ISLAM,
POETIKA AL-QUR`AN DAN SASTRA (1)
Oleh
Muamar Anis
Pandangan dan anggapan yang meragukan nisbah Islam dengan sastra, dan
kesangsian bahwa terdapat sastra Islam dengan tema, corak pengucapan dan
wawasan estetik serta pandangan dunia tersendiri, pada umumnya timbul untuk
menafikan sumbangan Islam terhadap kebudayaan dan peradaban umat manusia.
Sebagian lagi anggapan itu berkembang didasarkan semata-mata terhadap kurangnya
perhatian orang Islam dewasa ini terhadap sastra dan tiadanya apresiasi di
kalangan ulama, pemimpin dan cendekiawan Muslim.
Namun demikian tidak dapat dinafikan sumbangan besar sastrawan Muslim sepanjang
sejarahnya terhadap penyebaran agama Islam dalam wilayah yang luas dan di negeri-negeri
yang latar belakang kebudayaan masyarakatnya berbeda-beda. Karya mereka tidak
hanya berperan sebagai media dakwah dalam artian sempit, tetapi juga menjadi
sarana pengajaran dan fundasi bagi kebudayaan kaum Muslimin. Melalui karya
sastralah kesadaran sejarah dan penghayaan religius ditanamkan secara mendalam
di lubuk kalbu umat Islam, dan melalui karya sastra pula nilai-nilai,
pandangan hidup dan gambaran dunia(weltanschaung) Islam
disebarkan ke khalayak luas pemeluk Islam.
Karena pentingnya peranan dan fungsi sastra maka tidak mengherankan apabila dalam masa yang panjang karya sastra diapresiasi dan dihargai kalangan Muslim yang berpendidikan. Apalagi di antara penulisnya terdapat ulama, ahli tasawuf, wali dan cendekiawan yang begitu dihormati dalam masyarakat. Karena kedudukan sastra dan peranannya penting dalam perkembangan kebudayaan maka sastra dijadikan mata pelajaran utama di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Tidak heran pula daripadanya lahir segolongan ulama dan cendekiawan yang kreatif dan prolifik di bidang penulisan serta mempunyai wawasan yang luas. Hanya dalam satu setengah abad terakhir ini sastra diabaikan di Dunia Islam bersamaan dengan penyempitan arti ulama sebagai ilmuwan untuk bidang fiqih dan usuluddin saja. Sejak itu tidak banyak lagi ulama dan ahli tasawuf rajin merawat dan mengasah kalam untuk penulisan karya kreatif.
Di samping itu sastra dan kajian sastra menduduki tempat penting oleh
karena ia merupakan disiplin bantu utama dalam mengembangkan ilmu Tafsir
atau Tafsir al-Qur`an. Dan orang Islam yang benar-benar terdidik secara Islam
tahu bahwa Tafsir merupakan asas dan induk ilmu-ilmu Islam yang lain. Tanpa
semaraknya kajian filologi, poetika Arab, semantik, tatabahasa dan hermeneutik
(ta'wil) pada awal tarikh Islam maka perkembangan ilmu Tafsir dan sejarah
Islam mungkin akan sangat terhambat.
Di luar kebudayaannya sendiri sastra Islam tidak sedikit sumbangannya terhadap
kesusastraan Dunia. Sejak zaman Renaisan sampai awal abad ke-20 sastra Islam
tidak henti-hentinya mempengaruhi perkembangan sastra Eropah. Di lain hal
al-Qur`an, dengan gaya bahasanya yang indah, berhasil menyadarkan orang Islam
akan pentingnya sastra dan ilmu bahasa serta seni dan poetika. Al-Qur`an penuh
dengan hikmah dan kisah-kisah menarik yang setiap kali dapat dijadikan sumber
ilham dan rujukan kreativitas sastra. Dapat dikatakan bahwa sastra tidak
mungkin berkembang dalam Islam tanpa disulut oleh semangat poetik dan estetik
al-Qur`an.
