Sabtu, 14 Desember 2013

ISLAM DAN DAMPAK KEHADIRANNYA DI NUSANTARA

DARIMANA ISLAM DATANG
DAN SIAPA PENYEBAR UTAMANYA?

Oleh:Muamar Anis


Simbolis.muamaranis.Jpg.

Agama Islam telah hadir di Nusantara selambat-lambatnya pada abad ke-8 atau 9 M bersamaan dengan waktu ramainya kegiatan perdagangan internasional yang dilakukan bangsa Aran, Turki, Persia dan Indo-Muslim di Asia Tenggara. Tetapi sampai abad ke-12 M agama ini berkembang lambat dan penganutya terbatas di kota-kota pesisir yang biasa disinggahi kapal-kapal dagang Muslim itu. Karena itu pengaruhnya tidak cukup berarti bagi masyarakat Melayu, penduduk Nusantara pertama yang memeluk agama ini secara massal dan mengembangkan peradaban baru berdasarkan agama ini.

Pengaruh kehadiran agama ini mulai tampak pada abad ke-13 – 15 M setelah berdirinya dua kerajaan besar Islam Samudra Pasai (1270-1524) dan Malaka (1400-1511), serta hadirnya para sufi pengembara dan guru-guru agama yang tampil sebagai pendakwah ulung. Kehadiran agama ini pada-abad tersebut, terlebih pada abad-abad berikutnya, ternyata memberi dampak besar dan menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan besar dan mendasar dalam kehidupan bangsa Melayu. Perubahan tersebut tidak hanya berlaku dalam sistem kepercayaan dan peribadatan, tetapi juga dalam tatanan sosial, sistem pemerintahan dan kehidupan intelektual.  Tumbuh pesatnya jumlah penganut agama ini di kepulauan Melayu dan berrdirinya kerajaan-kerajaan Islam yang awal itu memungkinkan lembaga-lembaga pendidikan Islam tersebar luas. Dengan begitu tradisi baca tulis dan keterpelajaran berkembang luuas diikuti oleh maraknya kegiatan penulisan kitab-kitab keagamaan, keilmuan dan sastra.

Karena watak ajarannya yang egaliter dan populis, serta mudah dipahami, membuat semua lapisan masyarakat tertarik untuk memeluk agama ini. Apalagi setelah disampaikan oleh para pendakwah yang piawai melalui bahasa yang sederhana. Diperkuat lagi dengan corak penyebarannya yang mengikuti aktivitas pelayaran dan perdagangan antar pulau, serta pemakaian bahasa Melayu sebagai bahasa penyebarannya (Braginsky 1998). Sebagai agama kitab, Islam menganjurkan kepada para penganutnya agar belajar membaca dan menulis. Dengan demikian mereka dapat membaca dan memahami isi kitab suci al-Qur’an dan ilmu-ilmu Islam lain yang diturunkan darinya. Dibukanya lembaga-lembaga pendidikan memungkinkan penggunaan huruf Arab berkembang. Sejak masa inilah penulis-penulis Melayu menggunakan aksara Jawi atau Arab Melayu dalam menulis kitab atau risalah di dalam bahasa mereka (M. Naquib al-Atttas 1972; Mohd. Taib Osman 1974; Ismail Hamid 1984).

Pusat-pusat penyebaran agama Islam di Nusantara berada di tiga titik sentral yaitu istana, pesantren dan pasar. Di tiga titik sentral penyebaran Islam ini pulalah sastra Melayu baru yang ditulis menggunakan huruf Jawi dilahirkan. Sebagai bagian dari kehidupan intelektual dan keagamaan, karya-karya penulis Melayu itu dengan sendirinya mencerminkan kecenderungan pemikiran dan wawasan budaya yang berkembang pada zaman karya-karya itu ditulis. Karena masing-masing pusat kegiatan penulisan ini memiliki kepentingan, kecenderungan dan wawasan budaya yang berbeda sesuai dengan peran masing-masing dalam penyebaran Islam, maka lahir pulalah dari masing-masing pusat kegiatan penulisan tersebut jenis, bentuk dan ragam sastra yang berbeda-beda. Dengan lahirnya jenis dan ragam sastra yang berbeda-beda itu maka hadirnya Islam menyebabkan sastra tulis Melayu mengalami pengayaan melampaui zaman sebelumnya ketika pusat kegiatan penulisan terbatas di istana dan vihara, sedangkan masyarakat luas di sekitarnya hidup dengan sastra lisan.

Islam dan Kegiatan Perdagangan
            Ada beberapa teori yang berbeda tentang dari negeri mana Islam yang berkembang di kepulauan Nusantara datang dan faktor-faktor apa saja yang mendorong pesatnya agama ini berkembang pada abad ke-13 – 17 M. Teori yang awal sekali muncul berasal dari Moquette (1912). Menurutnya Islam yang berkembang di kepulauan Nusantara bercorak India karena Islam memang datang dari Gujarat dibawa oleh pedagang-pedagang India. Teori yang diikuti oleh banyak sarjana Barat dan Indonesia di kemudian hari ini didasarkan pada penemuan batu nisan makam Islam abad ke-13 di Pasai yang bentuknya mirip dengan batu nisan sezaman  yang dijumpai di Cambay, Gujarat. Tetapi teori ini dibantah oleh  M. Naquib al-Attas (1972:33-4) yang berpendapat bahwa dasar-dasar teori yang dikemukakan Moquette dan para pendukung teorinya itu sangat lemah.
            Menurut al-Attas batu-batu nisan itu didatangkan dari Cambay semata-mata karena letak negeri itu lebih dekat ke Sumatra dibanding dibawa dari negeri Arab dan Persia. Batu nisan itu bisa saja dibuat oleh pengrajin Arab atau Persia mengikut model yang telah berkembang di Asia Tengah dan Asia Barat. Yang penting untuk dijadikan dasar pembuktian bukan bentuk nisan itu semata-mata, tetapi corak dari kandungan teks keagamaan yang dinukilkan pada batu nisan itu yang sepenuhnya berciri Islam. Berdasarkan hujahnya ini al-Attas mengemukakan bahwa agama Islam yang hadir di kepulauan Nusantara berasal dari Arab atau Persia, dibawa oleh para pendakwah Islam bersama-sama para saudagar. Gujarat, Koromandel  dan Malabar di India, atau Koromandel dan hanya tempat persinggahan sementara sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Nusantara.
            Sarjana Melayu itu lebih lanjut mengatakan bahwa  bukti paling kuat berkenaan dari mana Islam datang, dan siapa yang memainkan peranan penting, ialah dengan melihat watak, corak dan ciri umum Islam yang berkembang di Nusantara, bukan bentuk-bentuk artefak. Untuk mengetahuinya seseorang harus meneliti sastra Melayu dan pemikiran keagamaan yang dominan. Bahwa Islam yang dianut sebagian besar penduduk Nusantara adalah madzab Syafii dengan kecenderungan sufistik yang kuat, menunjukkan bahwa Islam yang tiba di Nusantara dari Yaman. Ada pun tradisi sastra yang dikembangkan terutama bersumber dari khazanah sastra Persia.
            Ibn Batutah yang berkunjung ke Samudra Pasai pada tahun 1345-6 dalam kitabnyaRihlah melaporkan bahwa sultan yang memerintah negeri adalah seorang yang saleh dan gemar berdiskusi denan para ulama madzab Syafii, ahli-ahli tasawuf dan para cendikiawan dari Persia. Setiap hari Jum’at sultan berjalan kaki ke masjid seperti orang biasan dan disana bertemu serta berbincang dengan orang banyak” (Gibb 1957:273-6). Minat dan kecenderungan pada tasawuf juga tampak pada inskripsi pada batu nisan makam Islam di Pasai dan Malaka abad ke-13 – 15 M, serta tempat-tempat lain di Sumatra dan Semenanjung Malaya. Selain menampilkan nukilan-nukilan ayat-ayat sufistik al-Qur’an, nukilan yang banyak ditemui dalam inskripsi Pasai dan Malaka ialah petikan sajak Sayidina Ali. Inskripsi paling tua yang memuat petikan sajak sufistik Sayidina Ali ialah tulisan pada makam Sultan Malik al-Saleh pendiri kerajaan Samudra Pasai yang wafat pada tahun 1297 M.  Inskripsi yang unik terdapat pada batu nisan makam seorang putri saudagar Pasai yaitu Naina Husamuddin yang wafat pada tahun 1420. Di situ tertulis petikan dua sajak Sa`di al-Syirazi, penyair sufi Persia abad ke-13, dalam bahasa Persia (Othman Mohd. Yatim 1990:16; Ibrahim Alfian 1991).
            Pandangan yang sejalan dengan teori Moquette ialah teori yang mengemukakan bahwa pesatnya perkembangan agama Islam terutama sekali disebabkan faktor-faktor perdagangan.  Teori ini dikemukakan antara lain oleh Windstedy (1935), Kern (1937), Bonsquet (1938), Gonda (1952), dan terutama sekali oleh van Leur (1955:100-6) dan Schrieke (1955). Dasarnya ialah kenyataan bahwa pesatnya perkembangan Islam di kepulauan Nusantara bersamaan dengan ramainya kegiatan pelayaran dan perdagangan yang dilakukan orang-orang Arab, Turki, Persia dan Indo-Persia.

