berkata, 'Jangan pikirkan segala sesuatu kecuali penglihatan atas-Ku.'"

           Penalaran dan pemahaman membedakan manusia dari binatang, dan untuk tetap menjadi manusia, penalaran dan pemahaman harus selalu digunakan. Akan tetapi, penalaran saja takkan dapat mengantar manusia menuju pemahaman akan hakikat. Pemahaman akan haki­kat akan tercapai apabila seseorang mampu menyatukan kehendak dirinya dengan kehendak Pribadi Semesta (Tuhan). Apabila sampai pada tahapan ini, tidak ada lagi persoalan antara takdir dan kehendak bebas. Dengan kehendak bebasnya manusia berada di jantung takdir, dan ia tidak akan goncang karenanya. Inilah puncak buah ketakwaan kepada Tuhan.

          Dalam puncak ketakwaan inilah orang memperoleh makrifat, pen­cerahan. Dan jika takdir dan kehendak bebas sudah tidak menjadi persoalan lam, maka "Duka cita akan menjadi suka cita dan belenggu (Tuhan) akan menjadi kebebasan." Inilah tahap pencerahan, tahap penemuan potensi diri atau jatidiri yang paling tinggi. Menurut Rumi, percaya kepada Tuhan adalah kualitas dasar orang yang beriman. Akan tetapi, ia tidak bisa menolak keperluan berusaha dan mencari kehidupan. Tuhan tak pernah berhenti bekerja, dan manusia yang ingin menyerap sifat-sifat Tuhan j uga harus tak pernah berhenti bekerja. "Jika kau mempercayai Tuhan, percayalah kepada-Nya ketika Dia memandang kerjamu: tanamlah benih dulu (sebaik-baiknya dan sebanyak-banyaknya), baru bertopang kepada Allah."

Atau kata Rumi dalam larik sajaknya yang lain: "Lebih baik ber-tarung dengan penuh kepedihan daripada bersantai. Di jalan ini biarlah kau terperosok dan mendapat tantangan terus sehingga na-fasmu yang penghabisan."
Dalam sajak yang lain dia menulis pula:

"Ketika kaumulai menaruh muatan di kapal, yakinlah bahaya pasti sedang melintang.
Sebab kau tak tahu apakah kapal akan tenggelam atau selamat tiba di daratan.
Jika kau berkata, "Tak mau aku berangkat sebelum pasti tentang nasibku."
Maka kau takkan berniaga; rahasia untungdan rugi takkan pernah terungkap bagimu.
Pedagang yang berhenti lemah takkan merasakan untung atau merasakan hikmah dari rugi.

Malah dia sangat rugi: seseorang harus menyalakan api agar memperoleh cahaya.
Karena semua kejadian berjalan di atas harapan, tentulah tujuan terbaik dari harapan adalah Iman.
Hanya dengan Iman kau akan memperoleh keselamatan.

(Lihat, Rumi: Sufi dan Penyair, Pustaka, 1985)

             Rumi adalah seorang evolusioner kreatif. Evolusi yang dimaksud Rumi adalah evolusi kerohanian, bukan perubahan bentuk jasmani. Prinsip evolusioner dari rohani adalah cinta, dan cinta pulalah prinsip dari segala keberadaan. la mencontohkan Adam. Adam diberi penge-tahuan tentang nama-nama (pengetahuan'aqliah), namun jatuh dari surga. Dia mencoba menafsirkan perintah kejatuhannya. Dalam menafsirkan kejatuhannya itu ia merasakan keterbatasan intelek da­lam upaya memahami misteri kehidupan. Karena itu, ia memerlukan petunjukTuhan, wahyu. Ini membuktikan bahwa akal semesta lebih tinggi daripada intelek.
           Demikian ikhtisar ajaran Rumi seperti termaktub dalam kitabnya yang profetik Masnawi. Kitab ini terdiri dari 26.000 baris sajak. Pelaku kisah, perlambangan dan pelukisan yang dipakai bersifat serba guna dan serba pakai. Ia bisa ditafsirkan secara mistis, keagamaan maupun secara sosial.***



Senin, 22 April 2013

KHAZANAH ISLAM:KITAB SEJARAH,UNDANG-UNDANG DAN PUISI


KHAZANAH ISLAM:KITAB SEJARAH,UNDANG-UNDANG DAN PUISI
Oleh:Muamar Anis





Sejarah dan Undang-undang
Buah dari kesadaran baru yang juga tidak kalah menonjol ialah semakin dirasakan pentingnya penulisan karya bercorak sejarah dan undang-undang. Dalam tradisi kecendekiawanan Muslim, penulisan karya sejarah menempati urutan penting karena terkait langsung dengan ajaran agama. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ayat-ayat Tuhan terbentang di alam semesta dan diri manusia. Ayat-ayat Tuhan yang di alam semesta bukan hanya fenomena-fenomena alam, melainkan juga berbagai peristiwa sejarah. Berbeda dengan fenomena alam yang kurang melibatkan peranan manusia, sejarah sepenuhnya melibatkan peranan manusia. Pembukaan dan pendirian sebuah negeri, peperangan, naik turunnya seuatu dinasti atau daulah pemerintahan, penghancuran dan pembangunan kota, pelayaran ke negeri-negeri jauh, pribadi dan akhlaq tokoh politik, pemerintahan, agama dan intelektual, yang mengubah jalannya sejarah dan menentukan perkembangan peradaban, sangat menarik perhatian cendekiawan atau sastrawan Muslim sejak abad ke-7 dan 8 M.


Dimulai dengan Hikayat Raja-raja Pasai dan kemudian Sejarah Melayu, yang telah mulai ditulis pada zaman kesultanan Malaka pada abad ke-15 M, karya bercorak sejarah kemudian ditulis secara intentif di pusat-pusat kegiatan politik Islam pada abad ke-17 hingga abad ke-19 M. Selain karya-karya yang telah disebutkan, karya bercorak sejarah yang juga dapat digolongkan awal tarikh penulisannya ialah Hikayat Aceh yang ditulis pada zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M). Karya lain yang ditulis sesudah Hikayat Aceh ialah Bustan al-Salatin karya Nuruddin al-Raniri, khususnya Bab II yang fasal-fasal permulaan menerangkan sejarah nabi-nabi dan raja-raja, sedangkan fasal 12 mengenai sejarah Aceh yang mencapai puncak kegemilangannya pada zaman Iskandar Muda dan Iskandar Tsani (1637-1641 M).
 
Karya bercorak sejarah sangat banyak dijumpai dalam khazanah sastra Melayu dan Jawa pada zaman Islam, melampaui zaman sebelumnya. Di antara karya jenis yang terkenal dalam bahasa Melayu ialahHikayat Merong Mahawangsa (tentang sejarah Kedah), Hikayat Banjar dan Kota Waringin, Hikayat Johor, Salasilah Kutai, Hikayat Patani, Hikayat Siak, Misa Melayu, Salasilah Melayu dan Bugis, Salasilah Raja-raja Brunei, Hikayat Pahang, Sejarah Raja-raja Riau, Hikayat Mokoko (Bengkulu), Hikayat Palembang, Hikayat Upu Daeng Manambon, Hikayat Maulana Hsanuddin (sejarah penyebaran agama Islam di Banten), Tuhfat al-Nafis (karya Raja Ali Haji), Hikayat Bengkulu, Hikayat Tuanku Imam Bonjol, Hikayat Syekh Jalaluddin, Hikayat Rasulullah Yang Jatuh Kepada Sunan Giri Kedaton dan lain-lain. Dalam sastra Jawa, Sunda dan Madura karya bercorak sejarah disebut babad. Istilah ini baru muncul sejak berkembangnya agama Islam. Di antara babad yang terkenal ialah Babad Tanah Jawi, Babad Cirebon, Babad Demak, Babad Mataram, Babad Giyanti, Babad Madura, Babad Pasundan, Babad Cirebon, Babad Sumenep, Babad Besuki, Serat Babad Dipanegara, dan lain-lain.