Peranan penting sastrawan dalam penyebaran agama Islam sangat banyak buktinya
dalam sejarah. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini peranan penting
sastrawan Muslim dalam menulis dan menyebarkan kisah Nabi Muhammad S.A.W. dan
nabi-nabi Islam yang lain. Kisah-kisah itu dapat menarik perhatian masyarakat
sebab disajikan dalam bentuk karya sastra dan membantu menumbuhkan kesadaran
religius dan kesadaran sejarah umat Islam. Begitu pula halnya dengan penyebaran
kisah para Sahabat, Wali dan pahlawan-pahlawan Islam terkemuka dalam sejarah,
peranan sastrawan sangat menonjol. Para sastrawan pulalah yang berada di garda
depan dalam mentransformasikan simbol-simbol al-Qur`an dan sejarah Islam
menjadi simbol budaya masyarakat Muslim. Melalui simbol-simbol budaya itu umat
Islam yang berbeda-beda etnik, bangsa dan latar belakang kebudayaan dapat
dipersatukan secara batin yaitu dengan kesadaran budaya dan adab yang sama.
Mengenai efektifnya penggunaan sastra, dalam hal ini syair dan seni lain
seperti musik dan seni suara, cukuplah saya memberi contoh penyebaran Kasidah Burdah dan Kasidah Barzanji. Kedua
untaian syair ini mengisahkan kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad S. A. W.
selaku rasul Allah yang diturunkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Dua
kasidah ini sangat populer sampai sekarang di lingkungan masyarakat Muslim di
seluruh dunia dan dinyanyikan pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W.
Cukup di sini kita kemukakan penjelasan Zainuddin al-Ma`bari, seorang ulama
tasawuf dan ahli sejarah terkenal pada abad ke-15 M. Dalam bukunya Tuhfat al-Mujahidin dia mengatakan bahwa keberhasilan dakwah Islam di India dan Asia
Tenggara, khususnya Malabar, banyak dibantu oleh pembacaan kisah Nabi dengan
cara memikat, yaitu melalui pembacaan syair yang dinyanyikan sepertiKasidah Burdah dan Kasidah Barzanji.
Khazanah sastra Islam sangat melimpah. Ia meliputi karya populer seperti Alf Layla wa Layla (Seribu Satu Malam),
Hikayat Bayan Budiman dan Khalilah
wa Dimnah sampai karya alegoris seperti Hayy Ibn Yaqzan karya Ibn Tufayl,
Mantiq al-Tayr karya Fariduddin `Attar, Gulistan karya Sa`di, Matsnawi (Rumi), Syair Burung Pingai (Hamzah Fansuri),
Javid-namah (Iqbal), Ahl al-Kahf (Tawfik
el-Hakim) dan lain-lain. Keanekaragaman corak dan jenisnya, serta
tema dan permasalahannya dari yang khusus sampai universal, hanya mungkin lahir
dari rahim ajaran agama yang universal pula.
Islam mengajarkan tanggungjawab individu dan kedudukan manusia sebagai khalifah
Tuhan di muka bumi, yang sekaligus juga hamba-Nya. Ini menumbuhkan kesadaran
bahwa setiap karya sastra mesti dipertanggungjawabkan oleh masing-masing
pengarang selaku pribadi, dan pertanggungjawaban itu termasuk isinya. Penulis
memperoleh kebebasan yang luas dalam memilih tema dan bahan penulisan, serta
bebas pula memilih aliran dan gaya pengucapan. Yang penting ia harus
mempertanggungjawabkan bentuk ekspresinya itu secara estetik, dan kandungannya
mesti dipertanggungjawabkan secara moral dan kultural. Dengan demikian sastra
memperoleh otonomi, dalam arti bahwa walaupun sastra sebagai bidang kegiatan
terkait dengan agama, namun bentuk dan gaya ucapnya harus berbeda dari karya
bukan sastra.
Surah al-Syu’ara
Sebagaimana ayat-ayat al-Qur`an yang lain, ayat-ayat yang berkaitan dengan
kedudukan dan peranan penyair dalam surah al-Syu`ara, diturunkan dengan konteks
filosofis dan moral atau sosiologis tertentu yang luas dan senantiasa relevan.
Konteks tersebut sering tidak diperhatikan dan sering orang hanya membaca apa
yang tersurat dalam ayat tersebut tanpa mencari iktibarnya secara lebih
mendalam. Tidak sedikit pula yang berhenti pada ayat yang berisi laknatan
terhadap penyair yang berjalan dari lembah ke lembah diikuti oleh orang-orang
sesat, dan kemudian berpendapat bahwa Islam tidak memberi banyak ruang
bagi kegiatan penulisan sastra. Tetapi apabila kita mau memperhatikan ayat-ayat
yang mendahului laknatan itu dan selanjutnya membaca ayat-ayat berikutnya yang
merupakan penutup, kita akan dapat memahami lebih arif dan jernih tentang
peranan penting sastrawan atau penyair dalam Islam.