Peranan Sufi
Tetapi teori ini disanggah oleh Johns (1961), M. Naquib al-Attas (1972) dan Mohd. Taib Osman (1974). Para pedagang memang ikut memainkan peran dalam menambah jumlah penganut Islam di kota-kota pelabuhan, misalnya melalui saluran perkawinan dan hubungan dagang dengan penduduk pribumi. Tetapi peranan mereka tidaklah menonjol sebagaimana diperkirakan oleh van Leur, Kern, Gonda dan Schrieke. Jika faktor perdagangan yang dominan memperluas daerah penyebaran Islam dan memicu pesatnya perkembangannya, sudah tentu agama ini telah berkembang pesat jauh sebelum abad ke-13, karena komunitas-komunitas Islam sudah dijumpai di banyak kota pelabuhan dalam jumlah yang besar. Dalam menyanggah teori ini Johns mengemukakan teori tasawuf.
Menurut Johns tersebar luasnya agama ini terutama disebabkan hadirnya para darwish atau faqir, yaitu sekelompok sufi yang gemar mengembara dari negeri satu ke negeri lain untuk menyebarkan agama Islam seraya mengajarkan ilmu tasawuf dan mengembangkan organisasi mereka, yaitu tariqat. Tariqat adalah organisasi sosial keagamaan yang telah muncul pada abad ke-11 di dunia Islam. Pada abad ke-13, terutama sejak penaklukan Baghdad oleh bangsa Mongol pada tahun 1258,  peranan tariqat semakin menonjol dan keangggotannya semakin tersebar luas di seluruh dunia Islam. Dengan demikian masing-masing tariqat sufi memiliki jaringan internasional yang luas yang memudahkan pemimpin atau guru spiritual mereka melakukan perjalanan jauh dari negeri satu ke negeri lain.  Pada abad itu pula tidak sedikit dari tariqat-tariqat sufi ini yang mengikat hubungan dengan gilde-gilde atau organisasi-organisasi dagang (ta`ifa) yang dihimpun para pedagang dan pengrajin di berbagai negeri Islam, serta menguasai kegiatan pelayaran dan perdagangan di Afrika Timur, Asia Selatan dan Asia Tenggara (Tirmingham 1972).
Kata Johns: “ Mereka (para sufi) adalah pendakwah yang gemar mengembara ke pelosok-pelosok negeri di dunia yang ketahui, sedang hidup bersahaja (sebaga faqir), kerap berhubungan dengan organisasi-organisasi dagang dan pengrajin yang bergabung dengan tariqat-tariqat yang mereka pimpin; mereka mengajarkan ilmu suluk yang teosofinya kompleks, namun mudah diresapi penduduk Nusantyara; mereka menguasai ilmu kerohanian dan ketabibab, senantiasa berusaha memelihara kesinambungan budaha lama dan lazim menggunakan istilah-sitilah dan unsur-unsur budaya pra-Islam namun memberinya pemahaman yang sesuai dengan ajaran Islam.”
Teori yang dikemukakan oleh Johns itu sesuai dengan keterangan dari sumber-sumber sejarah Nusantara sendiri. Hikayat Raja-raja Pasai yang ditulis menjelang akhir abad ke-14 memberitakan bahwa pendiri kerajaan Samudra Pasai Malik al-Saleh diislamkan oleh seorang faqir bernama Syekh Ismail yang datang dari Mekkah bersama 98 orang pengikutnya. Sumber sejarah Sulawesi Selatan juga mengungkapkan bahwa raja Gowa dan penduduknya diislamkan pada awal abad ke-17 oleh seorang ulama sufi dari Minangkabau yang datang dengan sebuah kapal dagang besar disebut padekawang. Sumber sejarah Banten Hikayat Maulana Hasanuddin juga menceritakan bahwa raja dan penduduk Banten diislamkan oleh faqir bernama Syarif Hidayatullah dan putranya Maulana Hasanuddin yang mempunyai banyak pengikut. Sedangkan salah satu versi Babad Tanah Jawi menceritakan bahwa Jawa Timur mulai diislamkan pada awal abad ke-15 M oleh Syekh Jumadil Akbar, seorang sufi dari Samarqand yang datang bersama para pengikutnya menumpang sebuah kapal dagang yang bertolak dari Pasai (Abdul Hadi W. M. 2001).
M. Naquib al-Attas (1972:29-32) yang mendukung teori ini menyatakan bahwa agama Islam meresap ke dalam jiwa penduduk Melayu setelah ajarannya ditafsirkan oleh para sufi dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti. Faktor yang tidak penting bagi pesatnya penyebaran Islam di kepulauan Melayu menurut al-Attas ialah dijadikannya bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar di lembaga pendidikan Islam dan bahasa penyebaran Islam, yaitu setelah bahasa ini diislamkan sedemikian rupa. Kecuali itu watak agama Islam itu sendiri memang memiliki daya tarik yang kuat. Ajaran Islam berlandaskan sebuah kitab suci yang tunggal dan utuh, serta tidak berubah-ubah yaitu al-Qur’an. Dengan begitu penganutnya tidak dibingungkan olah banyak kitab suci seperti dalam agama lain. Ajaran ketuhanan dan sistem peribdatan Islam juga sangat sederhana dan tidak rumit. Islam juga mengajarkan bahwa dalam berhubungan dengan Tuhan seorang Muslim tidak memerlukan perantara dan peribadatan bisa dilakukan di mana saja tanpa perlu kehadiran pendeta. Agama Islam itu memandang semua manusia itu setara dan sederajat.  Yang membedakan martabat manusia bukan karena keturunan dan kedudukanya dalam masyarajkt, tetapi ketakwaan dan amal salehnya.
            Tentang besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pesatnya perkembangan Islam ini dikemukakan antara lain oleh Menurut Kern (1917:17) kedatangan Islam di kepulauan Melayu telah membawa perubahan besar dan mendasar dalam semangat dan jiwa bangsa Melayu. Perubahan itu mempunyai arti penting karena merupakan pembebasan dari belenggu mitologi yang sebelumnya menguasai pikiran bangsa Melayu. Seperti M. Naquib al-Attas (1972), dia mengatakan bahwa kedatangan Islam telah berhasil meletakkan dasar—dasar rasionalitas dan keperluan berikhtiar menggunakan daya upaya akal dan pikiran. Inilah antara lain yang memicu pesatnya perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu pada abad ke-14 – 19 M.
            Faktor lain yang tidak kalah penting dalam membuka peluang bagi cepatnya pergembangan agama Islam  itu ialah kejadian-kejadian di Asia Barat dan di dunia Melayu sendiri pada abad ke-12 – 14 M. Kekacauan yang melanda negeri-negeri Islam pada abad ke-12 sebagai akibat dari serangkaian peperangan dan terutama sekali Perang Salib, pembrontakan yang melanda negeri-negeri Islam dan sengketa berdarah antar penganut berbagai madzab agama, mendorong penduduk negeri mulai berduyun-duyun pindah ke negeri lain. Perpindahan secara besar-besaran terjadi setelah penghancuran Baghdad, ibukotakekhalifatan Abbasiyah pada tahun 1258 oleh bangsa Mongol menyusul serangkaian penaklukan terhadap negeri-negeri Islam di Asia Tengah dan Barat oleh bangsa yang sama.
Ismail R. Faruqi (1991:247) lebih kurang menulis, “Sebagai akibat penaklukan itu terjadi pula  perindahan besar-besaran orang Islam ke Asia Tenggara. Oleh sebab itu sejak abad ke-13 wilayah ini menyaksikan perluasan kekuatan Islam. Para ahli fiqih, sufi terkemuka, tentara yang tidak aktif lagi, bekas pejabat dan orang kaya, tabib, seniman, sastrawan, guru agama, para saudagar dan pengrajin, orang-orang Islam dari berbagai lapsan sosial, etnik, ras, golongan dan madzab dengan kepakaran masing-masing secara bergelombang berduyun-duyun datang ke Nusantara mencari kehidupan yang aman dan nyaman, jauh dari kekejaman orang Mongol dan peperangan lain...”
Keadaan politik di kepulauan Nusantara dan krisis yang dialami  Sriwijaya  sejak abad ke-12  M hingga keruntuhannya pada akhir abad 14 akibat serangan Majapahit, merupakan titik awal berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di dunia Melayu dan sekaligus pesatnya penyebaran agama Islam. Dengan runtuhnya kerajaan Buddhis terakhir di dunia Melayu itu maka pengaruh agama Buddha dan sinthesa Hindu Buddha yang telah berlangsung sejak abad ke-12, mengalami kemunduran pula. Sedangkan di kota-kota pelabuhan dan pesisir Sumatra yang lain agama Islam telah mulai berkembang. Pada akhir abad ke-15 kerajaan Hindu terakhir di Jawa, Majapahit mengalami keruntuhan pula.  Majapahit sebelumnya sangat berpengaruh di dunia Melayu dan membawa masuk tantrisme, sebuah aliran sinkretis dalam Hinduisme, ke Sumatra. Karena dua agama sebelum Islam  ini secara politik dan kultural terkait langsung dengan perkembangan dua kerajaan ini, maka dengan runtuhnya dua kerajaan ini pudar pulalah pengaruh kedua agama tersebut di dunia Melayu. Lagi pula di Sumatra, wilayah pertama di Nusantara yang penduduknya menerima dampak langsung penyebaran Islam, agama-agama tersebut hadir semata-mata sebagai agama elit aristokratik dan para pendeta. Masyarakat luas di luar lingkungan istana dan vihara sebagian besar tetap menganut kepercayaan lokal mereka apakah itu syamanisme atau paganisme seperti kepercayaan Palbegu atau Kaharingan.