Sejauh mengenai sejarah sebuah kerajaan atau beberapa negeri yang merupakan sebuah kerajaan besar, terdapat ciri umum yang sama atau mirip di antara karya-karya bercorak sejarah itu. Apabila seorang penulis menceritakan masa lampau yang jauh, maka digunakan unsur mitos dan legenda yang hidup dalam masyarakat. Sarana mitos atau legenda kadang digunakan secara simbolik, kadang-kadang sebagai sarana untuk memberikan legitimasi kepada raja dan keturunannya yang berkuasa. Sejarah Melayu misalnya menceritakan bahwa raja-raja Melayu merupakan keturunan Iskandar Zulkarnain. Setelah itu baru sejarah yang sebenarnya mulai dipaparkan. Jika dimulai dari sejarah masa lampau yang dekat, unsur mitos dan legenda tidak dipaparkan, seperti misalnya tampak dalam Bustan al-Salatin fasal 12 dan Tuhfat al-Nafis. Ini jelas berbeda dengan penulisan sejarah zaman Hindu. Raja-raja dalam historiografi Hindu disebutkan sebagai titisan Dewa, khususnya Wisynu. Perbedaannya yang lain ialah dalam historiografi Islam, tarikh mulai disebutkan dengan jelas.


 Ciri umum karya bercorak sejarah ialah sebagai berikut:
(1) Menceritakan asal-usul raja;
(2) Menceritakan keturunan raja-raja;
(3) Mengisahkan pembukaan sebuah negeri oleh seorang raja dan asal-usul penamaan negeri yang baru dibuka;
(4) Menceritakan bagaimana agama Islam berkembang di negeri bersangkutan, siapa tokoh-tokoh yang memainkan peranan penting dalam penyebaran itu dan bagaimana kemudian Islam dipraktekkan dalam berbagai aspek kehidupan; (5) Menceritakan keadaan negeri, peristiwa-peristiwa penting yang terjadi dari awal hingga masa paling akhir ketika buku itu ditulis. Kadang pemaparan peristiwa yang lebih akhir ditambahkan oleh para penyalin kitab itu.
 
Berkenaan dengan kedatangan dan perkembangan agama Islam, hikayat-hikayat itu dapat dibagi ke dalam dua kelompok. Kelompok pertama ialah seperti Hikayat Aceh, Misa Melayu, Hikayat Pahang dan Hikayat Johor. Hikayat-hikayat ini tidak mengemukakan kisah kedatangan agama Islam karena pada waktu ditulis, Islam sudah dianut oleh masyarakat luas dan telah pula berkembang pesat. Sebagai gantinya yang diceritakan ialah adat istiadat dan kebiasaan raja serta masyarakat sehubungan dengan pelaksanaan ajaran Islam, penyelenggaraan upacara keagamaan dan hari raya. Kelompok kedua, termasuk Hikayat Raja-Raja Pasai, Sejarah Melayu, Babad Tanah Jawi dan lain-lain. Kitab-kitab ini dimulai dengan menceritakan jauh sebelum agama Islam datang dan kemudian bagaimana agama Islam mula-mula berkembang.


Sunan Giri Dalam Sejarah Melayu misalnya berbagai hal yang berkenaan dengan agama Islam dipaparkan secara agak rincu. Setelah upacara pengislamannya, raja lantas pergi mempelajari agama kepada seorang ulama terkemuka Makhdum Syekh Abdul Aziz. Pelajaran paling awal ialah tatacara salat. Berkenaan dengan adat istiadat dan larangan, disebutkan misalnya bagaimana raja berangkat ke masjid di bulan Ramadhan, salat tarawih dan kemudian salat Id. Dikemukakan beberapa kutipan hadis dan pepatah Arab berkenaan dengan dosa dan pahala. Juga diceritakan datangnya ulama penting dari negeri Arab yang menetap di Malaka untuk mengajar agama, serta singgahnya dua orang ulama dari Jawa dalam perjalanan menuju Pasai dan Mekah. Dua tokoh tersebut kelak menjadi wali terkemuka, yakni Sunan Giri dan Sunan Bonang.


Kadang juga diceritakan hubungan kerajaan Islam yang satu dengan yang lain. Hikayat Banjarmisalnya menyebutkan bagaimana Demak menerima agama Islam dan bantuan apa yang diberikan raja Demak dalam mengislamkan Banjarmasin. Diceritakan pula peranan orang Jawa dalam mendirikan Kota Waringin. Demak menerima Islam setelah Raja Majapahit kawin dengan putri raja Pasai yang beragama Islam.
Dalam periode terakhir dari gelombang kedua pemikiran Islam, yaitu setelah mantapnya kerajaan-kerajaan Islam, maka mulailah sastra kenegaraan dan undang-undang ditulis. Di antara sastra kenegaraan yang ditulis pada zaman kejayaan Aceh selain Taj al-Salatin ialah Bustan al-Salatin(diuraikan nanti). Karya-karya kenegaraan sebenarnya tidak banyak, namun pengaruhnya sangat besar bagi penulisan karya bercorak sejarah dan undang-undang, Dalam sastra sejarah, sering nasehat-nasehat tentang pemerintahan dikutip dari sastra kenegaraan. Misalnya dalam Salasilah Kutai, raja Majapahit yang dimintai nasehat oleh raja Kutai yang baru mememuk agama Islam tentang seluk-beluk memimpin pemerintahan yang baik, dengan senang hati mengutip bagian-bagian yang relevan dari Taj al-Salatin. Bagi sastra undang-undang sendiri, sastra kenegaraan merupakan rujukan utama di samping adat istiadat yang berlaku serta sumber-sumber al-Qur’an, Hadis dan fiqih dari madzab Sunnah wa al-Jamaah.


Sastra Undang-undang tidak kalah banyaknya ditulis seperti karya bercoak sejarah. Berdasarkan cara pengambilan keputusan, sastra undang-undang dibagi dalam dua kelompok, yaitu:
(1) Kumpulan Undang-undang Adat Tumenggung, dan
(2) Kumpulan Undang-undang Adat Perpatih.


Sedangkan mengenai isinya dapat dibagi ke dalam empat kelompok, yaitu:
(1) Undang-undang berkaitan dengan raja, pembesar kerajaan dan administrasi pemerintahan;
(2) Undang-undang tentang kriminalitas dan hukumannya;
(3) Undang-undang berkenaan dengan aturan dalam masyarakat seperti perkawinan, perceraian dan waris;
(4) Adat istiadat raja-raja dan pembesar kerajaan. Penyusunan undang-undang ini tidak sepenuhnya diambil dari tradisi Islam, sering juga memasukkan unsur lokal dan Hindu (Winndstedt 1969; Zalila Sharif 1993:446-7).