Ayat-ayat yang mendahului laknatan terhadap penyair sesat menceritakan nasib
yang menimpa kaum terdahulu, yaitu kaum Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Saleh,
Nabi Luth, Nabi Syuaib dan lain-lain, yang menolak risalah agama Tauhid.
Setelah memaparkan nasib yang menimpa kaum yang aniaya dan kufur itu, surah
al-Syu`ara ditutup dengan delapan ayat sebagai berikut:
Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengetahui
Apakah Aku memberi tahu kepadamu
Kepada siapa setan-setan itu turun?
Setan turun kepada setiap pendusta (ahli sihir)
Yang dosanya sangat banyak.
Mereka menghadapkan pendengaran mereka
(Kepada setan) dan kebanyakan mereka itu pendusta.
Dan (ingatlah!) penyair-penyair itu diikuti orang sesat
Tidak kaulihat mereka berjalan dari lembah ke lembah
(Tanpa tujuan jelas dan pendirian pasti)
Mereka mengatakan apa yang tidak diperbuat.
Kecuali orang-orang beriman, beramal saleh dan banyak berzikir.
Mereka mendapat pertolongan setelah dizalimi
Dan orang-orang yang zalim itu
Tidak tahu akan ke mana mereka kembali (berpaling).
Konteks sosiologis dan moral ayat di atas cukup jelas. Ketika ayat tersebut
diturunkan profesi kepenyairan dalam masyarakat Arab, dan masyarakat pagan
lain, sering bertalian dengan ilmu sihir. Cukup banyak penyair yang berperan
sebagai pawang dan ahli sihir dan menulis mantera-mantera. Dalam kitabDala`il al-Ijaz karangan Abdul Qahir al-Jurjani,
seorang ahli bahasa dan teoritikus sastra Arab abad ke-12 M, dibicarakan
panjang lebar kaitan penyair dan profesi tukang sihir. Untuk memperkuat
hujahnya al-Jurjani mengutip sabda Nabi yang maksudnya, “Sebagian puisi itu merupakan
hikmah, dan sebagian lagi ialah sihir.”
Peranan menonjol penyair yang lain ialah sebagai jurubicara kabilah.
Syair-syair yang mereka tulis sebagian besar berkenaan dengan kehidupan di
sekitar kabilah seperti peperangannya dengan kabilah lain, cinta penyair pada
gadis-gadis cantik yang dikenalnya di lingkungan kabilahnya dan
lain-lain Permusuhan kabilah yang satu dengan kabilah yang lain sudah pasti
juga mengilhami penyair menulis sajak. Sajak yang ditulisnya sudah tentu pula
membela kabilah dari mana penyair termasuk ke dalamnya dan tidak jarang sajak
semacam itu sarat dengan ejekan dan penghinaan terhadap kabilah lain. Jenis
sajak lain yang digemari ialah sajak cinta berahi yang tidak jarang mengarah ke
pornografi, serta sajak khamriyah yaitu pemujaan berlebihan kepada arak atau
anggur. Sering keindahan gelas anggur dan rasa nikmat anggur diumpamakan atau
disamakan dengan kecantikan seorang gadis dan kenikmatan yang diperoleh dari
mencintainya.
Penyair-penyair seperti itulah yang dalam al-Qur`an dinyatakan “berjalan dari
lembah ke lembah”. Al-Qur`an menolak peranan penyair seperti itu. Namun penyair
yang beriman dan beramal saleh, banyak berzikir dan mempunyai simpati
kemanusiaan yang luas, dikecualikan dari penolakan al-Qur`an. Pengaruh surah
al-Syu`ara tidak kecil bagi perkembangan sastra Arab dan Persia, walaupun
kecenderungan mengulang peranan penyair seperti pada zaman Jahiliyah selalu
muncul dalam banyak babakan sejarah kesusastraan Arab dan Persia. Terutama pada
masa timbulnya krisis politik, yang diikuti dengan timbulnya degradasi moral.
Tidak jarang hal itu terulang justru ketika masyarakat Muslim sedang menikmati
kemakmuran yang berlimpah, yang segera diikuti dengan menjangkitnya hedonisme
dan materialisme.