Tahapan Islamisasi Nusantara

            Dari apa yang dikemukakan, dapat dikemukakan tahapan-tahapan proses islamisasi di kepulauan Nusantara. Tahapan awal, yaitu kedatangan para saudagar Muslim Arab, Persia, Turki dan Indo-Persia, sampai terbentuknya  komunitas-komunitas Islam di kota-kota pelabuhan. Dalam tahapan ini perkawinan pedagang asing dengan wanita setempat, merupakan saluran awal bagi proses pengislaman. Lembaga pendidikan Islam sudah pasti dibuka, dan guru-guru agama juga pasti telah hadir. Begitu pula para muballigh pasti juga sudah melakukan kegiatan dakwah. Tahapan ini berlangsung sejak abad ke-8 hingga awal abad ke-12 M;
Tahapan kedua, terbentuknya kerajaan-kerajaan Islam dan giatnya penyebaran agama Islam oleh para sufi dan pemimpin tariqat sufi ke berbagai pelosok kepulauan Nusantara. Tahapan ini berlangsung pada abad ke-13 – 17 M. Pada masa inilah sastra Melayu berkembang hingga puncak kematangannya. Kerajaan-kerajaan Islam yang awal seperti Samudra Pasai (1270-1524), Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700) memainkan peranan utama pada tahapan ini;
Tahapan ketiga adalah berkembangnya kelembagaan Islam, yang bermula pada abad ke-17 hingga abad ke-19 M. Tahapan ini berlangsung setelah agama Islam tersebar luas di seluruh kepulauan Nusantara. Perlembagaan Islam di bidang keagamaan, sosial, politik, pendidikan dan kebudayaan telah terbentuk dan berkembang sedemikian rupa sehingga memantapkan perkembangan agama ini dan kelangsungan hidupnya. (lihat juga Hasan Muarif Ambary 1998: 55-60).
            Perkembangan tradisi intelektual Islam dan  sastra Melayu  berkaitan dengan tahapan kedua dan ketiga. Selama dua tahapan ini berlangsung terjadi tiga gelombang besar pemikiran Islam (Taufik Abdullah 2002) yang tercermin dalam dengan jelasnya dalam karya-karya penulis Melayu yang dihasilkan selama periode-periode tersebut. Gelombang pertama terjadi pada abad ke-13 – 14 M, bersamaan dengan tumbuhnya kerajaan Samudra Pasai, berupa peletakan dasar-dasar kosmopolitanisme Islam, yaitu sikap budaya yang menjadikan diri sebagai bagian dari masyarakat kosmopolitan dengan referensi kebudayaan Islam. Bukti-bukti tertulis dari gelombang ini berupa inskripsi pada batu nisan makam Islam di Pasai dari abad itu, yang terdiri antara lain dari petikan ayat-ayat al-Qur’an seperti ayat kursi, nukilan sajak sufistik Sayidina Ali dan dua sajak dalam bahasa Persia karangan Sa`di, penyair sufi Persia abad ke-13.
Dalam gelombang kedua terjadi proses islamisasi kebudayaan dan realitas secara besar-besaran.  Islam dipakai sebagai cermin untuk melihat dan memahami realitas. Pusaka lama dari zaman pra-Islam, yang Syamanistik, Hinduistik dan Buddhistik ditransformasikan ke dalam situasi pemikiran Islam dan tidak jarang dipahami sebagai sesuatu yang islami dari sudut pandang doktrin.  Gelombang ini terjadi bersamaan dengan munculnya kesultanan Malaka (1400-1511) dan Aceh Darussalam (1516-1700). Dalam gelombang ketiga, ketika  pusat-pusat kekuasaan Islam di Nusantara mulai tersebar hampir seluruh kepulauan Nusantara, pusat-pusat kekuasaan ini ‘seolah-olah’ berlomba-lomba melahirkan para ulama besar. Maka tak heran apabila di pusat-pusat kekuasaan Islam seperti Aceh Darussalam, Palembang, Banjarmasin, Johor Riau, Patani, Banten, dan lain-lain lahir ulama-ulama terkemuka seperti Syekh Nuruddin al-Raniri, Syekh Abdul Rauf Singkil, Syekh Yusuf Makassar, Syekh Muhyi Pamijahan, Syekh Abdul Samad al-Palimbangi, Syekh Arsyad al-Banjari, Syekh Nawawi Banten, Raja Ali Haji, Kiyai M. Kholil Bangkalan,  dan lain-lain. Dalam gelombang inilah proses ortodoksi Islam mengalami masa puncaknya. Ini terjadi pada abad ke-18 – 19 M.
            Ilmu-ilmu yang diajarkan di lembaga pendidikan juga mempengaruhi arah dan perkembangan sastra. Ilmu-ilmu yang diajarkan itu ialah: (1) Pelajaran asas agama Islam, misalnya yang berkenaan dengan sistem kepercayaan dan peribadatan; (2) Fiqih dan syariah, atau jurisprudensi dan hukum Islam; (3) Ilmu kalam, sering disetarakan dengan teologi, menguraikan persoalaan berkenaan dengan kandungan teologis wahyu ilahi; (4) Tafsir al-Qur’an dan Hadis; (5) Ilmu Tasawuf; (6) Sejarah Islam; (7) Bahasa dan sastra Arab, meliputi balaghah (retorika), mantiq (logika) dan ilmu ma`ani (semantik); (7) Ilmu pengetahuan lain seperti sejarah, geografi, adab  (lihat juga Ismail Hamid 1983:2; Braginsky 1993).
            Dari bukti-bukti sejarah yang ada seperti epigrafi pada batu nisan makam kuna Islam di Pasai, Malaka dan tempat-tempat lain di Sumatra dan Semenanjung Malaya, serta bukti-bukti sejarah lokal seperti Hikayat Raja-raja Pasai dan Sejarah Melayu, juga dapat diketahui bahwa bukan hanya wacana bercorak keilmuan yang diajarkan di lembaga-lembaga pendidikan. Wacana intelektual lain seperti sastra dan falsafah turut pula diajarkan sebagai sarana penanaman nilai-nilai Islam dan pembentuk pandangan hidup serta gambaran dunia (Weltanschauung). Teks-teks sastra yang digunakan sebagai bahan bacaan antara lain ialah: (1) Puisi-puisi didaktis, khususnya yang bercorak keagamaan, sosial keagamaan dan sufistik; (2) Hikayat berkenaan dengan kehidupan Nabi Muhammad s.a.w., nabi-nabi sebelum Islam dan para sahabat; (3) Pensejarahan atau historiosofi; (4) Karya-karya berkenaan dengan undang-undang, hukum dan ketatanegaraan (Ismail Hamid 1983:2).

(Ringkasan)  

Catatan : Dalam tulisan ini belum dimasukkan pandangan baru bahwa bukan tidak mungkin kedatangan Islam dan penyebarannya juga melibatkan pedagang dan pelayar Nusantara yang telah sering melakukan kegiatan pelayaran perdagangan ke Madagaskar dan Tanah Arab pada abad-abad pertama tarikh Masehi, sebelum lahirnya agama Islam. Legenda Nusantara seperti Kisah Aji Saka perlu dikaji. Dari kisah ini kita mendapatkan informasi bahwa agama Islam dibawa masuk ke Indonesia oleh para pedagang Nusantara yang telah memeluk agama Islam. Informasi lain ialah surat menyurat antara raja Sriwijaya dengan khalif Umayyah di Damaskus pada akhir abad ke-7 M, sebagaimana telah diteliti oleh sejarawan Muslim dari Pakistan, S. Q. Fatimi. Dalam suratnya kepada khalif di Damaskus, raja Sriwijaya (Zabaq) menyatakan tertarik kepada agama Islam dan ingin mempelajari lebih mendalam. Baginda meminta kepada khalif mengirimkan guru agama ke Zabaq.)


Rabu, 11 September 2013

Dialektika Cahaya: Mengapa Suhrawardi dan Al-Ghazali Lebih Memilih Plotinus ketimbang Aristoteles?


Dialektika Cahaya: Mengapa Suhrawardi dan Al-Ghazali Lebih Memilih Plotinus ketimbang Aristoteles?

Oleh : Muamar Anis




​I. Gugatan terhadap Dinginnya Logika Aristoteles

Selama berabad-abad, dunia intelektual Islam seolah dipaksa tunduk pada dominasi Aristoteles—Sang Guru Pertama yang membedah segalanya dengan pisau logika yang dingin. Namun, bagi para pencari Tuhan seperti Suhrawardi dan Al-Ghazali, Aristoteles hanyalah seorang teknisi. Ia bisa menjelaskan tentang air, tapi ia tak pernah bisa memuaskan dahaga.

​Logika Aristoteles terlalu "materi", terlalu kaku dalam kategori-kategori yang justru seringkali membatasi ke-Maha-Tidakterbatasan Tuhan. Di sinilah letak kegelisahan itu bermula: Masakan Tuhan yang Maha Cahaya hendak dikurung dalam kurungan logika yang sempit?

​II. Plotinus: Sang Jembatan Alexandria

Ketika pintu Aristoteles terasa buntu, para mistikus ini menemukan "pintu rahasia" dalam pemikiran Plotinus. Meskipun sering disalahpahami sebagai bagian dari Aristoteles, Plotinus menawarkan sesuatu yang jauh lebih radikal: Emanasi.

​Bagi Plotinus, alam semesta bukanlah ciptaan yang terpisah dari Tuhan, melainkan pancaran (Emanasi) dari The One (Yang Esa). Konsep inilah yang kemudian menjadi "bahan bakar" bagi Suhrawardi untuk membangun menara Hikmat al-Isyraq (Filsafat Cahaya). Plotinus tidak hanya berpikir, ia mengajak pembacanya untuk "kembali" ke sumber cahaya itu.

Kalau mau bedah data dan sanad-nya secara akademik, mampir ke sini..."



​III. Dari Isyraqiyyah hingga Misykat al-Anwar

Suhrawardi memungut benih cahaya Plotinus dan menanamnya di tanah Persia, melahirkan konsep Nur al-Anwar. Begitu pula Al-Ghazali, yang meski pernah menyerang para filsuf, Dalam kitab al-Tahafut al-Falasifah, Imam Ghazali merinci dua puluh permasalahan filsafat yang bertolak dengan hukum agama. Sebelum mengarang Tahafut, Beliau menyusun karya mengenai tujuan dan kaidah-kaidah dalam dunia filsafat, tertuang dalam kitab Maqashid al-Falasifah yang merupakan pijakan pertama.

bisa dibilang dua puluh tema dalam filsafat sasaran kritik Imam Ghazali. ini hanya menyangkut konsep penciptaan alam, mengenai wujud Tuhan, serta masalah akhirat. Imam Ghazali memandang filsafat terbagi menjadi enam: ilmu matematika, logika, ilmu alam (fisika), teologi (metafisika), politik (termasuk ekonomi), dan etika.

Serangan Imam Ghazali terhadap filsafat bukan pada filsafat secara umum, tetapi pada dua cabang, yakni teologi dan pada sebagian ilmu alam, terutama yang menyatakan "keabadian alam".

Bukti lain yang menunjukkan bahwa Imam Ghazali tidak menyerang filsafat secara keseluruhan adalah dengan adanya pengambil alihan struktur manusia menurut para filsuf seperti Aris Toteles, Galen, termasuk Ibn Sina yang dipakai oleh Imam Ghazali sebagaimana ada dalam kitab Ma'arij al-Quds.