Dalam Adat Tumenggung keputusan dilakukan dari atas dan tidak didasarkan musyawarah. Dalam Adat Perpatih keputusan didasarkan atas musyawarah. Termasuk dalam Undang-undang Adat Tumenggung ialah Hukum Kanun Malaka (banyak versi), Undang-undang Palembang, Undang-undang dalam Pegangan Moko-moko (Bengkulu), Undang-undang Aceh, Undang-undang Johor, Undang-undang Jambai, Adat Raja-raja Melayu, Adat Aceh, Undang-unang Kedah, Undang-undang Laut Melaka, dan lain-lain. Yang ditulis pada abad ke-19 : Thamarat al-Muhimmah, Muqaddimah fi Intizam, Itqan al-Muluk b Ta`dil al-Suluk. Sedangkan yang termasuk Undang-undang Adat Perpatih ialahUndang-undang Minangkabau, Tambo Minangkabau, Kitab Kesimpanan Adat Minangkabau, Undang-undang Sembilan Puluh Sembilan (Negeri Sembilan, Malaysia), dan lan-lain.
Penulisan kitab undang-undang ini mengandung banyak unsur sastra. Misalnya uraian tentang ‘kawin semenda’ dalam Undang-undang Adat Perpatih. Dalam undang-undang itu dinyatakan bahwa suami mesti tinggal di rumah istri dan disebut orang semenda atau penumpang. Yang berkuasa di rumah itu mamak, saudara dari istrinya. Hubungan orang semenda dengan ninik mamak diumpamakan sebagai “Mentimun dengan durian”, dan dinyatakan sebuah prosa berirama:


Orang semenda di tempat semenda
Jika cerdik teman berunding
Jika bodoh disuruh arah
Tinggi banir tempat berlindung
Rimbun daun tempat berlindung
Disuruh pergi, dipanggil datang,
Yang patah disuruh menunggu jemuran
Yang pekak disuruh mencucuh meriam
Yang berani dibuat kepala lawan
Kalau kaya hendakkan emasnya
Kalau alim hendakkan ilmunya


(Ibid)


Dalam sastra undang-undang yang membicarakan seluk pemerintahan, dibicarakan misalnya cara-cara seorang raja tampil sebagai pemegang tampuk pemerintahan. Dalam kitabnya Thamarat al-Muhimmah Raja Ali Haji misalnya mengatakan bahwa ada tiga sebab munculnya seorang raja dan kemunculannya sah dilihat dari hukum Islam: (1) Bai`at dari para ulama; (2) Istikhlaf, telah ditetapkan untuk menggantikan raja sebelumnya; (3) Taghlab, dengan cara merebut kekuasaan dari raja sebelumnya. Jika raja yang diturunkan tahta itu tidak adil atau zalim, maka cara demikian diperbolehkan. Dalam buku itu juga dikemukakan tata tertib pengadilan, tugas seorang qadi.


Puisi Dalam Sastra Melayu
Pada zaman Islam puisi mengalami perkembangan pesat dalam kesusastraan Melayu. Ia kadang-kadang lebih efektif dalam menyampaikan pengalaman keagamaan dan mistik dibanding prosa. Perkembangan pesat puisi Melayu Islam pada abad ke-16 dan 17 M, serta keanekaragaman jenisnya dipengaruhi oleh berbagai faktor. Selain merupakan sarana yang efektif dalam mengungkapkan perasaan orang Melayu yang telah dipengaruhi nilai-nilai Islam, dan juga selain merupakan sarana yang efektif dalam mengungkapkan pengalaman keagamaan dan mistik, sejak lama orang Melayu – sebagaimana bangsa Nusantara yang lain – menyukai pengucapan puitik dalam menyampaikan gagasan.


Dilihat dari sumbernya keanekaragaman bentuk puisi Melayu pada zaman Islam dapat dibagi ke dalam empat kelompok:
(1) Bentuk puisi yang ditransformasikan dari tradisi lisan atau tulis yang telah berkembang sebelum Islam. Termasuk dalam kelompok ini ialah pantun, gurindam, talibun, seloka dan mantera. Pantun, gurindam dan talibun hanya berbeda jumlah baris, tetapi kerangkanya sama terdiri dari sampiran dan isi. Jumlah baris sampiran dan isi sama banyaknya. Pantun terdiri dari empat baris, sampiran 2 baris dan isi dua baris. Gurindam dua baris, 1 baris ampiran dan 1 baris lagi isi. Talibun delapan baris. Seloka adalah bentuk puisi yang berasal dari sastra Sanskerta, biasanya terdiri dari empat baris, tanpa mengenal pembagian sampiran dan isi. Seloka Melayu biasanya berisi sindiran atau ejekan;
(2) Bentuk puisi yang bersumber dari tradisi Arab Parsi. Yang populer ialah ‘syair;
(3) Bentuk puisi yang bersumber dari sastra Parsi seperti ghazal, nazam, ruba’i, kit`ah dan matsnawi. Bentuk-bentuk puisi ini diperkenalkan oleh para penulis Melayu sebagai sisipan dalam hikayat-hikayat sepertiHikayat Amir Hamzah, Hikayat Seribu Satu Malam dan Taj al-Salatin. Sebagian besar bentuk-bentuk puisi ini ditulis mengikuti aturan yang berlaku dalam persajakan Parsi. Semua bentuk puisi Parsi jarang dipakai setelah abad ke-17 M, namun memberi lahirnya bentuk puisi baru;
(4). Bentuk puisi yang ditranformasi dari sumber Parsi seperti teromba atau puisi berirama. Sumbernya ialah matsnawi, tetapi disesuaikan dengan cita rasa persajakan Melayu. Bentuk puisi lain seperti bidal dan pepatah, mungkin sudah ada sebelum zaman Islam sebagaimana jampi atau mantra. Di antara bentuk puisi yang paling sering digunakan ialah pantun, gurindam, syair dan teromba atau bahasa berirama.


Pantun.
Seperti telah dikemukakan pantun adalah puisi empat baris yang terdiri dari sampiran dan isi. Tiap baris pada umumnya terdiri dari 8 hingga 12 suku kata, dengan pola sajak akhir AAAA atau ABAB. Sampiran biasanya melukiskan lingkungan alam dan budaya orang Melayu, sedangkan isi memuat maksud atau pesan moral yang ingin diperkatakan. Kaitan antara sampiran dan isi terletak pada persamaan atau kemiripan bunyinya pada setiap kata yang digunakan, kadang pada asosiasi citraan yang dilahirkannya. Pembagian ke dalam sampiran dan isi ini mungkin ada kaitannya dengan estetika Islam yang membagi teks ke dalam surah (bentuk lahir) dan ma`na (bentuk batin atau makna). Tidak diketahui kapan pantun muncul dalam bentuknya seperti dikenal sekarang. Pantun tertulis paling awal yang dijumpai berasal dari abad ke-16 M dalam naskah tasawuf Asrar al-`Arifin karangan Hamzah Fansuri, yaitu:


Kunjung-kunjung di bukit tinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada tubuhnya


Bandingkan dengan pantun yang populer, yang entah kapan ditulis seperti berikut:


Pulau Pandan jauh di tengah
Di balik pulau angsa dua
Hancur badan dikandung tanah
Budi baik dikenang jua


Sering pantun disisipkan dalam karangan prosa, misalnya seperti yang terdapat dalam Sejarah Melayu(1607) karangan Tun Sri Lanang:


Telur itik dari Senggora
Pandan tergeletak dilangkahi
Darahnya titik di Singapura
Badannya terlantar di Langkawi


Pantun yang mengandung pesan keagamaan antara lain ialah seperti berikut:


Kemumu di dalam semak
Terbang melayang selaranya
Meski ilmu setinggi tegak
Tidak sembahyang apa gunanya


Dalam syair tasawuf abad ke-17 M dari Aceh, karangan Abdul Jamal dan Hamzah Fansuri, terdapat perkataan ‘bandun’ yang mirip perkataan ‘pantun’ dan dimaksudkan oleh pengarangnya sebagai sajak dengan aturan tertentu yang dinyanyikan seperti pantun. Dalam beberapa bahasa Nusantara seperti Madura nyanyian atau sajak yang dinyanyikan disebut pantun. Berdasarkan isi atau temanya pantun biasa dibagi ke dalam beberapa kelompok: (1) Pantun Kanak-kanak; (2) Pantun atau cinta kasih sayang; (3) Tatacara kehidupan dalam masyarakat; (4) Pentun teka-teki; (5) Pantun Agama; (6) Pantun puji-pujian; (7) Pantun Nasehat; (8) Pantun Cerita.