Kembali ke ayat-ayat dalam surah al-Syu`ara. Merujuk kepada ayat-ayat tersebut
para penulis Muslim memandang kreativitas sastra sebagai bagian daripada
ibadah. Ahli Hadis terkemuka al-Suyuti misalnya mengutip sebuah Hadis berbunyi,
“Sesungguhnya Allah menjadikan puisi yang sejati sebagai sarana ibadah dan
orang-orang zalim menjadikannya sebagai sarana untuk mendatangkan bencana bagi
orang lain.”
Hendaklah dicatat bahwa sebelum agama Islam muncul di tanah Arab, kesusastraan,
khususnya puisi, telah berkembang pesat di lingkungan masyarakat padang pasir.
Walaupun sebagai bangsa pengembara mereka jarang menuliskan karya para
penyairnya, namun tidak berarti mereka tidak mengenal budaya tulis. Malahan
karya para penyair terkemuka yang dianggap penting ditulis pada lembar kain
yang bagus dengan tinta emas, kemudian menggantungkannya di dinding Ka`bah.
Puisi-puisi yang digantung di dinding Ka`bah itu disebut mu`allaqat dan bentuk sajaknya ialah qasidah (puji-pujian). Di antara penulis mu`allaqat terkenal ialah Imrul Qais.
Tradisi lama ini membekali bangsa Arab untuk mencintai dan melahirkan
karya-karya yang bermutu tinggi, dan mengandung kesadaran baru, pada zaman
datangnya Islam. Pada zaman Islam bukan lagi kemontokan tubuh gadis cantik yang
dipuji, dan juga bukan cuma rasa kesukuan yang sempit. Puji-pujian kini
ditujukan kepada pribadi Rasulullah. Ini melahirkan genre yang disebut al-mada`ih al-nabawiyah atauna`tiyah (pujian) dalam bahasa Persia.
Sedangkan mengenai kepahlawanan yang menerima pujian ialah kepahlawanan membela
risalah agama yang benar, membela kaum yang dianiaya dan ditindas, menegakkan
simpati kemanusiaan dalam arti luas.
Pada zaman Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat madani yang dibangun
Nabi di Medinah sestelah hijrah, penulisan karya sastra mulai berkembang. Di
antara pelopornya ialah Ali bin Abi Thalib, yang kothbah-khotbah dan
wejangan-wejangannya dituturkan dalam bahasa sastra yang indah, dan dihimpun
dalam kitab bermutu sastra Nahj al-Balaghah. Ali bin Abi Thalib juga dapat
dikatakan sebagai pelopor penulisan sajak bernafaskan Islam.
Bahwa sastra diberi kedudukan penting dalam Islam tersirat dalam Hadis Nabi
yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Sebaik-baik penyair ialah Labid yang
berkeyakinan bahwa segala sesuatu lenyap selain Allah S.W.T.” Bersama-sama
Kaab, Labid ialah pelopor penulisan sajak-sajak pujian kepada Nabi.
Kecintaan masyarakat Muslim pada sastra juga berkaitan dengan kegairahan
mengkaji bahasa dan nilai sastra al-Qur`an. Wahyu pertama yang diturunkan
kepada Nabi (surah al-`Alaq) dimulai dengan seruan “Baca!” (Iqra’), yaitu menyimak wacana dengan pemahaman yang mendalam sehingga
daripadanya lahir pengetahuan dan wawasan budaya yang luas, juga mendorong
perkembangan budaya baca tulis. Lagi pula al-Qur`an memandang tinggi hasil
perbuatan kalam (pena). Malahan al-Qur`an memandang alam semesta sebagai kitab
agung, sebuah karya sastra yang maha indah, yang ditulis oleh Sang Maha
Pencipta di atas lembaran yang terpelihara (al-lawh al-mahfudz).
Pada periode selanjutnya, khususnya sejak abad ke-10 dan 11 M bersamaan dengan
maraknya studi terhadap falsafah Yunani dan kebangkitan sastra Persia, perkembangan
sastra bertambah subur lagi. Pendorongnya ialah kegairahan mengkaji
sastra di kalangan ilmuwan dan fislosof dan munculnya berbagai teori sastra
yang inspiratif bagi penciptaan. Di antara filosof dan ahli teori sastra
terkemuka yang telah memberi sumbangan besar dalam teori dan kajian sastra
ialah al-Farabi, Ibn Sina, Qudamah, Abdul Qahir al-Jurjani, al-Baqillani dan
lain-lain. Dalam teori mereka dikemukakan pentingnya imaginasi (takhyil) dalam penciptaan karya seni. Mereka juga menemukan bahwa kekuatan
bahasa al-Qur`an disebabkan banyak ayat-ayatnya menggunakan bahasa figuratif (majaz),
citraan visual (tamtsil), pengucapan simbolik (mitsal) dan
metafora (isti`ara).