Dalam menggambarkan struktur manusia, Imam Ghazali membagi jiwa ke dalam tiga kategori, yakni jiwa vegetasi (al-nafs al-nabatiyyah), jiwa sensitif (al-nafs al-hayawaniyyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyyah).

bahkan cara pandang dari filsafat Hermes dan Neo-Platonisme imam al-Ghazali memiliki hal yang unik terhadap ajaran Islam, terutama ajaran yang berkenaan dengan aspek esoterik, maupun sisi batin agama. menggunakan kerangka pandang Hermes dalam menjelaskan hierarki wujud ataupun kosmos. Seperti dalam karyanya Ma’arij al-Quds fi Madarij an-Nafs. nyatanya tetap "berpesta" dengan konsep cahaya Plotinus dalam kitabnya Misykat al-Anwar.

​Bagi mereka, Plotinus memberikan bahasa yang pas untuk menjelaskan pengalaman spiritual yang tak terkatakan. Jika Aristoteles berbicara tentang 'apa itu benda', maka Plotinus berbicara tentang 'bagaimana menyatu dengan Cahaya'.

​IV. Penutup: Sang Wali dari Alexandria


Pada akhirnya, sejarah mungkin mencatat mereka sebagai filsuf. Namun bagi kita yang membaca dengan mata batin, ada getaran yang berbeda.

​Jika ada yang mengatakan bahwa Socrates adalah seorang Nabi yang membawa risalah akal, maka ada kemungkinan besar bahwa Plotinus adalah seorang Wali yang membawa kunci menuju Cahaya. Ia bukan sekadar pemikir; ia adalah pejalan sunyi yang mabuk dalam hadirat Yang Satu. Dan dalam jejak langkahnya, Suhrawardi dan Al-Ghazali menemukan jalan pulang.( Muamar Anis) )



​Referensi Pendukung


​Ma’arij al-Quds fi Madarij Ma’rifat al-Nafs atribut ke Al-Ghazali (meskipun ada perdebatan akademik,

​Misykat al-Anwar (The Niche of Lights) karya Al-Ghazali.
​Penelitian Seyyed Hossein Nasr dalam Three Muslim Sages.

​Konsep "The Golden Chain" dalam filsafat perenial
.
 