Gurindam.
Raja Ali Haji Nama gurindam sudah dikenal sejak abad ke-13 M, tetapi artinya tidak tepat sama sebagaimana arti yang diberikan pada abad ke-19 M. Pada mulanya gurindam berarti perumpamaan secara umum. Sutan Takdir Alisyahbana (1952) berpendapat bahwa gurindam merupakan puisi dua baris, masing-masing baris bersajak dan mengutarakan suatu gagasan secara berkesinambungan. Isinya biasanya nasehat, pengajaran budi pekerti atau agama, sendagurau, ejekan dan sindiran. Menurut Raja Ali Haji dalam Bustan al-Katibin (abad ke-19 M) gurindam adalah perkataan bersajak pada masing-masing pasangan, akan tetapi perkataannya baru lengkap jika diikuti oleh pasangannya. Baris pertama adalah syarat atau sampiran, baris kedua adalah jawab atau maksud. Contohnya:


Persamaan yang indah-indah
Ialah ilmu yang memberi faedah


Raja Ali Haji ingin mengatakan bahwa keindahan yang bermakna dalam karya sastra haruslah juga memberi faedah. Dengan perkataan lain estetika terkait dengan etika. Pada masa yang akhir gurindam selalu dihubungkan dengan kreativitas Ali Haji. Dialah yang menghidupkan kembali bentuk persajakan lama ini dengan gaya baru, sebagaimana terlihat dalam karyanya Gurindam Dua Belas. Petikan gurindam Raja Ali Haji ialah sebagai berikut:


Barang siapa tiada memegang agama
Tiada boleh dibilangkan nama


Barang siapa mengenal yang empat
Maka yaitulah orang bermakrifat


Barang siapa mengenal Allah
Suruh dan tegahnya tiada salah


Barang siapa mengenal diri
Dia mengenal Tuhan yang bahari


Barang siapa mengenal dunia
Tahulah ia barang yang teperdaya


Gurindam Raja Ali Haji jelas berbeda dengan gurindam tradisional, yang terdiri dari sampiran dan isi. Pada gurindam Raja Ali Haji terdapat kesinambungan pernyataan dalam baris-barisnya. Contoh gurindam yang biasa ialah seperti berikut:


Tua-tua keladi
Kian tua makin menjadi-jadi


Bentuk gurindam yang sama, yang terdiri dari sampiran dan isi, juga ditulis oleh Raja Ali Haji sebagai berikut:


Dangdut tali kecapi
Kenyang perut senang di hati


Syair.
Syair adalah sajak empat baris, biasanya dengan pola bunyi akhir AAAA, tetapi ada juga yang pola bunyi akhrnya ABAB, AABB, AABC dan AABA Jumlah suku kata pada setiap barisnya pada umumnya antara 8 sampai 12. Dalam bentuknya seperti dikenal sekarang, syair Melayu pada mulanya diperkenalkan oleh Hamzah Fansuri pada akhir abad ke-16 M dan karena jumlah barisnya empat, Syamsuddin al-Sumatrani (wafat 1630 M) dalam bukunya Syarah Ruba`i Hamzah Fansuri menyebut syair ala Hamzah Fansuri sebagai ruba`i, artinya puisi empat baris yang pernyataan dari baris-barisnya berkesinambungan. Pada abad ke-17 M murid-murid Hamzah Fansuri menyebut ruba`i Melayu sebagai sya`ir, sedangkan Hamzah Fansuri sendiri dalam risalah tasawufnya Asrar al-`Arifinmenyebutnya “sajak empat secawang”. Perkataan syair yang awal antara lain dijumpai dalam salah satu dari empat versi Syair Perahu karya pengikut Hamzah Fansuri yang hidup pada abad ke-17 M. Dalam puisinya itu kata syair dipertukarkan dengan ‘madah’ (dari kata Arab madih, kata jamaknyamada`ih, yang artinya puisi pujian), seperti berikut:


Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah


Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiadalah berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu


Pada mulanya syair digunakan untuk menyampaikan ajaran tasawuf atau ilmu suluk, yaitu metode keruhanian dalam Islam mencapai makna terdalam Tauhid, kesaksian bahwa Allah itu esa. Tetapi kemudian juga dipakai sebagai media menyampaikan kisah percintaan, sejarah, hikayat dan lain-lain. Berdasarkan isi atau temanya sastra syair dapat dibagi ke dalam kelompok seperti berikut: (1) Syair Tasawuf; (2) Syair Nasehat Keagamaan; (3) Syair Nasehat Budi Pekerti dan Adat istiadat (4) Syair Sejarah; (5) Syair Hikayat; (6) Syair Percintaan; (7) Syair Ibarat; (8) Syair Tema-tema lain di luar yang telah disebutkan.


Syair Tasawuf.
 Memuat ajaran tasawuf atau pengalaman sufi, misalnya mengenai tahap-tahap perjalanan ruhani (maqam) menuju Tuhan atau Kebenaran Tertinggi dari tauhid. Biasanya memakai kias dan tamsil anthromorfis, kosmologis, ontologis dan erotik. Kecuali karya-karya Hamzah Fansuri, yang termasuk syair jenis ini ialah syair-syair anonim dan syair-syair yang jelas nama pengarangnya. Syair-syair yang jelas nama pengarangnya ialah: Syair Tajalli (Hasan Fansuri), Syair Ta`ayyun Awwal, Syair Keindahan, Syair Sifat-sifat Tuhan, Syair Mubtadi, Syair A`yan Tsabitah, Syair Cahaya, Syair Alif(Abdul Jamal), Syair Ma`rifat, Syair Martabat Tujuh (Syamsudin al-Sumatrani), Syair Ma`rifat Allah(Abdul Rauf Singkel), Syair Mekah Madinah, Syair Sunu (Syekh Daud abad ke-19 M), dan lain-lain. Salah satu syair Abdul Jamal yang mempengaruhi Amir Hamzah, penyaiar abad ke-20, ialah:


Wahdat itulah bernama bayang-bayang
Di sana nyata wayang dan dalang
Muhit-Nya lengkap pada sekalian padang
Musyahadah di sana jangan kepalang


Syair-syair Tasawuf yang anonim antara lain ialah Syair Dagang, Syair Perahu (ada tiga versi yang berbeda-beda), Ikat-ikatan Bahr al-Nisa’ (Lautan Perempuan), Syair Ta`rif al-Huruf, Syair Perkataan Alif, Syair Unggas Bersoal Jawab, Syair Burung Pingai dan lain-lain.


Syair Nasehat Keagamaan. Memuat rincian ajaran agama meliputi syariat, fqih, usuluddin, eskatologi, adab atau tentang rukun iman, rukun Islam dan lain-lain. Misalnya Syair Naik Haji, Syair Sifat Dua Puluh, Syair Kiamat, Syair Ibadat, Syair Rukun Nikah, Syair Neraka, Syair Isra’ Mi`raj, Syair Maulid Nabi, Syair Cerita Dalam Kubur dan lain-lain.


Syair Nasehat Umum. Termasuk dalam kelompok ini antara lain Syair Nasehat, Syair Amanat, Syair Pengajaran, dan lain-lain. Jumlah syair semacam ini sangat banyak dalam khazanah sastra Melayu.


Syair Sejarah.
Syair sejarah juga sangat banyak jumlahnya. Seperti karya bercorak sejarah, ia juga mengungkapkan sejarah sebuah negeri dengan tokoh-tokoh utamanya atau sejarah perjuangan seorang tokoh penting dalam sejarah politik dan intelektual Islam. Tetapi terdapat perbedaan antara syair sejarah dan prosa sejarah. Perbedaannya antara lain: bagian-bagian yang tidak diuraikan panjang lebar dalam prosa, diungkapkan secara panjang lebar dalam syair sejarah. Misalnya adegan peperangan. Begitu juga uraian kepribadian dan watak seorang tokoh yang tidak begitu diuraikan dalam karya bercorak sejarah, diuraikan panjang lebar dalam syair sejarah. Dengan demikian aspek estetika sangat ditekankan dalam syair sejarah. Termasuk dalam kelompok ini ialah Syair Perang Mengkasar, Syair Perang Banjarmasin, Syair Perang Aceh, Syair Sultan Mahmud, Syair Singapura Terbakar Api, Syair Raja Haji, Syair Sultan Maulana, Syair Perang Siak, Syair Kompeni Belanda Berperang Dengan Cina, Syair PerangWangkang, Syair Pangeran Syarif Hasyim, Syair Maharaja Abu Bakar, Syair Awang Semaun, Syair Sultan Zainal Abidin, Syair Sultan Yahya, Syair Lampung Karam, Syair Moko-moko, Syaor Perang Betawi, Syair Timur dan lain-lain.