Sejak
abad ke-13 M pembahasan teoritis tentang sastra dilanjutkan oleh para penulis
Sufi. Para sufi seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi dan Rumi menambahkan teori
tentang alam imaginal (`alam
al-mitsal) sebagai landasan konseptual
penciptaan realitas imaginer dalam karya sastra. Alam imaginal ini, dalam
kehidupan spiritual manusia, berperan sebagai penghubung alam nyata (`alam al-syahadah) dan alam kerohanian/ transendental (`alam al-malakut).
Salah satu hal paling signifikan yang menandakan pembaharuan dalam sastra ialah
dikaitkannya sastra dengan adab, terutama pada zaman pemerintahan Bani
Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M). Bahkan di masa kemudian sastra diidentikkan
dengan adab, seorang penulis karya sastra disebut al-adib. Dalam kesusastraan
Melayu Islam karya-karya yang disebut sastra adab ialah semua karangan berkenaan
dengan etika, sosial politik, hukum, pemerintahan dan ketatanegaraan.
Sumbangan dan Pengaruh
Sumbangan
penulis Muslim terhadap kesusastraan dunia, sebagaimana sumbangan penulis Timur
lain khususnya India, ialah dalam penciptaan karya bercorak adab. Sumbangan
lain ialah dalam karya bercorak falsafah dan tasawuf (sufistik), kisah
perumpamaan binatang (fabel) dan cerita berbingkai. Fabel dan cerita berbingkai
karya penulis Muslim paling masyhur di seluruh dunia ialah Khalilah wa Dimnah dan Hikayat Seribu Satu Malam, yang
di Eropah dikenal dengan sebutan Arabian Nights. Walaupun karya-karya ini dihasilkan pada zaman puncak peradaban Islam
antara abad ke-10-13 M, tidak berarti bahwa kreativitas penulis Muslim berhenti
sampai pada abad ke-13 M.
Besarnya sumbangan penulis Muslim tidak hanya terlihat pada transformasi
besar-besaran kebudayaan masyarakat Asia di sebelah Timur, seperti Pakistan dan
Indonesia, yang sebelumnya memeluk agama Hindu dan Buddha. Tetapi juga karena
tidak sedikit karya penulis Muslim itu mempengaruhi penulis-penulis Eropah,
sejak zaman Renaissan sampai abad ke-20 M. Melalui terjemahan dalam bahasa
Eropah pulalah karya-karya penulis Muslim dikenal di seluruh dunia.
Sayang sekali kenyataan di atas, yaitu pengaruh kesusastraan Islam terhadap
kesusastraan Eropah, sering ditutup-tutupi oleh penulis sejarah modern. Sebagai
contoh bahwa pengaruh itu sangat besar terlihat pada hubungan puisi-puisi
Spanyol sejak abad ke14 dan 15 M dengan puisi Arab Andalusia abad ke-12 dan 13
M. Melalui saluran kesusastraan Spanyol pengaruh tersebut merembes ke
benua Eropah yang lain. Ini antara lain dikemukakan oleh dua sarjana Jerman
terkemuka abad ke-19 M yaitu von Hammer Purgstall dan Baron von Schakle.
Dalam bukunya setebal 6 jilid Literature Geschichte der Araber (1850-6) Purgstall menyatakan bahwa karya Arab yang sangat mempengaruhi
penulis Eropah ialah Maqamat karya al-Harizi (w. 1121 M).
Dalam sastra Spanyol maqamat diterjemahkan menjadi picaro. Picaro yang terkenal ialah Et Cavarello Cifardan Ribaldo. Karya Spanyol lain yang diilhami
karya Muslim Arab ialah Don Kisot karangan Cervanthes (1547-1616
M). Pascott dalam bukunya History of Ferdinand Isabella (1837) menyatakan bahwa novel tersebut disadur dari karya seorang
sejarawan Arab abad ke-13 Said Hamid bin Anjili. Sedangkan von Schakle
dalam bukunya Arabic
Poetry in Andalusia and Sicily (1800) membicarakan pengaruh puisri Arab terhadap puisi-puisi Spanyol
dan Perancis. Tradisi puisi yang dinyanyikan para troubadur, penyanyi pengembara, berasal dari tradisi Arab yang masuk ke Perancis
pada tahun 1100 M melalui Sepanyol. Katatroubadur berasal dari kata Arab tharaba yang artinya menyanyi.