Kamis, 27 Juni 2013

Sejarah Perang Salib: Benci tapi Rindu


PERANG SALIB CATATAN RETROSPEKSI

Oleh:Muamar Anis

Perang besar bernuansa keagamaan yang pernah terjadi dalam sejarah ialah Perang Salib. Sebutan tersebut merupakan terjemahan dari perkataan Crusade, penamaan yang diberikan orang Barat sendiri karena tujuan peperangan ini ialah merebut kota suci Yerusalem tempat Salib Suci disimpan. Perang ini terjadi bukan satu dua kali, tetapi secara beruntun dalam enam gelombang. Rentang masa peperangan pun sangat lama, hampir dua abad, antara tahun 1096 hingga 1270 M. Perang-perang kecil sering terjadi menyelingi jeda enam perang besar yang terjadi secara bergelombang itu.
Dampak Persang Salib luar biasa, baik bagi bangsa Eropa maupun terhadap kaum Muslimin. Selain kehancuran pranata sosial, ekonomi dan politik ketika perang berkecamuk, perang ini selama berabad-abad sangat mempengaruhi corak hubungan Dunia Barat dan Dunia Islam, yang dianggap merupakan “dunia yang selebihnya’ atau “yang lain” dilihat dari sudut pandang Barat. Penyair Jabra Ibrahim Jabra menggambarkan hubungan Barat dan Islam sebagai hubungan “cinta bercampur benci” yang tumpang tindih dan silang menyilang dari waktu ke waktu.
Dampak lain yang terus mempengaruhi pandangan Barat terhadap Islam ialah seperti dikemukakan G. H. Jansen dalam bukunya Militant Islam (1979): “Sungguh menjemukan dan menyakitkan apabila kita harus mengulangi setiap argumen licik para penulis polemis Kristen dan Barat, yang sama sekali tidak kristiani, terhadap Islam terutama terhadap pribadi Nabi Muhammad. Menurut mereka pada hakikatnya Muhammad adalah seorang pelbegu (penyembah berhala) yang rendah, namun dengan pandainya memperoleh kekuasaan, menjaganya dengan cara berpura-pura menerima wahyu da menyebarkan agamanya dengan kekerasan dan mengizinkan pengikutnya melakukan praktik-praktik cabul seperti dilakukannya sendiri.” (h. 60).
Perang Salib I terjadi antara tahun 1096-1099 dengan kekalahan di pihak tentara Muslim, yang terutama diwakili oleh pasukan Bani Saljug, dinasti Turk yang baru saja menguasai Persia dan Asia Barat. Kekalahan tersebut menyebabkan tentara Salib dapat menduduki Yerusalem. Orang-orang Islam dan Yahudi yang menjadi penduduk Palestina kala itu digiring ke tempat penyembelihan dan yang selamat melarikan diri serta berpencaran ke banyak negeri di sekitarnya. Pasukan Salib ketika itu didukung oleh 300.000 tentara reguler yang direkrut dari seluruh Eropa.
Perang Salib II terjadi antara 1147-1149, dan Perang Salib III antara 1189-1192. Perang Salib II tidak begitu seru karena kurang didukung oleh negara-negara lain di Eropa kecuali Perancis. Ketika Perang Salib III meletus, Damaskus (Syria sekarang) berada di bawah pemerintahan Bani Mamalik, sebuah dinasti Turk lain yang menyingkirkan Bani Saljug. Bukan mudah bagi pasukan Mamalik menghadapi pasukan Salib yang jumlahnya besar, sebab dia harus menyingkirkan lebih dulu pasukan Bani Fatimiyah yang juga ingin merebut Yerusalem dan berkeinginan menjadi pusat penyebaran ajaran Ismailiyah. Tetapi di bawah pimpingan Salahuddin al-Ayubi, dokter dan panglima perang keturunan suku Kurdi, tentara Fatimiyah dapat dihancurkan. Baru dia dapat menghadapi pasukan Salib.
Perang Salib IV terjadi antara 1195-1198. Perang Salib V antara 1201-1204. Perang Salib VI antara 1217-1228. Namun secara resmi perang ini dihentikan pada tahun 1270 dengan gencatan senjata menyeluruh dan perjanjian damai. Perang Salib VI berkobar di wilayah Syria dan Libanon. Pada waktu yang sama, negeri Islam lain di sebelah timur, yaitu wilayah Iraq, Iran, Azerbaijan. Turkmenistan dan Uzbeskitan sekarang (dulu dua yang terakhir ini disebut Khwarizmi dan Transoxiana) diharu-biru oleh pasukan Mongol yang dipimpin oleh Jengis Khan dan anak cucunya seperti Ogotai, Hulagu Khan, dan lain sebagainya. Tak mengherankan betapa beratnya perjuangan kaum Muslimin ketika itu. Dalam kenyataan kemudian terjalin konspirasi antara penguasa Mongol dan pasukan Salib untuk secara sistematis menghancurkan agama Islam.
Mengenai Perang Salib I, William K. Langer mengatakan bahwa salah satu sebab timbulnya Perang Salib I ialah: “Permintaan kaisar Byzantium untuk membalas kekalahannya dari tentara Saljug dalam Perang Manzikert pada tahun 1071 di Armenia, yang menyebabkan ditaklukkannya sebagian wilayah Anatolia/Asia Kecil oleh pasukan Muslimin. Permintaan itu ditujukan kepada Paus Gregorius VII. Setelah bala bantuan datang dari berbagai negara Eropa, sebanyak 300.000 tentara reguler, Paus Gregorius VII mengubah bantuan militer itu menjadi Perang Suci (Perang Salib) melawan tentara Islam, yang dianggapnya kafir (Encyclopaedia of World History 1956:255).
Hasrat Byzantium untuk membalas kekalahan dalam Perang Manzikert itu ditambah lagi dengan berita-berita buruk yang disebarkan para peziarah Kristen ke Yerusalem setelah mereka pulang ke kampung halamannya. Mereka menyebarkan berita bahwa orang Kristen di Yerusalem dan Palestina banyak yang dianiaya dan disiksa oleh pasukan Daulah Saljug. Ini menimbulkan kemarahan kaisar Byzantium di Konstantinopel. Berita pun segera tersebar ke seluruh daratan Eropa yang mayoritas penduduknya beragama Kristen. Pada masa itu pula terjadi pergolakan internal dalam tubuh gereja Kristen/Katholik. Gereja Romawi dan Gereja Yunani Ortodoks saling bersaing dalam merebut kepemimpinan umat Kristen. Paus Gregorius (1075-1085) di Roma berkeinginan menjadikan Perang Salib itu sebagai upaya menyatukan Dunia Kristen.
Sementara itu tentara Salib sedang digodog, Paus Gregorius VII diganti oleh Paus Victor II dan Paus Victor II segera diganti pula oleh Paus Urbanus II (1088-1099). Ketika Paus Urbanus II naik tahta, muncul pula Paus tandingan berkedudukan di Auvergne, Perancis, yaitu Paus Clement III (1084-1100 M). Kaisar Alexius dari Byzantium sementara meminta bantuan kepada Paus di Roma, juga menghimbau kepada seluruh pemeluk agama Kristen di Eropa. Di antara imbauannya itu berbunyi sbb. Bahwa barang siapa yang berani bergabung dengan tentara Salib, sebagai balas jasanya kelak akan dilimpahi kekayaan dan memperoleh wanita-wanita Yunani yang cantik jelita.
Imbauan itu disampaikan melalaui tahta suci Paus di Roma dan melalui gereja-gereja di seluruh Eropa. Namun semangat tentara Salib berkobar-kobar terutama disebabkan khotbah keliling seorang rahib, Peter the Hermit. Seraya menyampaikan pesan dari Paus Urbanus II, bahwa mereka yang bersedia menuju medan perang, akan mendapat pengampunan dosa, walaupun dahulunya dia seorang penyamun dan penjahat.
Penetapan keberangkatan tentara Salib I diputuskan pada tanggal 15 Agustus 1095. Segera pada permulaan tahun 1096 terjadi pertempuran besar-besaran di Anatolia dan Armenia. Mula-mula pertempuran dahsyat meletus di Nicae, sebuah kota di Selat Bosporus, kemudian merembet ke Dorylinea, Edessa dan Antiokia (dalam wilayah Armenia. Dari serbuan dilanjutkan ke Yerusalem, setelah pasukan Islam berhasil diluluhlantakkan.
Namun sebelum tentara Salib mencapai Yerusalem, terdengar kabar bahwa pasukan Daulah Fathimiyah dari Mesir menyerbu Yerusalem dan berhasil merebutnya dari tangan pasukan Saljug. Ini membuat ciut pasukan Salib. Sampai musim semi dan musim panas tahun 1098 tidak ada gerakan dari pasukan Salib. Gerakan menyerbu Yerusalem baru diputuskan pada bulan Mei 1099 atas kebijaksanaan Count Raymond. Dengan kekuatan 1500 pasukan berkuda dan 10. 000 pasukan jalan kaki, mereka menyerbu Yerusalem. Melalui pertempuran yang sengit pada akhirnya Yerusalem dapat direbut dari pasukan Fathimiyah, yaitu pada bulan Juli 1099. Selama 40 hari kota itu dikepung pasukan Salib. Banyak korban berjatuhan di kedua belah pihak.
Dalam buku Historian’s History (h. 352) misalnya ditulis: “Korban yang berlumuran darah dipersembahkan seakan binatang korban kepada Tuhan; perlawanan kecil sekalipun dari orang Islam, tanpa memandang usia dan jenis kelamin, menimbulkan kemarahan mereka yang luar biasa berang; tiga hari lamanya mereka hanyut dalam pembunuhan massal; dan tubuh-tubuh mayat yang terkapar itu menimbulkan penyakit menular. Setelah tujuh puluh ribu orang Islam ditebas dengan pedang, dan orang-orang Yahudi yang malang dibakar dalam rumah-rumah ibadahnya, maka masih ada lagi kumpulan tawanan yang besar jumlahnya, yang karena kepentingan tertentu maupun karena kelelahan, pada akhirnya dibiarkan saja. Dari sekian banyak pahlawan Perang Salib yang ganas itu, hanya tinggal Tancred saja yang masih memperlihatkan sedikit rasa kasihan.”
Setelah peristiwa itu status Yerusalem lantas dirubah menjadi kerajaan otonom yang diperintah oleh raja Baldwin I (1100-1118) dan dia digantikan oleh Baldwin II (1118-1131). Selama pemerintahan kedua raja ini terjadi beberapa peperangan susulan dalam skala terbatas antara tentara Salib dan tentara Islam. Khususnya di wilayah-wilayah berdekatan dengan Yerusalem seperti Syria, Libanon, Armenia, Anatolia dan Georgia.
Di antara perang susulan ini terjadi pada tahun 1112 M, bertepatan dengan kesibukan pasukan Islam menghadapi pertempuran melawan suku-suku Kirgh yang ingin menaklukkan Armenia dan Kaukasus. Pasukan Salib menganggap bahwa pada saat itu sangat tepat untuk menundukkan pasukan Islam yang telah kembali menguasai Armenia. Tetapi perkiraan Raja Baldwin II keliru. Di bawah pimpinan Amir Toghrukhin (1103-1128) pasukan Islam menggagalkan serangan pasukan Salib yang memasuki Antiokia. Malahan raja Baldwin II berhasil ditawan dan hanya dapat dibebaskan dengan uang tebusan dalam jumlah besar. Setelah peristiwa itu terjadi beberapa peperangan lain di wilayah Syria dan Anatolia antara pasukan Islam melawan pasukan Byzantium. Pada waktu itu pasukan Islam diserang lagi oleh pasukan Salib yang dipimpin raja Baldwin II. Serangan ditujukan ke Aleppo dan Damaskus, namun sekali lagi pasukan Salib dikalahkan.
Perang Salib II berlangsung antara tahun 1147-1149 M. Berbeda dengan Perang Salib I yang timbul secara spontan dan mendapat dukungan rakyat banyak, Perang Salib II hanya didukung oleh raja-raja dan pangeran-pangeran. Kebanyakan pasukan yang dikirim berasal dari tentara kerajan Perancis di bawah pimpinan Raja Louis VII (1137-1180) dan tentara kerajaan Jerman di bawah pimpinan Raja Conrad III (1138-1152 M). Rencana perang itu sendiri datang dari Paus Eugenius II (1145-1153 M).
Pasukan Perancis dan Jerman mengalami kekalahan telak di tangan pasukan Amir Mas`ud I. Sebagian pasukan Conrad III memang telah mencapai Damaskus, tetapi gagal menembus pertahanan tentara Muslim. Conrad III sendiri jatuh sakit dan akhirnya dipulangkan ke Jerman setelah dirawat di Konstantinopel. Sedangkan Pasukan Louis VII dipukul mundur oleh pasukan Nuruddin Zanki di Antiokia. Sebagian pasukannya turut berperang di Damaskus, tetapi mengalami kekalahan dan pada akhirnya Raja Louis VII dan tentaranya kembali ke Perancis melalui jalan laut.
Perang Salib III (1189-1192) timbul disebabkan didudukinya kembali Yerusalem oleh pasukan Islam di bawah pimpinan Sultan Salahuddin al-Ayubi , jenderal keturunan suku Kurdi yang legendaris. Uskup Agung William di Tyre, Paus Clement III (1187-1191) menyerukan raja-raja Eropa dan orang Kristen merebut kembali Yerusalem. Dalam perang kali ini tentara Salib tidak berhasil merekrut tentara dalam jumlah besar dan mengalami kekalahan besar. Genjatan senjata diumumkan pada tahun 1192 dan raja Richard I yang memimpin pasukan Inggeris mengusulkan agar Amir Turan Syah, saudara Salahuddin al-Ayubi, menikahi saudarinya Putri Joanna.
Perang Salib IV (1195-1198) terjadi setelah wafatnya Sultan Salahuddin al-Ayyubi pada tahun 1193 dalam usia 80 tahun. Pergantian pimpinan pemerintahan di Syria, Palestina dan Mesir lebih jauh menghidupkan harapan Paus Calestine II (1191-1198) untuk merebut kembali Yerusalem. Dia memerintahkan Ordo St John mengorganisasikan angkatan Perang Salib IV. Dalam perang ini kekalahan telak kembali menimpa pasukan Salib.
Perang Salib V (1201-1204) timbul atas rencana Paus Innocent III (1198-1216) untuk menyatukan Gereja Yunani Ortodoks ke dalam Gereja Romawi. Karena keuangan tidak cukup, Paus tidak dapat mengirim tentara dalam jumlah besar. Bahkan sebelum bertempur melawan pasukan Islam, pasukan Salib yang dipimpin oleh raja Venezia harus berperang melawan pasukan Hongaria dan juga dengan pasukan Kristen Byzantium di Konstantinopel. Perang Salib V memang tidak dimaksudkan untuk merebut Yerusalem, tetapi membasmi raja-raja Kristen yang dianggap menyebarkan bid’ah di kalangan penganut Nasrani.
Perang Salib VI terjadi antara tahun 1217 dan 1221 M. Sasaran utamanya ialah untuk menaklukkan Mesir. Mengapa? Sebab jika Mesir dapat ditaklukkan maka penaklukan Yerusalem akan menjadi lebih mudah. Namun sekali lagi tentara Salib gagal menghancurkan pasukan Islam. Pada tahun 1211 M kedua pihak yang berperang menandatangani perjanjian damai yang dikenal dengan nama Treaty of 1221 AD. Tetapi sayang perjanjian ini dilanggar tidak lama kemudian, sehingga beberapa peperangan skala kecil meletus secara berkala sampai akhirnya padam pada tahun 1270 M. Ketika itu seluruh wilayah kekhalifatan Abbasiyah, yang meliputi Iran, Iraq, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, dan sekitarnya telah dikuasai oleh penguasa Mongol keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan. Terhentinya Perang Salib itu dimanfaatkan oleh penguasa Kristen untuk membangun konspirasi dengan penguasa Mongol dalam rangka menghancurkan dunia Islam. Mereka menginginkan penguasa Mongol memeluk agama Kristen. Upaya ini pada mulanya berhasil, tetapi menjelang akhir abad ke-13 M penguasa dan bangsa Mongol memeluk agama Islam dan berbalik menjadi pelindung kebudayaan Islam.

Di lain hal kendati pasukan Salib mengalami kekalahan, mereka berhasil membawa pulang banyak khazanah Islam yang sangat berharga ke Eropa. Di antara khazanah itu ialah naskah dan buku-buku ilmu pengetahuan, filsafat, kesusastraan, dan kitab-kitab agama. Kitab-kitab itu dikaji dengan cermat dan yang dianggap penting diterjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Latin. Kegiatan tersebut dua abad kemudian melahirkan apa yang kita kenal sebagai Renaissance. Di lain hal justru pasca Perang Salib dan penaklukan bangsa Mongol itulah agama Islam kian tersebar menjangkau wilayah-wilayah yang jauh lebih luas yang pernah dicapai sebelumnya. Misalnya ke Afrika Barat dan pedalaman benua itu, serta India, kepulauan Nusantara dan Cina Selatan yaitu Yunan di Timur.

Senin, 29 April 2013

ISLAM,POETIKA AL-QUR'AN DAN SASTRA



ISLAM, POETIKA AL-QUR`AN DAN SASTRA (1) 
Oleh Muamar Anis


Sastra. Syuissimulakra. Jpg.

           Walaupun telah dinyatakan dengan jelas dalam surah al-Syu`ara namun nisbah Islam dengan sastra tetap saja sering diperdebatkan. Begitu pula walaupun karya bercorak Islam dijumpai dalam jumlah besar di negeri-negeri Islam, dan sebagian besar temanya berkaitan dengan  cabang-cabang ilmu Islam seperti ilmu fiqih, sejarah, tasawuf dan falsafah, tetapi kaitan karya-karya itu dengan Islam sering diragukan. Malahan tidak  sedikit di antara karya-karya itu merupakan hasil dari tafsir penulisnya menggunakan metode ta’wil  (hermeneutika kerohanian dan kesejarahan)terhadap ayat-ayat al-Qur`an, yang hasilnya kemudian ditransformasikan ke dalam ungkapan estetik sastra.