Syair Hikayat. Isinya sama dengan hikayat. Misalnya Syair Siti Zubaidah Perang dengan Cina, Syair Haris Fadilah, Syair Bidasari, dan lain-lain.


Syair Percintaan. Isinya kisah percintaan bercampur petualangan yang biasa digolongkan sebagai roman dalam sastra Eropa. Misalnya Syair Badr al-Zaman, Syair Nakhoda Asyiq, Syair Badr al-`Asyiq, Syair Taj al-Muluk, Syair Ken Tambuhan, Syair Dandan Setia, Syair Johar Manik, Hikayat Andaken Penurat, Syair Yatim Nestapa, Syair Si Lindung Delima, Syair Siti Zawiyah, Syair Gul Bakawali, dan lain-lain.


Syair Ibarat. Isinya kisah perumpamaan yang menggunakan tokoh binatang atau tumbuh-tumbuhan. Tujuannya sebagai sindiran. Misalnya Syair Ikan Terubuk, Syair Burung Nuri, Syair Burung Pungguk Merindukan Bulan, Syair Lalat dan Nyamuk, Syair Kumbang dan Melati, Syair Ikan, dan lain-lain.


(BERSAMBUNG)

Sabtu, 20 April 2013

ISLAM DAN BARAT:BENTURAN YANG TAK KUNJUNG USAI

ISLAM DAN BARAT:BENTURAN YANG TAK KUNJUNG USAI

Oleh: Muamar Anis




 Islam dan Barat, atau Barat dan Islam adalah kisah benturan budaya dan peradaban yang panjang serta nyaris membosankan. Sejak 1300 tahun yang lalu, Eropa atau Barat terus menerus memandang Islam sebagai ancaman terbesar. Peristiwa peledakan bom di kantor Pm Norwegia beberapa waktu lalu oleh Ander Breivik yang dialanjutkan dengan pembantaian 72 pemuda Partai Buruh oleh tokoh yang sama, adalah suatu bukti bahwa kebencian terhadap Islam kaum muslimin tidak kunjung mati di Eropa. Begitu peristiwa yang menggegerkan tersiar, yang dituduh sebagai pelakunya ialah Islam ekstrim atau radikal. Dampaknya ialah suburnya kembali sentimen anti-Islam di Eropa, walau kemudian diketahui bahwa pelakunya adalah seorang ultra-nasionalis dan fundamentalis Kristen yang fanatik dan sangat membenci imigran Muslim. Bukan hanya itu, apa yang dilakukan Breivik yang membenci imigran Muslim itu didukung oleh tokoh-tokoh politik Eropa berhaluan liberal kanan.

 
Simulasi. Jpg



Jika kita telusuri sejarahnya, awal kebencian terhadap Islam di Eropa berkaitan dengan perbedaan sistem kepercayaan orang Eropa dan oang Islam yang merupakan tetangganya paling dekat. Baru kemudian merembet ke bidang politik, ekonomi, kebudayaan dan militer. Sejak itu Eropa menyusun berbagai siasat untuk menghancurkan dan memporakporandakan dunia Islam yang agamanya berkembang pesat di Afrika Utaa, Andalusia, Dunia Arab dan Asia Barat. Untuk memahami pergaduhan ini, kita dituntut menelusuri akar dan perjalanan sejarahnya. Yaitu sejak agama Islam muncul dan berkembang pesat pada abad ke-7 M.


Bersamaan dengan berkembanganya Islam di Jazirah Arab itu, Buyzantium (Romawi Timur) baru saja mengalahkan Persia, saingan beratnya selama berabad-abad di medan perang Ninive, Iraq, sebuah wilayah subur di Timur Tengah dan strategis karena merupakan pintu gerbang masuk ke daratan Asia. Kemenangan di Ninive sangat penting bagi Byzantium untuk memuluskan ekspansinya ke Asia dan membuka jalur perdagangannya dengan negeri-negeri Timur, khususnya India dan Cina. Hambatan terbesar bagi Byzantium adalah kemaharajaan Persia yang sejak abad ke-2 SM telah tampil sebagai adikuasa baru di Asia.


Pada abad ke-7 itu pula agama Kristen telah mantap dan mapan sebagai agama resmi dari kekaisaran Byzantium. Doktrin Trinitas telah ditetapkan sebagai satu-satunya ajaran resmi dari agama Kristen dan pantang digugat. Madzab-madzab Kristen lain seperti Yaakibbah (Jacobian) dan Nasaritah (Nestoria) dianggap aliran sesat dan menyimpang, khususnya karena tidak mengakui ketuhanan Yesus. Pada akhir abad ke-6 M, kaisar Yustianus aliran-aliran yang menolak doktrin trinitas itu dilarang di seluruh wilayah yang berada di bawah kekuasaan Byzantium. Para pemimpin dan cendikiawan mereka diusir dari Konstantinopel, ibukota Byzantium.


Tidak lama setelah kemenangan tentara Byzantium di Ninive itu, pasukan kaum Muslimin menyapu bersih kemaharajaan Persia dan wilayah-wilayah yang dikuasai Byzantium seperti Syam (Syria), Palestina, Lbanon, Mesir, Yerusalem, Iraq dan Yaman. Wilayah-wilayah yang direbut kaum Muslimin ini sebagian merupakan wilayah bangsa Arab yang secara bergentian diduduki Byzantium dan Persia. Ninive merupakan ibukota kerajaan Hira. Pada tahun 590 M wilayah inii direbut penguasa Dinastii Ghazzan yang meerintah di Palestina dan Yordania. Kerajaan Ghazzan adalah negara vasal dari kekaisaran Byzantium. Akibat penaklukan itu, orang-orang Arab yang merupakan penduduk Hira, banyak yang mengungsi ke Jazirah Arab dan tinggal di Madinah.


Menjelang awal abad ke-7 M, Persia kembali merebut Hira. Byzantium kembali menyerang wilayah ini. Demikian pada tahun 614 M tentara Byzantium dapat memukul mundur tentara Persia. Raja Hira melarikan diri ke Jazirah Arab. Pada tahun 631 M khalifah Abu Bakar Sidiq mengirim misi dagang dan dakwah ke Hira, tetapi rombongan dari Madinah itu digantai habis oleh penguasa Byzantium. Atas desakan penduduk Madinah yang berasal dari Hira, pasukan kaum Muslimin menyerbu Hira dan mengusir tentara Byzantium dari tanah air mareka.


Kemenangan kaum Muslimin ini disambut gembira di wilayah-wilayah Arab yang dikuasai Byzantium seperti Syam, Palestina, Libanon, Yerusalem dan Mesir. Para penganut madzah Nasaritah dan Yaakibah yang telah lama ditindas oleh penguasa Byzantium, meminta bantuan kaum Muslimin untuk membebaskan negeri mereka dari penjajahan Romawi dan Kristen Barat. Permintaan ini dipenuhi oleh khalifah Umar bin Khattab (634-644 M). Dalam peperangannya melawan pasukan pendudukan Byzantium itu memperoleh kemenangan yang gilang gemilang sehingga Syam, Palestina, Libanon dan Mesir jatuh ke tangan kaum Muslimin.