Pengaruh sastra Islam di Jerman nampak pada Gerakan Ketimuran (Oriental) dan Weltliterature (Sastra Dunia), dua gerakan
sastra penting pada awal abad ke-19. Gerakan ini muncul bersamaan dengan
maraknya penerjamahan karya-karya Timur ke dalam berbagai bahasa Eropah.
Pelopor gerakan itu antara lain Goethe dan Schiller. Salah satu karya
Goethe yang dipengaruhi karya Islam ialah West-oestlicher Divan(1819). Gaya dan tema sajak-sajak Goethe dalam antologinya ini
sangat mirip dengan gaya dan tema puisi Hafiz, penyair Persia abad ke14 M yang
sangat dikagumi Timur Leng. Menurut Purgstall karya Goethe itu merupakan salah
satu karya Eropah tentang Timur yang paling menarik. Bentuknya merupakan dialog
dalam lirik seperti misalnya nampak dalam percakapan antara Hatim dan Zuleicha.
Judul-judul sajaknya juga bercorak Persia, antara lain “Mughanni-namah”,
“Hijrah” dan lain-lain. Salah satu sajak Goethe yang melukiskan kepribadian
Nabi Muhammad ialah “Mahometgesang” (Nyanyian Muhammad).
Penulis Jerman lain yang dipengaruhi sastra Islam
ialah August Graft van Platen. Dua karya Islamnya yang terkenal ialah Abbasiah dan Al-Ghazali. Bukan tidak mungkin Also Spracht Zarathustra, karya Nietzsche (w. 1900) yang tokohnya nabi orang Persia,
dipengaruhi gaya al-Hallaj. Episode-episode yang menyajikan penampilan
Zarathustra di pasar dan lain-lain dalam menyampaikan ajarannya tentang
Uebermensch (manusia unggul) sangat mirip dengan cerita tentang penampilan
al-Hallaj dalam menyampaikan ajaran tasawufnya di kota Baghdad pada abad ke-10
M sebagaimana dipaparkan dalam Kitab Akhbar al-Hallaj.
Adapun pengaruh sastra Islam di Perancis tampak
dalam karya Gerard de Navel, Gautier dan Victor Hugo. Di Inggeris itu
pengaruh itu nampak dalam gerakan romantik. Seorang pelopor romantisme Inggeris
P. B. Shelley malahan menulis karya yang kontroversial berjudul Revolt of Islam (1827). Penyair Irlandia abad ke-19 Edward Fitzgerald menjadi masyhur
karena menyadur dan menerbitkan Rubaiyat Umar al-Khayami (Omar
Khayyam), penyair dan ahli astronomi Persia abad ke-12 M.
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M kian banyak sarjana Eropah mengakui
besarnya pengaruh kesusastraan Islam kepada penulis-penulis Eropah. Di antara
buku penting tentang hal itu yang dapat disebut di sini ialah buku-buku
karangan Juan Ribera, Martin von Hartmann, A. R. Nykl dan Ramon Menendez Pidal.
Bahwa pengaruh puisi Arab kepada puisi Spanyol sangat besar, dapat dibaca
misalnya dalam buku Pidal berjudul Arabic Poetry and European Poetry (1938).
H. A. R. Gibb dalam bukunya Arabic Literature (1926)
menyatakan bahwa sejak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropah pada
pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20, Alf Layla wa Laylamengalami cetak ulang 300 kali dalam masing-masing bahasa. Salah satu
karya penting Eropah yang dipengaruhi cerita berbingkai itu ialah Die Karavans (1828) karangan Wilhelm Hauft. Menurut Gibb sastra Eropah mencapai
bentuknya yang matang dan mendapat jiwa baru yang dinamik setelah berinteraksi
dengan sastra Islam.