           Pandangan dan anggapan yang meragukan nisbah Islam dengan sastra, dan kesangsian bahwa terdapat sastra Islam dengan tema, corak pengucapan dan wawasan estetik serta pandangan dunia tersendiri, pada umumnya timbul untuk menafikan sumbangan Islam terhadap kebudayaan dan peradaban umat manusia. Sebagian lagi anggapan itu berkembang didasarkan semata-mata terhadap kurangnya perhatian orang Islam dewasa ini terhadap sastra dan tiadanya apresiasi di kalangan ulama, pemimpin dan cendekiawan Muslim.

            Namun demikian tidak dapat dinafikan sumbangan besar sastrawan Muslim sepanjang sejarahnya terhadap penyebaran agama Islam dalam wilayah yang luas dan di negeri-negeri yang latar belakang kebudayaan masyarakatnya berbeda-beda. Karya mereka tidak hanya berperan sebagai media dakwah dalam artian sempit, tetapi juga menjadi sarana pengajaran dan fundasi bagi kebudayaan kaum Muslimin. Melalui karya sastralah kesadaran sejarah dan penghayaan religius ditanamkan secara mendalam di lubuk  kalbu umat Islam, dan melalui karya sastra pula nilai-nilai, pandangan hidup dan gambaran dunia(weltanschaung) Islam disebarkan ke khalayak luas pemeluk Islam.

            Karena pentingnya  peranan dan fungsi sastra maka tidak mengherankan apabila dalam masa yang panjang karya sastra diapresiasi dan dihargai kalangan Muslim yang berpendidikan. Apalagi di antara penulisnya terdapat ulama, ahli tasawuf, wali dan cendekiawan yang begitu dihormati dalam masyarakat. Karena kedudukan sastra dan peranannya penting dalam perkembangan kebudayaan maka sastra dijadikan mata pelajaran utama di lembaga-lembaga pendidikan Islam. Tidak heran pula daripadanya lahir segolongan ulama dan cendekiawan yang kreatif dan prolifik di bidang penulisan serta mempunyai wawasan yang luas. Hanya dalam satu setengah abad terakhir ini sastra diabaikan di Dunia Islam bersamaan dengan penyempitan arti ulama sebagai ilmuwan untuk bidang fiqih dan usuluddin saja. Sejak itu tidak banyak lagi ulama dan ahli tasawuf rajin merawat dan mengasah kalam untuk penulisan karya kreatif.

            Di samping itu  sastra dan kajian sastra menduduki tempat penting oleh karena ia merupakan disiplin bantu utama dalam mengembangkan  ilmu Tafsir atau Tafsir al-Qur`an. Dan orang Islam yang benar-benar terdidik secara Islam tahu bahwa Tafsir merupakan asas dan induk ilmu-ilmu Islam yang lain. Tanpa semaraknya kajian filologi, poetika Arab, semantik, tatabahasa dan hermeneutik (ta'wil) pada awal tarikh Islam maka perkembangan ilmu Tafsir dan sejarah Islam mungkin akan sangat terhambat.

            Di luar kebudayaannya sendiri sastra Islam tidak sedikit sumbangannya terhadap kesusastraan Dunia. Sejak zaman Renaisan sampai awal abad ke-20 sastra Islam tidak henti-hentinya mempengaruhi perkembangan sastra Eropah. Di lain hal al-Qur`an, dengan gaya bahasanya yang indah, berhasil menyadarkan orang Islam akan pentingnya sastra dan ilmu bahasa serta seni dan poetika. Al-Qur`an penuh dengan hikmah dan kisah-kisah menarik yang setiap kali dapat dijadikan sumber ilham dan rujukan kreativitas sastra.  Dapat dikatakan bahwa sastra tidak mungkin berkembang dalam Islam tanpa disulut oleh semangat poetik dan estetik al-Qur`an.

            Peranan penting sastrawan dalam penyebaran agama Islam sangat banyak buktinya dalam sejarah. Sebagai contoh dapat dikemukakan di sini peranan penting sastrawan Muslim dalam menulis dan menyebarkan kisah Nabi Muhammad S.A.W. dan nabi-nabi Islam yang lain. Kisah-kisah itu dapat menarik perhatian masyarakat sebab disajikan dalam bentuk karya sastra dan membantu menumbuhkan kesadaran religius dan kesadaran sejarah umat Islam. Begitu pula halnya dengan penyebaran kisah para Sahabat, Wali dan pahlawan-pahlawan Islam terkemuka dalam sejarah, peranan sastrawan sangat menonjol. Para sastrawan pulalah yang berada di garda depan dalam mentransformasikan simbol-simbol al-Qur`an dan sejarah Islam menjadi simbol budaya masyarakat Muslim. Melalui simbol-simbol budaya itu umat Islam yang berbeda-beda etnik, bangsa dan latar belakang kebudayaan dapat dipersatukan secara batin yaitu dengan kesadaran budaya dan adab yang sama.

            Mengenai efektifnya penggunaan sastra, dalam hal ini syair dan seni lain seperti musik dan seni suara, cukuplah saya memberi contoh penyebaran Kasidah Burdah dan Kasidah Barzanji. Kedua untaian syair ini mengisahkan kehidupan dan perjuangan Nabi Muhammad S. A. W. selaku rasul Allah yang diturunkan sebagai rahmat bagi sekalian alam. Dua kasidah ini sangat populer sampai sekarang di lingkungan masyarakat Muslim di seluruh dunia dan dinyanyikan pada setiap perayaan Maulid Nabi Muhammad S.A.W. Cukup di sini kita kemukakan penjelasan Zainuddin al-Ma`bari, seorang ulama tasawuf  dan ahli sejarah terkenal pada abad ke-15 M. Dalam bukunya Tuhfat al-Mujahidin dia mengatakan bahwa keberhasilan dakwah Islam di India dan Asia Tenggara, khususnya Malabar, banyak dibantu oleh pembacaan kisah Nabi dengan cara memikat, yaitu melalui pembacaan syair yang dinyanyikan sepertiKasidah Burdah dan Kasidah Barzanji. 

            Khazanah sastra Islam sangat melimpah. Ia meliputi karya populer seperti Alf Layla wa Layla (Seribu Satu Malam), Hikayat Bayan Budiman dan Khalilah wa Dimnah sampai karya alegoris seperti Hayy Ibn Yaqzan karya Ibn Tufayl, Mantiq al-Tayr karya Fariduddin `Attar, Gulistan karya Sa`di, Matsnawi (Rumi), Syair Burung Pingai (Hamzah Fansuri), Javid-namah (Iqbal), Ahl al-Kahf (Tawfik el-Hakim)  dan lain-lain. Keanekaragaman corak dan jenisnya, serta  tema dan permasalahannya dari yang khusus sampai universal, hanya mungkin lahir dari rahim ajaran agama yang universal pula.

            Islam mengajarkan tanggungjawab individu dan kedudukan manusia sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, yang sekaligus juga hamba-Nya. Ini menumbuhkan kesadaran bahwa setiap karya sastra mesti dipertanggungjawabkan oleh masing-masing pengarang selaku pribadi, dan pertanggungjawaban itu termasuk isinya. Penulis memperoleh kebebasan yang luas dalam memilih tema dan bahan penulisan, serta bebas pula memilih aliran dan gaya pengucapan. Yang penting ia harus mempertanggungjawabkan bentuk ekspresinya itu secara estetik, dan kandungannya mesti dipertanggungjawabkan secara moral dan kultural. Dengan demikian sastra memperoleh otonomi, dalam arti bahwa walaupun sastra sebagai bidang kegiatan terkait dengan agama, namun bentuk dan gaya ucapnya harus berbeda dari karya bukan sastra.

Surah al-Syu’ara
            Sebagaimana ayat-ayat al-Qur`an yang lain, ayat-ayat yang berkaitan dengan kedudukan dan peranan penyair dalam surah al-Syu`ara, diturunkan dengan konteks filosofis dan moral atau sosiologis tertentu yang luas dan senantiasa relevan. Konteks tersebut sering tidak diperhatikan dan sering orang hanya membaca apa yang tersurat dalam ayat tersebut tanpa mencari iktibarnya secara lebih mendalam. Tidak sedikit pula yang berhenti pada ayat yang berisi laknatan terhadap penyair yang berjalan dari lembah ke lembah diikuti oleh orang-orang sesat, dan kemudian berpendapat bahwa  Islam tidak memberi banyak ruang bagi kegiatan penulisan sastra. Tetapi apabila kita mau memperhatikan ayat-ayat yang mendahului laknatan itu dan selanjutnya membaca ayat-ayat berikutnya yang merupakan penutup, kita akan dapat memahami lebih arif  dan jernih tentang peranan penting sastrawan atau penyair dalam Islam.

             Ayat-ayat yang mendahului laknatan terhadap penyair sesat menceritakan nasib yang menimpa kaum terdahulu, yaitu kaum Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Saleh, Nabi Luth, Nabi Syuaib dan lain-lain, yang menolak risalah agama Tauhid. Setelah memaparkan nasib yang menimpa kaum yang aniaya dan kufur itu, surah al-Syu`ara ditutup dengan delapan ayat sebagai berikut:

            Sesungguhnya Dia Maha Mendengar dan Mengetahui
            Apakah Aku memberi tahu kepadamu
            Kepada siapa setan-setan itu turun?
            Setan turun kepada setiap pendusta (ahli sihir)
            Yang dosanya sangat banyak.
            Mereka menghadapkan pendengaran mereka
            (Kepada setan) dan kebanyakan mereka itu pendusta.
            Dan (ingatlah!) penyair-penyair itu diikuti orang sesat
            Tidak kaulihat mereka berjalan dari lembah ke lembah
            (Tanpa tujuan jelas dan pendirian pasti)
            Mereka mengatakan apa yang tidak diperbuat.
            Kecuali orang-orang beriman, beramal saleh dan banyak berzikir.
            Mereka mendapat pertolongan setelah dizalimi
            Dan orang-orang yang zalim itu
            Tidak tahu akan ke mana mereka kembali (berpaling).

            Konteks sosiologis dan moral ayat di atas cukup jelas. Ketika ayat tersebut diturunkan profesi kepenyairan dalam masyarakat Arab, dan masyarakat pagan lain, sering bertalian dengan ilmu sihir. Cukup banyak penyair yang berperan sebagai pawang dan ahli sihir dan menulis mantera-mantera. Dalam kitabDala`il al-Ijaz karangan Abdul Qahir al-Jurjani, seorang ahli bahasa dan teoritikus sastra Arab abad ke-12 M, dibicarakan panjang lebar kaitan penyair dan profesi tukang sihir. Untuk memperkuat hujahnya al-Jurjani mengutip sabda Nabi yang maksudnya, “Sebagian puisi itu merupakan hikmah, dan sebagian lagi ialah sihir.”

            Peranan menonjol penyair yang lain ialah sebagai jurubicara kabilah. Syair-syair yang mereka tulis sebagian besar berkenaan dengan kehidupan di sekitar kabilah seperti peperangannya dengan kabilah lain, cinta penyair pada gadis-gadis  cantik yang dikenalnya di lingkungan kabilahnya  dan lain-lain Permusuhan kabilah yang satu dengan kabilah yang lain sudah pasti juga mengilhami penyair menulis sajak. Sajak yang ditulisnya sudah tentu pula membela kabilah dari mana penyair termasuk ke dalamnya dan tidak jarang sajak semacam itu sarat dengan ejekan dan penghinaan terhadap kabilah lain. Jenis sajak lain yang digemari ialah sajak cinta berahi yang tidak jarang mengarah ke pornografi, serta sajak khamriyah yaitu pemujaan berlebihan kepada arak atau anggur. Sering keindahan gelas anggur dan rasa nikmat anggur diumpamakan atau disamakan dengan kecantikan seorang gadis dan kenikmatan yang diperoleh dari mencintainya.
            Penyair-penyair seperti itulah yang dalam al-Qur`an dinyatakan “berjalan dari lembah ke lembah”. Al-Qur`an menolak peranan penyair seperti itu. Namun penyair yang beriman dan beramal saleh, banyak berzikir dan mempunyai simpati kemanusiaan yang luas, dikecualikan dari penolakan al-Qur`an. Pengaruh surah al-Syu`ara tidak kecil bagi perkembangan sastra Arab dan Persia, walaupun kecenderungan mengulang peranan penyair seperti pada zaman Jahiliyah selalu muncul dalam banyak babakan sejarah kesusastraan Arab dan Persia. Terutama pada masa timbulnya krisis politik, yang diikuti dengan timbulnya degradasi moral. Tidak jarang hal itu terulang justru ketika masyarakat Muslim sedang menikmati kemakmuran yang berlimpah, yang segera diikuti dengan menjangkitnya hedonisme dan materialisme.


            Kembali ke ayat-ayat dalam surah al-Syu`ara. Merujuk kepada ayat-ayat tersebut para penulis Muslim memandang kreativitas sastra sebagai bagian daripada ibadah. Ahli Hadis terkemuka al-Suyuti misalnya mengutip sebuah Hadis berbunyi, “Sesungguhnya Allah menjadikan puisi yang sejati sebagai sarana ibadah dan orang-orang zalim menjadikannya sebagai sarana untuk mendatangkan bencana bagi orang lain.”

            Hendaklah dicatat bahwa sebelum agama Islam muncul di tanah Arab, kesusastraan, khususnya puisi, telah berkembang pesat di lingkungan masyarakat padang pasir. Walaupun sebagai bangsa pengembara mereka jarang menuliskan karya para penyairnya, namun tidak berarti mereka tidak mengenal budaya tulis. Malahan karya para penyair terkemuka yang dianggap penting ditulis pada lembar kain yang bagus dengan tinta emas, kemudian menggantungkannya di dinding Ka`bah. Puisi-puisi yang digantung di dinding Ka`bah itu disebut mu`allaqat dan bentuk sajaknya ialah qasidah (puji-pujian). Di antara penulis mu`allaqat terkenal ialah Imrul Qais.

            Tradisi lama ini membekali bangsa Arab untuk mencintai dan melahirkan karya-karya yang bermutu tinggi, dan mengandung kesadaran baru, pada zaman datangnya Islam. Pada zaman Islam bukan lagi kemontokan tubuh gadis cantik yang dipuji, dan juga bukan cuma rasa kesukuan yang sempit. Puji-pujian kini ditujukan kepada pribadi Rasulullah. Ini melahirkan genre yang disebut al-mada`ih al-nabawiyah atauna`tiyah (pujian) dalam bahasa Persia. Sedangkan mengenai kepahlawanan yang menerima pujian ialah kepahlawanan membela risalah agama yang benar, membela kaum yang dianiaya dan ditindas, menegakkan simpati kemanusiaan dalam arti luas.
            Pada zaman Islam, sesuai dengan perkembangan masyarakat madani yang dibangun Nabi di Medinah sestelah hijrah, penulisan karya sastra mulai berkembang. Di antara pelopornya ialah Ali bin Abi Thalib, yang  kothbah-khotbah dan wejangan-wejangannya dituturkan dalam bahasa sastra yang indah, dan dihimpun dalam kitab bermutu sastra Nahj al-Balaghah. Ali bin Abi Thalib juga dapat dikatakan sebagai pelopor penulisan sajak bernafaskan Islam.

            Bahwa sastra diberi kedudukan penting dalam Islam tersirat dalam Hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari, “Sebaik-baik penyair ialah Labid yang berkeyakinan bahwa segala sesuatu lenyap selain Allah S.W.T.” Bersama-sama Kaab, Labid ialah pelopor penulisan sajak-sajak pujian kepada Nabi.

            Kecintaan masyarakat Muslim pada sastra juga berkaitan dengan kegairahan mengkaji bahasa dan nilai sastra al-Qur`an. Wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi (surah al-`Alaq) dimulai dengan seruan “Baca!” (Iqra’), yaitu menyimak wacana dengan pemahaman yang mendalam sehingga daripadanya lahir pengetahuan dan wawasan budaya yang luas, juga mendorong perkembangan budaya baca tulis. Lagi pula al-Qur`an memandang tinggi hasil perbuatan kalam (pena). Malahan al-Qur`an memandang alam semesta sebagai kitab agung, sebuah karya sastra yang maha indah, yang ditulis oleh Sang Maha Pencipta di atas lembaran yang terpelihara (al-lawh al-mahfudz).

            Pada periode selanjutnya, khususnya sejak abad ke-10 dan 11 M bersamaan dengan maraknya studi terhadap falsafah Yunani dan kebangkitan sastra Persia, perkembangan sastra  bertambah subur lagi. Pendorongnya ialah kegairahan mengkaji sastra di kalangan ilmuwan dan fislosof dan munculnya berbagai teori sastra yang inspiratif bagi penciptaan. Di antara filosof dan ahli teori sastra terkemuka yang telah memberi sumbangan besar dalam teori dan kajian sastra ialah al-Farabi, Ibn Sina, Qudamah, Abdul Qahir al-Jurjani, al-Baqillani dan lain-lain. Dalam teori mereka dikemukakan pentingnya imaginasi (takhyil) dalam penciptaan karya seni. Mereka juga menemukan bahwa kekuatan bahasa al-Qur`an disebabkan banyak ayat-ayatnya menggunakan bahasa figuratif (majaz), citraan visual (tamtsil), pengucapan simbolik (mitsal) dan metafora (isti`ara).
Sejak abad ke-13 M pembahasan teoritis tentang sastra dilanjutkan oleh para penulis Sufi. Para sufi seperti Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi dan Rumi menambahkan teori tentang alam imaginal (`alam al-mitsal) sebagai landasan konseptual penciptaan realitas imaginer dalam karya sastra. Alam imaginal ini, dalam kehidupan spiritual manusia, berperan sebagai penghubung alam nyata (`alam al-syahadah) dan alam kerohanian/ transendental (`alam al-malakut).

            Salah satu hal paling signifikan yang menandakan pembaharuan dalam sastra ialah dikaitkannya sastra dengan adab, terutama pada zaman pemerintahan Bani Abbasiyah di Baghdad (750-1258 M). Bahkan di masa kemudian sastra diidentikkan dengan adab, seorang penulis karya sastra disebut al-adib. Dalam kesusastraan Melayu Islam karya-karya yang disebut sastra adab ialah semua karangan berkenaan dengan etika, sosial politik, hukum, pemerintahan dan ketatanegaraan.

Sumbangan dan Pengaruh
Sumbangan penulis Muslim terhadap kesusastraan dunia, sebagaimana sumbangan penulis Timur lain khususnya India, ialah dalam penciptaan karya bercorak adab. Sumbangan lain ialah dalam karya bercorak falsafah dan tasawuf (sufistik), kisah perumpamaan binatang (fabel) dan cerita berbingkai. Fabel dan cerita berbingkai karya penulis Muslim paling masyhur di seluruh dunia ialah Khalilah wa Dimnah dan Hikayat Seribu Satu Malam, yang di Eropah dikenal dengan sebutan Arabian Nights. Walaupun karya-karya ini dihasilkan pada zaman puncak peradaban Islam antara abad ke-10-13 M, tidak berarti bahwa kreativitas penulis Muslim berhenti sampai pada abad ke-13 M.


            Besarnya sumbangan penulis Muslim tidak hanya terlihat pada transformasi besar-besaran kebudayaan masyarakat Asia di sebelah Timur, seperti Pakistan dan Indonesia, yang sebelumnya memeluk agama Hindu dan Buddha. Tetapi juga karena tidak sedikit karya penulis Muslim itu mempengaruhi penulis-penulis Eropah, sejak zaman Renaissan sampai abad ke-20 M. Melalui terjemahan dalam bahasa Eropah pulalah karya-karya penulis Muslim dikenal di seluruh dunia.

            Sayang sekali kenyataan di atas, yaitu pengaruh kesusastraan Islam terhadap kesusastraan Eropah, sering ditutup-tutupi oleh penulis sejarah modern. Sebagai contoh bahwa pengaruh itu sangat besar terlihat pada hubungan puisi-puisi Spanyol sejak abad ke14 dan 15 M dengan puisi Arab Andalusia abad ke-12 dan 13 M.  Melalui saluran kesusastraan Spanyol pengaruh tersebut merembes ke benua Eropah yang lain. Ini antara lain dikemukakan oleh dua sarjana Jerman terkemuka abad ke-19 M yaitu von Hammer Purgstall dan Baron von Schakle.

            Dalam bukunya setebal 6 jilid Literature Geschichte der Araber (1850-6) Purgstall menyatakan bahwa karya Arab yang sangat mempengaruhi penulis Eropah ialah Maqamat karya al-Harizi (w. 1121 M). Dalam sastra Spanyol maqamat diterjemahkan menjadi picaro. Picaro yang terkenal ialah Et Cavarello Cifardan Ribaldo. Karya Spanyol lain yang diilhami karya Muslim Arab ialah Don Kisot karangan Cervanthes (1547-1616 M). Pascott dalam bukunya History of  Ferdinand Isabella (1837) menyatakan bahwa novel tersebut disadur dari karya seorang sejarawan Arab abad ke-13 Said Hamid bin Anjili. Sedangkan von Schakle dalam bukunya Arabic Poetry in Andalusia and Sicily (1800) membicarakan pengaruh puisri Arab terhadap puisi-puisi Spanyol dan Perancis. Tradisi puisi yang dinyanyikan para troubadur, penyanyi pengembara, berasal dari tradisi Arab yang masuk ke Perancis pada tahun 1100 M melalui Sepanyol. Katatroubadur berasal dari kata Arab tharaba yang artinya menyanyi.

            Pengaruh sastra Islam di Jerman nampak pada Gerakan Ketimuran (Oriental) dan Weltliterature (Sastra Dunia), dua gerakan sastra penting  pada awal abad ke-19. Gerakan ini muncul bersamaan dengan maraknya penerjamahan karya-karya Timur ke dalam berbagai bahasa Eropah. Pelopor gerakan itu antara lain  Goethe dan Schiller. Salah satu karya Goethe yang dipengaruhi karya Islam ialah West-oestlicher Divan(1819).  Gaya dan tema sajak-sajak Goethe dalam antologinya ini sangat mirip dengan gaya dan tema puisi Hafiz, penyair Persia abad ke14 M yang sangat dikagumi Timur Leng. Menurut Purgstall karya Goethe itu merupakan salah satu karya Eropah tentang Timur yang paling menarik. Bentuknya merupakan dialog dalam lirik seperti misalnya nampak dalam percakapan antara Hatim dan Zuleicha. Judul-judul sajaknya juga bercorak Persia, antara lain “Mughanni-namah”, “Hijrah” dan lain-lain. Salah satu sajak Goethe yang melukiskan kepribadian Nabi Muhammad ialah “Mahometgesang” (Nyanyian Muhammad).

           Penulis Jerman lain yang dipengaruhi sastra Islam ialah August Graft van Platen. Dua karya Islamnya yang terkenal ialah Abbasiah dan Al-Ghazali. Bukan tidak mungkin Also Spracht Zarathustra, karya Nietzsche (w. 1900) yang tokohnya nabi orang Persia, dipengaruhi gaya al-Hallaj.  Episode-episode yang menyajikan penampilan Zarathustra di pasar dan lain-lain dalam menyampaikan ajarannya tentang Uebermensch (manusia unggul) sangat mirip dengan cerita tentang penampilan al-Hallaj dalam menyampaikan ajaran tasawufnya di kota Baghdad pada abad ke-10 M sebagaimana dipaparkan dalam Kitab Akhbar al-Hallaj.

          Adapun pengaruh sastra Islam di Perancis tampak dalam karya Gerard de Navel, Gautier dan Victor Hugo.  Di Inggeris itu pengaruh itu nampak dalam gerakan romantik. Seorang pelopor romantisme Inggeris P. B. Shelley malahan menulis karya yang kontroversial berjudul Revolt of Islam (1827). Penyair Irlandia abad ke-19 Edward Fitzgerald menjadi masyhur karena menyadur dan menerbitkan Rubaiyat Umar al-Khayami (Omar Khayyam), penyair dan ahli astronomi Persia abad ke-12 M.

            Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 M kian banyak sarjana Eropah mengakui besarnya pengaruh kesusastraan Islam kepada penulis-penulis Eropah. Di antara buku penting tentang hal itu yang dapat disebut di sini ialah buku-buku karangan Juan Ribera, Martin von Hartmann, A. R. Nykl dan Ramon Menendez Pidal. Bahwa pengaruh puisi Arab kepada puisi Spanyol sangat besar, dapat dibaca misalnya dalam buku Pidal berjudul Arabic Poetry and European Poetry (1938).

            H. A. R. Gibb dalam bukunya Arabic Literature (1926) menyatakan bahwa sejak diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa Eropah pada pertengahan abad ke-19 sampai awal abad ke-20, Alf Layla wa Laylamengalami cetak ulang 300 kali dalam masing-masing bahasa. Salah satu karya penting Eropah yang dipengaruhi cerita berbingkai itu ialah Die Karavans (1828) karangan Wilhelm Hauft. Menurut Gibb sastra Eropah mencapai bentuknya yang matang dan mendapat jiwa baru yang dinamik setelah berinteraksi dengan sastra Islam.
            Pengaruh sastra Islam terhadap penulis Eropah secara lebih luas dan panjang lebar lagi diuraikan dalam buku yang disusun Tim Komisi Nasional Mesir untuk Unesco berjudul Islamic and Arabic Contribution to the European Renaissance (1981) dan karangan Luce Lopez-Barali berjudul Islam and Spanish Literature(1992). Melalui karya kedua sarjana ini kita mengetahui besarnya peranan dan sumbangan penulis Muslim Spanyol, walaupun pada awal abad ke-13 kekhalifatan Muslim Andalusia mengalami keruntuhan.  Tidak mengherankan jika al-Harizi,  penyair Persia yang tinggal di Baghdad pada awal abad ke-13, menyatakan pujiannya terhadap penulis Muslim Spanyol:

            Ketahuilah, sajak bermutu tinggi
            Diuntai bagai kalung permata
            Dan tidak disarati emas sepuhan,
            Muncul di Andalusia, dan dari sana
            Tersebar ke seluruh dunia
            Sajak putra-putri Andalusia kuat dan indah
            Seakan ukiran nyala api berkilauan
            Dibandingkan dengan karya mereka
            Karya penyair negeri lain lembek seperti wanita.

                        (Diterjemahkan dari buku Luce Lopez-Baralt)

            Luce Lopez Baralt memberi contoh menarik. Karya mistikal St John of the Cross (abad ke-15) “Burung Sebatang Kara” sangat jelas dipengaruhi puisi-puisi penulis Muslim abad ke-12 seperti Sana`i, Ibn Sina, Suhrawardi al-Maqtul dan `Attar. Kitab uraian mistikisme Kristen karangan St Theresa dari Avilla, yaitu Moradas des Castillo (Puri Kerohanian) mendapatkan ilham dari karya penulis Sufi Persia seperti Ahmad al-Ghazali, adik kandung al-Ghazali, Nizami dan lain-lain. Ini dikemukakan antara lain oleh M. A. Palacious dalam bukunya The Figure of the Castles and Dwellings of the Soul in Islamic Mysticism and St Theresa (1946).

            Contoh karya penulis Muslim yang berpengaruh di Eropah ialah Hayy ibn Yaqzan salah satu Buku yang sering saya baca pada waktu di Toko Amanah Syuis karya Ibn Tufayl, seorang sastrawan-filosof Muslim Spanyol abad ke-12 M. Sarjana-sarjana sastra Spanyol seperti Menendez Pelayo mengatakan bahwa karya Ibn Tufayl merupakan karya Arab terbesar, orisinal dan sekaligus unik. Ia juga merupakan science fiction pertama di dunia dalam arti sebenarnya. Sejak novel itu diterbitkan sampai abad ke-17 M, ia telah diterjemahkan ke dalam bahasa Ibrani dan Italia, dan pada abad ke-18 M mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Spanyol, Jerman, Inggeris, Perancis dan Belanda. Karya-karya Eropah yang dipengaruhi Hayy bin Yaqzan antara lain El Criticon (Sang Kritikus) karya Baltazar Gracius yang terbit pada tahun 1651 M, kemudian Robinson Cruso karya Daniel Defoe, Jungle Book karya Rudyard Kipling dan Tarzankarya Jonathan Swift.
          
Dalam Anthology of Islamic Literature (1964) James Kritzchek mengatakan bahwa Hayy ibn Yaqzanmemang merupakan karya masterpiece Islam. Ia diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris beberapa tahun sebelum Daniel Defoe menulis Robinson Crusoe. Karya Islam lain yang berpengaruh di Barat ialah Khalilah wa Dimnah (Ibn al-Muqaffa`), Alf Layla wa Layla (Seribu Satu Malam), Mantiq al-Tayr (`Attar), Hikayat Isra` Mi`raj (Bayazid Bistami), Matsnawi (Rumi), Haft Paykar (Nizami), Diwan (Hafiz),  Ruba`iyat (Umar al
Khayyami), Bustan dan Gulistan (Sa`di) dan lain-lain. Karya Eropah yang dipengaruhi Hikayat Isra` Mikrajialah Divina Comedia (Dante). Adegan penerbangan Faust dan
Mephistopeles dalam drama puisi  karangan Goethe, yaitu Faust I dan Faust II    jelas
mengingatkan kita pada penerbangan Aladin dan jin Ifrit dalam Alf Layla wa Layla.



Sa'di, penyair sufi Persia abad ke-12-13 M. Mausoleumnya di kota kelahirannya Shiraz sampai kini jadi pusat kunjungan wisata yang ramai.

ISLAM DAN DAMPAK KEHADIRANNYA DI NUSANTARA

DARIMANA ISLAM DATANG DAN SIAPA PENYEBAR UTAMANYA?  Oleh:Muamar Anis Agama Islam telah hadir di Nusantara selambat-lambatnya pada abad ke-8 ...