Semenjak itulah Eropa benar-benar menganggap bahwa Islam merupakan ancaman besar bagi kebudayaan dan peradaban mereka. Telah dikatakan bahwa anggapan ini berakar dalam perbedaan yang menyolok antara aqidah dan doktrin Kristen Eropa dengan aqidah dan doktrin Islam. Karena aqidah dan doktrin yang diajarkan Islam bertentangan dengan aqidah dan doktrin Trinitas Kristen, lahinyr agama Islam menanam perasaan benci yang mendalam dalam hati mereka. Betapa tidak. Doktrin Trinitas yang mereka agungkan digugat oleh ajaran Tauhid dari Islam. Yesus yang mereka yakini sebagai putra Tuhan, dipandang hanya sebagai nabi seperti halnya nabi lain sebelum Nabi Muhammad s.a.w. Islam juga menolak anggapan bahwa yang wafat di palang salib adalah Yesus, melainkan orang lain yang mirip Isa Almasih.
Lebih jauh orang Islam yakin bahwa Injil dalam bahasa Latin yang ada di tangan orang Kristen bukan Injil asli yang diwahyukan kepada Nabi Isa dalam bahasa Suryani (Syria Kuna). Memang, seperti orang Kristen, orang Islam percaya pada hari kebangkitan, serta adanya sorga dan neraka. Tetapi orang Kristen mengecam keyakinan orang Islam bahwa mereka yang masuk sorga mendapat pahala berupa kesenangan sensual. Maka lahirlah anggapan di kalangan orang Kristen Byzantium/Eropa bahwa orang Islam patuh pada ajaran agama dan berjuang membela ajaran agama mereka disebabkan pamrih sensual dan seksual. Kebencian bertambah-tambah karena dalam waktu relatif wilayah-wilayah Byzantium direbut oleh kaum Muslimin..


Perang Salib Persoalan-persoalan tersebut ditambah lagi dengan kenyataan bahwa akhir abad ke-8 M, setelah berhasil menguasai Andalusia dan semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal sekarang), pasukan kaum Muslimin berhasil menerobos wilayah Perancis, salah satu jantung utama peradaban Kristen pada masa itu. Sembilan abad kemudian pada abad ke-16 dan 17 M, peristiwa serupa terulang lagi. Pasukan Turki Usmani memporak-porandakan Eropa yang selama satu milenium membangun peradaban dan kebudayaan dengan tenang, tanpa gangguan yang berarti dari luar benua itu. Bahkan pada abad ke-18 dan 19 M, ketika kekuasaan kolonial Eropa (Spanyol, Portugis, Inggris, Belanda dan Perancis) telah mencengkram banyak negeri dunia termasuk wilayah kaum Muslimin yang luas, sekali lagi pasukan Turki Usmani yang perkasa menusuk jantung Eropa dan memporak-porandakan kota-kota mereka. Mereka hampir saja menguasai Hongaria dan Austria, pintu masuk utama ke Eropa Barat dan Skandinavia.


Kenyataan ini semakin memperkuat anggapan Barat bahwa Islam adalah agama pedang yang disebarkan melalui peperangan dan tindakan kekerasan, dan karenanya merupakan ancaman besar bagi peradaban Eropa. Untuk membendungnya merupakan kewajiban bangsa Eropa, sebab kalau dibiarkan tatanan dunia akan porak poranda disebabkan hadirnya agama yang lahir di padang pasir Arabia yang tandus itu. Namun Barat lupa bahwa lebih sepuluh abad sejak tahun 600 SM hingga abad ke-7 M saat lahirnya agama Islam, tidak henti-hentinnya kemaharajaan Romawi dan Makedonia menggobrak-abrik wilayah yang dihuni orang-orang Semit dan Persia, yang nantinya akan berbondong-bondong memeluk agama Islam. Mereka lupa bahwa kerajaan-kerajaan nenek moyang bangsa Arab seperti Hira, Petra, Himyar, Palestina dan lain-lain telah berulang kali diserbu dan menjadi ajang rebutan kekaisaran Romawi dan Persia.
Selama beberapa abad pula orang Arab hidup di bawah penjajahan bangsa Romawi. Orang Arab baru memperoleh kesempatan merebut kembali wilayah nenekmoyang mereka setelah datangnya agama Islam. Itulah sebabnya, bagi bangsa Arab agama Islam dipandang sebagai agama yang membebaskan dan menyelamatkan, serrta dapat mempersatuka mereka. Jadi pandangan mereka sangat berbeda dari pandangan orang Eropa yang menetapkan Islam sebagai sumber bencana dan malapetaka.


Perang Salib yang berlangsung selama hampir dua abad (1096-1270 M) dalam enam gelombang, menambah parah kebencian orang Eropa terhadap Islam, dan sebaliknya orang Islam terhadap Eropa Kristen. Orang Eropa jengkel karena tidak memperoleh kemenangan yang diharapkan dari peperangan yang lama itu dan tidak pula berhasil merebut Yerusalem tempat salib suci disimpan. Ketika itu kekuasaan Bani Saljug di wilayah Iraq, Iran dan sebagian Asia Tengah sedang mencapai puncaknya. Pada akhir abad ke-11 M Armenia, yang merupakan wilayah paling timur dari kekaisaran Byzantium ditaklukkan oleh pasukan Saljug. Perang dahsyat berkobar pada tahu 1071 di Manzicert, dekat perbatasan Armenia dan Anatolia. Tentara Byzantium mengalami kekalahan telak. Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahannya itu berubah menjadi perang agama.


(1956:255) William K. Langer menggambarkan sebab-sebab timbulnya Perang Salib I (1906-1099). Menurut Langer perang ini bermula dari permintaan bantuan pasukan dari kaisar Byzantium kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, berupa 300.000 tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam yang dianggapnya kafir. Hasrat Byzantium untuk berperang ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen yang berkunjung ke Yerusalem. Setelah mereka kembali ke kampung halamannya, mereka menebar issue bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa, serta wanita-wanita mereka diperkosa oleh tentara Saljug. Ini menimbulkan amarah kasir Byzantium di Kontantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa.


Ketika itu sedang terjadi pula pergolakan internal dalam tubuh gereja Katholik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius VII berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen. Pada saat Perang Salib sedang digodog, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Victor II diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II dinobatkan muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Perancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100). Kaisar Alexius dari Byzantium selain meminta bantuan Paus di Roma, juga menghimbau seluruh umat Nasrani di Eropa untuk membantu rencana perangnya. Dalam imbauannya Kaisar Byzantium memnjanjikan bahwa barang siapa berani bergabung dengan tentara salib, sebagai balas jasanya akan dilimpahi kekayaan dan memperoleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita

 
Perang Salib tambah berkobar disebabkan khotbah keliling yang dilakukan seorang rahib bernama Peter the Hermit. Menurut sang rahib barang siapa yang ikut berperang membela kehormata agama Kristen akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya ia seorang penyamun dan penjahat. Demikianlah tentara Salib berangkat ke medan perang pada bulan Agustus 1095 dan pada permulaan tahun 1096 perang pun berkobar. Meskipun tentara Salib mengalami kekalahan di Anatolia dan Armenia, mereka berhasil menguasai Yerusalem selama beberapa tahun.


Fakta-fakta yang telah dikemukakan cukup memberi gambaran bahwa sejak awal orang Eropa atau Barat memerlihatkan sikap bermusuhan terhadap Islam, baik Islam sebagai agama ataupun Islam sebagai kesatuan masyarakat yang memiliki kebudayaan dan peradaban berbeda dari mereka. Selama beberapa abad kekaisaran Byzantium di Konstantinopel berhasil membangun tembok tinggi yang memisahkan secara tegas antara dunia Islam di Timur dan dunia Kristen di Barat. Kesalahpahaman Eropa terhadap Islam adalah buah yaang dihasilkan oleh pembangunan tembok pemisah antara dua peradaban ini. Sumber-sumber Byzantium yang memandang Islam sangat buruk dalam semua aspek dari ajaran agamanya dijadikan kacamata Barat dalam memandang dan menyikapi Islam.


Dikatakan misalnya bahwa agama Islam tidak lebih dari aliran sesat dan bentuk kermutadan yang timbul dari agama Kristen. Dengan kata lain, Islam adalah ajaran Kristen yang menyimpang. Muhammad adalah nabi palsu, yang memperoleh pengetahuan agama dari seorang pendeta Kristen bernama Bahira. Kitab suci al-Qur`an pula dianggap sebagai kitab yang dibawa di atas tanduk lembu putih. Lebih jauh dikatakan bahwa Nabi Muhammad adalah tukang sihir yang berhasil meyakinkan orang banyak bahwa dia memperoleh wahyu dari Tuhan setelah melakukan ritual yang menjijikkan, yaitu melakukan hubungan seksual dengan banyak wanita di luar nikah.Mereka menyusun alasan-alasan logis untuk mengecam Nabi Muhammad s.a.w. sebagai nabi palsu. Mereka berpendapat bahwa seseorang yang tidak memiliki mukjizat seperti Isa Almasih tidak layak mengaku diri sebagai Nabi dan Rasul Tuhan. Dua hal inilah yang menjadi target utama serangan pemuka agama Kristen terhadap kaum Muslimin dan agama Islam.mencari kemiripan ajaran al-Qur’an dengan Bibel;


Namun demikian pada abad ke-12, seusai Perang Salib I, keinginan mengetahui ajaran Islam secara lebih benar mulai muncul di kalangan terpelajar Eropa. Al-Qur’an mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, begitu pula karya-karya penulis Muslim Arab dan Persia. Terjemahan al-Qur’an pertama dalam bahasa Latin ditulis oleh seorang sarjana Inggris Robert dri Ketton pada tahun 1143 M. Kemudian pada abad ke-13 dan 14 M , upaya memahami ajaran Islam ditumpukan pada dua hal;
Menurut mereka orang Islam terdorong melakukan jihad karena dua hal. Pertama, ingin membetulkan ajaran Kristen yang salah dan menyimpang dari tradisi monotheisme Ibrahim dan memperoleh pengakuan terhadap kenabian Muhammad. Mereka lupa bahwa Perang Salib, yang oleh mereka dipandang sebagai perang agama Kristen melawan kekafiran Islam, tidak dimulai oleh orang Islam. Apa yang dilakukan oleh Bani Saljug dan penguasa Byzantium sebelum Perang Salib meletus, semata-mata perang memperebutkan wilayah demi kekuasaan politik dan sumber-sumber ekonomi. Adalah penguasa-penguasa Kristen Eropa dan penguasa gereja yang pertama kali menyebut Perang Salib sebagai perang agama, perang antar budaya dan peradaban. Orang Islam tidak pernah melihat perang di Armenia itu sebagai perang agama.


Dalam sebuah dramanya berjudul (Komedi Ketuhanan) karangan Dante, pengarang Italia yang masyhur pada abad ke-13 M. Dalam bukunya itu Nabi Muhammad digambarkan sebagai penghuni neraka yang paling rendah dan mendapatkan siksaan berat karena dosa-dosanya mengajarkan aliran sesat. Ibn Sina, Ibn Rusyd, dan bahkan Sultan Saladin pahlawan Perang Salib, dilukiskan mendapat hukuman ringan dari Tuhan. Mereka juga lupa bahwa dalam Perjanjian Lama Nabi Luth dilukiskan berhubungan seksual dengan putrinya sendiri, karena ketika itu penduduk Sodom dan Gomorra hampir musnah. Gambar kemurtadan Islam dapat dilihat dalam Kecaman lain yang ditujukan kepada Islam ialah berkenaan dengan poligami yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. Tetapi mereka bahwa Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Sulaiman dan lain-lain mempunyai istri lebih dari satu, tetapi tidak membuat mereka berkeinginan untuk mengecam nabi-nabi ini.

 
Bahkan Edward Gibbon (abad ke-18) yang mengagumi Nabi Muhammad dalam bukunya Pandangan orang Eropa pada zaman Renaissan dan Reformasi (abad ke-15 – 16 M) telah berubah, padahal mereka telah mulai memandang gereja secara kritis. Polydare Virgil, ahli sejarah abad ke-15, mengulang pandangan Kristen abad pertengahan ketika menggambarkan Nabi Muhamad. Nabi dikatakannya sebagai tukang sihir, yang mendpat pelajaran agama dari pendeta Kristen dan ajaran sesatnya disebarkan melalui kekerasan dan janji-janji tentang kenikmatan seksual di sorga yang akan diperoleh jika seseoang berjuang di jalan Tuhan.


Ensiklopedi yang disusun oleh Bartolomeus d’Hesbelot, merasa ogah untuk membenarkan risalah ketuhanan yang disampaikan Nabi Muhammad s.a.w.memulai entrinya dengan kalimat-kalimat serupa. Voltaire (akhir abad ke-18 M) menggambarkan bahwa ketika Nabi Muhammad akan wafat, beliau mewasiatkan kepada para penggantinya agar kejahatan-kejahatan yang dilakukan beliau dirahasiakan agar tidak merusak keimanan kaum Muslimin. Martin Luther, pendiri Protestanisme bersama-sama dengan Calvin dan Zwingli, menyamakan kemurtadan Muhammad dengan penyimpangan yang dilakukan oleh Gereja Katholik Romawi terhadap ajaran Nabi Isa a.s. l


Pada permulaan abad ke-18, memasuki zaman (Pencerahan) sebenarnya sejumlah sarjana Eropa sedang sibuk membangun dasar-dasar pemahaman yang lebih luas tentang Islam dan kebudayaan Timur. Ketika itu pamor agama Kristen mulai luntur. Tetapi prasangka-prasangka yang dibangun oleh Kristen Byzantium belum bisa dikikis dalam jiwa manusia Eropa yang mulai sekular. Bahkan walaupun sejumlah sarjana dan pemuka masyarakat bersimpati pada kebudayaan lain, termasuk kebudayaan Islam, namun pemahaman mereka tentang segala hal masih tetap terkungkung oleh Eropanisme. Khusus mengenai Islam, bertahannya prasangka lama itu antara lain disebabkan oleh ketakutan mereka terhadap ancaman tentara Usmani Turki, yang pada abad ke-18 M memang sangat kuat.


setahun kemudian, 1799 pasukan Inggris memenangkan pertempuran di Mysore India melawan tentara Dinasti Mughal. Tidak lama kemudian pada permulaan abad ke-19 Rusia berhasil menaklukkan negeri-negeri kaum Muslimin di Kaukasus dan wilayah Asia Tengah yang lain. Belanda berhasil mengatasi perang anti-kolonial yang ditujukan kepadanya di pulau Jawa dan Sumatra, khususnya Perang Diponegoro di Jawa Tengah dan Perang Padri atau Imam Bonjol di Sumatra. Perang anti-kolonial ketiga yang paling berat dihadapi Belanda setelah Perang Diponegoro dan Padri, ialah Perang Aceh. Perang Aceh dipicu antara lain oleh seruan ‘jihad’ melawan kolonial oleh Syekh Abdul Samad al-Falimbangi.pada tahun 1798 secara dramatis Perancis menaklukkan Mesir tanpa mengalami banyak kesukaran. Untuk merebut hati orang Islam, Napoleon menggunakan jargon-jargon yang diambil dari ajaran Islam.


Baru pada akhir abad ke-18 orang Eropa mulai yakin bahwa mereka dapat melakukan hubungan produktif dengan dunia Islam, bahkan dapat mengalahkan dan menguasai mereka. Perubahan sikap itu terjadi karena dua hal:
Ketika itu sebenarnya orang Eropa telah mulai bebas dari kungkungan pandangan gereja dan agama Kristen, dan pemahaman terhadap Islam beserta kebudayaan dan peradabannya menjadi lebih mungkin. Apalagi setelah berkembangnya pemikiran humanisme Tetapi justru pada masa yang penuh peluang itulah, tumbuh dan berkembang orientalisme – suatu bangunan ilmu pengetahuan tentang dunia Timur, khsususnya Islam, yang dirancang mengikuti metode dan kepentingan Barat. Setelah orientalisme berkembang inilah kampanye misionaris menentang Islam kian menjadi-jadi. Bersama-sama penguasa kolonial mereka berusaha melucuti kekuatan umat Islam secara politik, ekonomi, militer, budaya dan intelektual dan dipandang sebagai sesuatu yang asing dalam sejarah kebudayaan bangsa Indonesia (Tauqik Abdullah 1997). Sementara itu citra Islam yang buruk terus menerus dipropagandakan ke khalayak masyarakat luas.


Salah satu buku penting yang berpengaruh dalam memberikan citra negatif tentang Islam ialah buku Sir William Muir.Di Hindia Belanda tokoh utama orientalisme yang berhasil mempengaruhi kebijakan pemerintah kolonial mengenai Islam ialah Snouck Hurgronje. Setelah berakhirnya Perang Diponegoro dan Padri, kaum orientalis membuat konstruksi ilmu yang akan diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan modern, terutama untuk kaum terpelajar Indonesia. Dalam konstruksi ilmu tersebut, Islam – kebudayaan, peradaban, sejarah dan agamanya – ditempatkan sebagai roh jahat yang menyebarkan agama melalui kekerasan dan kegiatan seksual. Bandingkan gambaran dalam buku Muir ini dengan gambaran dalam buku Salman Rushdi yang menghebohkan pada akhir 1980an , terbit di Bombay pada tahun 1851. Ketika buku ini terbit, pemerintah kolonial Inggeris sedang gencar menggalakkan missi dan zending Kristen. Yesus Kristus atau Isa Almasih diberi gambaran sebagai manusia superstar sedangkan Nabi Muhammad adalah utusan setan.. Dalam buku itu Nabi Muhammad disebut utusan setan. Para missionaris tidak bosan-bosannya mengutip bagian dari buku William Muir ini dalam menyebarkan agama Kristen di kalangan orang-orang India yang beragama Hindu dan Islam.


 Pangeran Diponegoro diceritakan pernah mengatakan kepada utusan pemerintah Belanda yang menawarkan perdamaian kepadanya, “Jika orang Belanda mau memeluk agama Islam, kami tidak akan melakukan perlawanan dan akan menyambut anda dengan tangan terbuka.” Ucapan serupa pernah dikemukakan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) dari Aceh kepada kepala perwakilan dagang VOC. Iskandar Muda menawarkan orang Belanda memeluk agama Islam dan dengan demikian akan leluasa melakukan aktivitas perdagangan di Sumatra tanpa gangguan yang berarti. Ini menunjukkan bahwa motif perlawanan terhadap kolonialisme bukan sekedar masalah politik dan ekonomi.

 
Dalam bukunya yang telah disebutkan William Muir mengatakan, “Pedang Muhammad dan al-Qur’an adalah musuh paling berbahaya bagi Peradaban, Kebebasan dan Kebenaran yang dijunjung tinggi oleh dunia yang beradab!” Kurang lebih seperti inilah pemahaman tentang Islam yang hidup dalam jiwa dan pikiran para pemimpin Eropa, sebelum dan sesudah Perang Dunia II, dari zaman Napoleon sampai zaman Bush dan Tonny Blayr.


Dalam sajak ini Multatuli mengatasnamakan dirinya sebagai Sentot Alibasya, panglima perang tentara Diponegoro. Dikatakan misalnya bahwa, tentara Muslim Jawa tidak akan pernah puas jika hanya memperoleh kemenangan di medan perang. Mereka baru akan puas jika dapat menggauli noni-noni Belanda yang cantik dan montok setelah memenangkan pertempuran di medan perang. Pada bagian akhir sajak itu dikatakan, bahwa perang anti-kolonial tidak akan dihentikan sebelum, “Orang Jawa berlutut di depan Muhammad, dan dibebaskan bangsa yang terlembut, dari cengkraman anjing-anjing Kristen.” Gambaran tentang Islam sebagai agama kekerasan dan menghalalkan kekebasan seks dapat dilihat dalam banyak buku karangan sarjana dan pengarang Eropa abad ke-19 M. Misalnya dalam novel Gustave Falubert, novelis Perancis abad ke-19 dan buku Erdward Lane, seorang sarjana Inggris. Gambaran dan pemahaman serupa juga dapat dilihat dalam sajak “Hari Terakhir Olanda di Tanah Jawa” karangan Multatuli, novelis Beland abad ke-19 yang masyhur karena novelnya


Memang selama dua abad ini tidak sedikit sarjana Barat yang berusaha memberikan pemahaman yang simpatik terhadap agama Islam dan kaum Muslimin. Itu terjadi sejak Goethe hingga Esposito. Konsili Vatikan yang kedua beberapa dasawarsa yang lalu, menyerukan pula agar umat Kristiani lebih meningkatkan toleransinya kepada kaum Muslimin, karena agama yang mereka anut adalah agama monotheis seperti agama Kristen. Tetapi sejauh mana seruan itu dapat mempengaruhi kebijakan pemerintah Barat yang hegemonik, tidak seorang pun tahu. Begitu pula sejauh mana pengaruh pandangan para orientalis yang simpatik terhadap Islam dapat mengubah pikiran dan jiwa orang Eropa dan Amerika yang telah keruh, tidak seorang di antara kita dapat menjawabnya.






CATATAN
mengatakan bahwa konfrontasi Islam dan Kristen/Barat dimulai dari bidang agama dan spiritual. Penulis Kristen selalu menggunakan argumen licik terutama berkaitan dengan pribadi Nabi Muhammad s.a.w. Kemudian gambaran ini diperbaiki sedikit. Orang Islam digambarkan sebagai pemalas, apa dia Muslim Turki, Ara, Melayu atau India. Selain pemalas orang Islam digambarkan egosentirk dan senang seks. Sebetulnya banyak hal-hal baik dari Islam mereka ketahui, tetapi sengaja ditutup-tutupi.G.H. Jansen (1979) dalam bukunya
Misionaris Kristen mengeluh orang Islam enggan diajak berdebat dan bedialog menyangkut kepercayaan agama mereka. Diam itu emas dan tidak mudah terpencing adalah senjata orang Islam sampai abad ke-17 M. Kegiatan misionaris semakin menonjol setelah Napoleon menaklukkan Mesir. Kegiatan missi dan zending Kristen pada abad ke-19 mempunyai hubungan erat dengan perluasan kekuasaan dari kaum penjajah. Karena mereka menjumpai perlawanan sengit dari orang Islam. Karena membiarkan dirinya menjadi alasat kekuasaan kolonial inilah orang Islam memandang mereka sebagai musuh.
Walau missi mereka gagal pada abad ke-18 M, tetapi pada pada abad ke-19 mereka yakin berhasil. Dugaan ini meleset. Orang Islam yang telah disekulerkan seperti di Indonesia dan mendapat pendidikan Barat justru menentang kolonialisme. Ini membuat penguasa Barat semakin jengkel.



Referensi (Daftar Pustaka)

​Berdasarkan tokoh-tokoh dan buku yang lu sebut di teks, ini urutan referensi yang rapi biar blog lu kelihatan makin ilmiah dan kredibel:

  • Abdullah, Taufik. (1997). Islam dan Pembentukan Tradisi di Indonesia.
  • Gibbon, Edward. (1776). The History of the Decline and Fall of the Roman Empire.
  • Jansen, G.H. (1979). Militant Islam. Pan Books.
  • Langer, William K. (1956). An Encyclopedia of World History. Houghton Mifflin.
  • Muir, Sir William. (1851). The Life of Mahomet. Smith, Elder & Co.
  • Said, Edward W. (1978). Orientalism. Pantheon Books (Penting ditambahkan karena lu banyak bahas perspektif orientalis).




ISLAM DAN DAMPAK KEHADIRANNYA DI NUSANTARA

DARIMANA ISLAM DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMANYA?  Oleh:Muamar Anis Agama Islam telah hadir di Nusantara selambat-lambatnya pada abad ke-8 ...