Pengaruh sastra Islam terhadap penulis Eropah secara lebih luas dan panjang
lebar lagi diuraikan dalam buku yang disusun Tim Komisi Nasional Mesir untuk
Unesco berjudul Islamic and Arabic Contribution to the European Renaissance (1981) dan karangan Luce Lopez-Barali berjudul Islam and Spanish
Literature(1992). Melalui karya kedua
sarjana ini kita mengetahui besarnya peranan dan sumbangan penulis Muslim
Spanyol, walaupun pada awal abad ke-13 kekhalifatan Muslim Andalusia mengalami
keruntuhan. Tidak mengherankan jika al-Harizi, penyair Persia yang
tinggal di Baghdad pada awal abad ke-13, menyatakan pujiannya terhadap penulis
Muslim Spanyol:
Ketahuilah, sajak bermutu tinggi
Diuntai bagai kalung permata
Dan tidak disarati emas sepuhan,
Muncul di Andalusia, dan dari sana
Tersebar ke seluruh dunia
Sajak putra-putri Andalusia kuat dan indah
Seakan ukiran nyala api berkilauan
Dibandingkan dengan karya mereka
Karya penyair negeri lain lembek seperti wanita.
(Diterjemahkan dari buku Luce Lopez-Baralt)
Luce Lopez Baralt memberi contoh menarik. Karya mistikal St John of the Cross
(abad ke-15) “Burung Sebatang Kara” sangat jelas dipengaruhi puisi-puisi
penulis Muslim abad ke-12 seperti Sana`i, Ibn Sina, Suhrawardi al-Maqtul dan
`Attar. Kitab uraian mistikisme Kristen karangan St Theresa dari Avilla, yaitu Moradas des Castillo (Puri Kerohanian) mendapatkan ilham dari karya penulis Sufi Persia
seperti Ahmad al-Ghazali, adik kandung al-Ghazali, Nizami dan lain-lain. Ini
dikemukakan antara lain oleh M. A. Palacious dalam bukunya The Figure of the
Castles and Dwellings of the Soul in Islamic Mysticism and St Theresa (1946).
Contoh karya penulis Muslim yang berpengaruh di Eropah ialah Hayy ibn Yaqzan salah
satu Buku yang sering saya baca pada waktu di Toko
Amanah Syuis karya
Ibn Tufayl, seorang sastrawan-filosof Muslim Spanyol abad ke-12 M.
Sarjana-sarjana sastra Spanyol seperti Menendez Pelayo mengatakan bahwa karya
Ibn Tufayl merupakan karya Arab terbesar, orisinal dan sekaligus unik. Ia juga
merupakan science fiction pertama
di dunia dalam arti sebenarnya. Sejak novel itu diterbitkan sampai abad ke-17
M, ia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan Italia, dan pada abad
ke-18 M mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Jerman, Inggeris, Perancis
dan Belanda. Karya-karya Eropah yang dipengaruhi Hayy bin Yaqzan antara lain El Criticon (Sang Kritikus) karya Baltazar Gracius yang terbit pada tahun 1651 M,
kemudian Robinson Cruso karya
Daniel Defoe, Jungle Book karya
Rudyard Kipling dan Tarzankarya Jonathan Swift.
Dalam Anthology of Islamic Literature (1964) James Kritzchek mengatakan bahwa Hayy ibn Yaqzanmemang merupakan karya masterpiece Islam. Ia diterjemahkan ke dalam
bahasa Inggeris beberapa tahun sebelum Daniel Defoe menulis Robinson Crusoe. Karya Islam lain yang berpengaruh di Barat ialah Khalilah wa Dimnah (Ibn al-Muqaffa`), Alf Layla wa Layla (Seribu
Satu Malam), Mantiq al-Tayr (`Attar), Hikayat Isra` Mi`raj (Bayazid Bistami),
Matsnawi (Rumi), Haft Paykar (Nizami),
Diwan (Hafiz), Ruba`iyat (Umar al
Khayyami), Bustan dan Gulistan (Sa`di) dan lain-lain. Karya
Eropah yang dipengaruhi Hikayat Isra` Mikrajialah Divina Comedia (Dante). Adegan penerbangan Faust dan
Mephistopeles
dalam drama puisi karangan Goethe, yaitu Faust I dan Faust
II jelas
mengingatkan
kita pada penerbangan Aladin dan jin Ifrit dalam Alf Layla wa Layla.
Sa'di,
penyair sufi Persia abad ke-12-13 M. Mausoleumnya di kota kelahirannya Shiraz
sampai kini jadi pusat kunjungan wisata yang ramai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar